International General Lecture Perkuat Wawasan Mahasiswa tentang Keselamatan Industri Pertambangan Berstandar Global
Makassar, umi.ac.id — Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali mempertegas komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki perspektif global, kompetensi profesional, dan kesiapan menghadapi tantangan dunia industri masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan International General Lecture bertema “Occupational Health and Safety (OHS) Risks in the Open Pit Mining Industry (Pit-to-Port)” yang berlangsung di Aula KH. Muhammad Ramly UMI, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan internasional ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dan reputasi di bidang keselamatan kerja dan industri pertambangan, yakni Assoc. Prof. Omar Hassouna dari Alfa University College serta praktisi industri pertambangan nasional Ir. Firman Nullah Yusuf.
Kuliah umum internasional tersebut diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi dari berbagai bidang teknik dengan antusiasme yang tinggi. Selain menjadi ruang berbagi ilmu dan pengalaman global, kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring internasional FTI UMI.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Teknologi Industri UMI dan Alfa University College sebagai bentuk penguatan kerja sama internasional di bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Dekan Fakultas Teknologi Industri UMI, Prof. Dr. Ir. Andi Suryanto, menegaskan bahwa dunia industri saat ini membutuhkan lulusan teknik yang tidak hanya menguasai aspek teknologi, tetapi juga memahami pentingnya keselamatan kerja sebagai bagian dari profesionalisme seorang insinyur.
“FTI UMI menghadirkan pakar internasional dan membangun kolaborasi global untuk menyiapkan insinyur masa depan. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa kemampuan teknis dan keselamatan kerja harus berjalan beriringan. Dunia industri saat ini membutuhkan profesional yang cerdas, adaptif, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan serta keberlanjutan,” ujarnya.
Menurut Prof. Andi Suryanto, keselamatan dan kesehatan kerja saat ini telah menjadi salah satu indikator utama keberhasilan industri modern. Karena itu, mahasiswa teknik harus diperkenalkan sejak dini pada standar keselamatan global agar siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Mahasiswa teknik harus pintar bekerja dan pintar menjaga keselamatan. Sebab teknologi yang hebat tidak akan berarti jika keselamatan manusia diabaikan. Itulah mengapa budaya keselamatan harus menjadi bagian dari karakter seorang insinyur sejak berada di bangku kuliah,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Omar Hassouna menjelaskan bahwa risiko keselamatan kerja pada industri pertambangan terbuka tidak hanya berada pada lokasi produksi, tetapi mencakup seluruh rantai operasi mulai dari area tambang hingga proses distribusi menuju pelabuhan (pit-to-port).
Menurutnya, pendekatan keselamatan modern harus dilakukan secara sistemik dan terintegrasi dengan memanfaatkan teknologi digital, pemantauan real-time, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
“Industri pertambangan modern harus melihat keselamatan sebagai bagian dari sistem yang menyeluruh. Risiko dapat muncul di setiap tahapan operasi. Karena itu, budaya keselamatan yang kuat dan dukungan teknologi menjadi kunci untuk mencapai operasi yang aman dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Ir. Firman Nullah Yusuf mengulas berbagai tantangan implementasi keselamatan kerja di sektor pertambangan Indonesia yang memiliki karakteristik geografis dan operasional yang sangat beragam.
Menurutnya, keberhasilan penerapan keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada teknologi dan regulasi, tetapi juga pada perilaku manusia dan budaya kerja yang dibangun secara konsisten.
“Keselamatan bukan hanya tentang prosedur, tetapi tentang kebiasaan dan budaya kerja. Ketika teknologi, regulasi, dan perilaku kerja yang aman berjalan bersama, maka produktivitas dan keselamatan akan tumbuh secara seimbang,” ungkapnya.
Kuliah umum yang dimoderatori oleh Ir. Sitti Ratmi Nurwaisyah berlangsung interaktif dengan berbagai diskusi menarik mengenai mitigasi risiko, pemanfaatan teknologi digital dalam keselamatan kerja, pengelolaan rantai logistik pertambangan, hingga implementasi konsep zero accident di era industri modern.
Bagi mahasiswa FTI UMI, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berharga karena memperoleh wawasan langsung dari akademisi dan praktisi yang terlibat dalam pengembangan sistem keselamatan industri di tingkat internasional.
Sejalan dengan transformasi UMI menuju kampus yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri, FTI UMI terus memperluas kolaborasi internasional, memperkuat pembelajaran berbasis industri, serta menghadirkan berbagai program akademik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.
Melalui kegiatan ini, FTI UMI kembali menunjukkan perannya sebagai fakultas yang aktif membangun konektivitas global, memperkuat kompetensi mahasiswa, dan menyiapkan generasi insinyur yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan manusia, lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan.
Karena bagi UMI, pendidikan teknik bukan hanya tentang menciptakan teknologi
Pendidikan teknik adalah tentang menyiapkan manusia yang mampu membangun masa depan dengan aman, cerdas, dan bertanggung jawab. Universitas Muslim Indonesia adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak.