Makassar, umi.ac.id – Pekan Pesantren Virtual Mahasiswa Baru (Maba) Universitas Muslim Indonesia (UMI) telah memasuki angkatan ke VII tahun akademik 2021/2022, Selasa 24 Agustus (2021).

Pekan pesantren kilat yang merupakan tradisi UMI dalam menyambut mahasiswa baru di kampus ini berlangsung sejak pekan lalu ini berlangsung dengan baik dan lancar dengan protokol kesehatan yang ketat.

Untuk angkatan ke VII, peserta pekan pesantren Maba UMI berjumlah 500 orang yang berasal dari 13 Fakultas dalam lingkup UMI. Setiap fakultas memiliki delegasi 1 orang untuk mengikuti rangkaian pesantren secara luring di Masjid Umar Bin Khatab Kampus II UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Rektor UMI, Prof Dr. H Basri Modding, S.E, M.Si dalam rapat senat terbuka luar biasa dengan agenda tunggal pesantren virtual.

Setelah rangkaian acara pembukaan, peserta disuguhkan materi tentang ‘Dampak Penyalahgunaan Narkoba bagi Mahasiswa’ yang dibawakan Anas Kaharuddin, S.Sos, Sub Koordinator Pemberdayaan Masyarakat BNN Sulsel.

“Belakangan ini, kasus Narkoba di Sulsel justru mengalami peningkatan. Kalau dulunya kita (Sulsel) hanya menemukan kasus pengguna dan pengedar, sekarang justru sudah ada produsen Sinte atau tembakau Gorilla. Nah di Sulsel ini sudah ada yang memproduksinya,” papar Anas.

“Untuk menekan jumlah kasus itu dan melakukan upaya pencegahan, BNN tidak bisa melakukannya sendiri. Mesti melibatkan semua pihak seperti UMI yang selalu mengajarkan tentang pendidikan moral kepada mahasiswanya,” sambung Anas Kaharuddin.

Sementara itu, WR III UMI Dr. Nasrullah, MH, mewakili Rektor UMI dalam sambutannya di acara penutupan memotivasi para mahasiswa baru agar merubah cara berpikirnya saat telah berstatus sebagai mahasiswa, khususnya mahasiswa UMI

“Sebagai mahasiswa UMI, ada dua kualitas yang harus ananda ingat dan tanamkan dalam hati. Pertama kalian harus berkualitas dari segi Ilmu dan kedua berkualitas dari segi akhlaq. Hal ini merupakan ciri khas sebagai mahasiswa UMI yang merupakan lembaga pendidikan dan dakwah,” jelas Akademisi Fakultas Hukum (FH) UMI ini.

Menurut Nasrullah Arsyad, mahasiswa UMI tidak hanya dididik dari segi keilmuan untuk disiplinnya masing-masing, namun juga dibekali dengan pendidikan karakter yang matang seperti yang dilakukan dengan penyambutan mahasiswa baru saat ini dengan pekan pesantren.

“Ananda harus lebih inovatif. Ananda harus menjadi The Best of Analysis. Bersikap kritis melihat perubahan zaman. Itulah yang dinamakan mahasiswa UMI sesungguhnya. Namun ingat, akhlaq tetap diutamakan dalam setiap bersikap,” tegas mantan Legislator DPRD Sulsel tersebut.

(HUMAS)