Prof. Arif Satria: Terobosan Varietas Tanaman UMI Membuka Peluang Besar bagi Kemandirian Pangan Nasional
MAKASSAR, umi.ac.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, menyampaikan apresiasi terhadap capaian riset Universitas Muslim Indonesia (UMI), khususnya pengembangan varietas tanaman baru yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung agenda kemandirian pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Arif Satria saat menjadi pembicara utama pada International Conference Pascasarjana UMI 2026 yang berlangsung di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia, Senin (8/6/2026). Forum internasional tersebut dihadiri akademisi, peneliti, praktisi, pimpinan perguruan tinggi, mitra industri, serta peserta dari berbagai negara.
Menurut Prof. Arif Satria, Indonesia membutuhkan semakin banyak inovasi berbasis riset yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk dalam sektor pangan yang menjadi salah satu prioritas strategis pembangunan nasional.
“Terobosan varietas tanaman yang dikembangkan oleh peneliti Universitas Muslim Indonesia merupakan langkah yang sangat positif. Inovasi seperti ini membuka peluang besar bagi penguatan kemandirian pangan nasional sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Arif Satria.
Ia menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan pengetahuan yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah melalui riset yang aplikatif dan berdampak.
“UMI memiliki peluang besar untuk menjadi pusat kolaborasi ilmu pengetahuan di kawasan Indonesia Timur dengan memperkuat budaya riset, memperluas jejaring internasional, dan mengembangkan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa penguatan budaya riset dan inovasi merupakan salah satu prioritas utama pengembangan UMI dalam menyongsong masa depan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif dan dinamis.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang kompeten atau publikasi ilmiah yang banyak, tetapi harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“UMI tidak ingin hanya menjadi penghasil ijazah. UMI ingin menjadi penghasil solusi. Ukuran keberhasilan universitas bukan hanya jumlah lulusan atau publikasi, tetapi sejauh mana ilmu pengetahuan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat,” tegas Prof. Hambali.
Memasuki usia ke-72 tahun, UMI terus memperkuat transformasi sebagai perguruan tinggi yang adaptif, inovatif, dan berdampak melalui pengembangan riset, hilirisasi inovasi, kolaborasi internasional, serta percepatan transformasi digital kampus.
Hingga Juni 2026, UMI telah mencatat berbagai capaian penting dalam bidang kekayaan intelektual dan inovasi, di antaranya:
* 85 permohonan paten,
* 45 paten granted,
* 511 hak cipta terdaftar,
* 2 merek terdaftar,
* serta 1 Perlindungan Varietas Tanaman yang saat ini memasuki tahap pelepasan varietas.
Bagi Prof. Hambali, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator tumbuhnya budaya inovasi di lingkungan kampus.
“Paten yang baik bukanlah paten yang tersimpan di lemari. Paten yang baik adalah paten yang bekerja, digunakan, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kami terus mendorong agar hasil-hasil penelitian UMI dapat berkembang menjadi teknologi tepat guna, produk inovatif, perusahaan rintisan berbasis kampus, maupun solusi yang menjawab kebutuhan bangsa,” ujarnya.
Sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan Indonesia Timur, UMI juga menjadikan berbagai potensi wilayah timur Indonesia sebagai basis pengembangan inovasi masa depan, mulai dari sektor kelautan, biodiversitas tropis, pangan, energi hijau, industri halal, ekonomi syariah, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Dalam forum tersebut, UMI juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi strategis bersama BRIN pada berbagai bidang prioritas nasional, termasuk pengembangan pusat riset halal, teknologi kelautan, pangan tropis, energi terbarukan, transformasi digital, serta penguatan ekosistem inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.
Rektor UMI bahkan menawarkan gagasan besar menjadikan kampus sebagai Living Laboratory Indonesia Timur, yaitu ruang kolaboratif yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, nilai-nilai keislaman, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Selain menjadi forum ilmiah internasional, International Conference Pascasarjana UMI 2026 merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia, yang tahun ini mengusung semangat memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan umat.
Konferensi tersebut menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Malaysia, India, Belanda, Spanyol, dan Indonesia, sekaligus menjadi momentum penting memperluas jejaring akademik global UMI.
Menutup sambutannya, Prof. Hambali Thalib menegaskan bahwa masa depan perguruan tinggi akan ditentukan oleh kemampuannya membaca perubahan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Jika BRIN adalah lokomotif riset nasional, maka UMI siap menjadi salah satu gerbong inovasi Indonesia Timur yang bergerak pada rel yang sama, yaitu menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi kemajuan bangsa, kemanusiaan, dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Melalui International Conference Pascasarjana 2026, UMI kembali menegaskan posisinya sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta Kampus Bereputasi dan Berdampak yang terus memperluas kolaborasi global untuk melahirkan riset, inovasi, dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
(HUMAS)