Makassar, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menorehkan Kemewahan Intelektual pada bulan suci Ramadan 1447 H. Dua akademisi terbaiknya akan dikukuhkan sebagai Guru Besar, memperkuat posisi UMI sebagai perguruan tinggi terakreditasi Unggul pertama di luar Jawa dan PTS dengan jumlah Guru Besar terbanyak di Indonesia.
Dua dosen yang akan dikukuhkan adalah Prof. Dr. H. Amir Mahmud, S.E., M.Si., M.Ak. dan Prof. Dr. H. M. Adnan Lira, S.H., M.H. Keduanya telah menerima Surat Keputusan (SK) Jabatan Akademik Guru Besar dalam seremoni resmi di Aula LLDIKTI Wilayah IX, Senin (9/2).
SK tersebut diserahkan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Andi Lukman, M.Si., kepada Rektor UMI yang diwakili oleh Wakil Rektor V, Prof. Dr. Ir. H. M. Hattah Fattah, M.S.
Dengan tambahan ini, UMI kini genap memiliki 118 Profesor, menjadikannya salah satu episentrum intelektual terbesar di Kawasan Timur Indonesia.

Guru Besar: Simbol Tanggung Jawab Peradaban
Dalam sambutannya, Dr. Andi Lukman menegaskan bahwa jabatan Guru Besar bukan sekadar capaian administratif, melainkan indikator kualitas sumber daya manusia dan kekuatan ekosistem akademik perguruan tinggi.
Sementara itu, Wakil Rektor V UMI, Prof. Hattah Fattah, menegaskan bahwa bertambahnya Profesor ke-117 dan ke-118 bukan sekadar angka statistik.
“Ini adalah penguatan tanggung jawab akademik. Setiap Guru Besar adalah poros ilmu, pusat keteladanan, dan penjaga marwah kampus,” ujarnya.
Rektor UMI: “Profesor adalah Amanah Peradaban”
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., pada kesempatan terpisah menyampaikan pesan reflektif yang kuat dan visioner.
“Bertambahnya Guru Besar di UMI bukan semata kebanggaan institusi. Ini adalah amanah. Profesor adalah penjaga arah ilmu, penjaga nilai, dan penuntun akhlak akademik. Ilmunya harus mencerahkan, sikapnya menenangkan, dan karyanya membawa maslahat,” tegas Rektor.
Rektor mengaitkan momentum pengukuhan di bulan Ramadan dengan kedalaman spiritualitas keilmuan. Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Menurut Rektor, ayat ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar prestasi, tetapi derajat tanggung jawab.
“Ramadan adalah bulan penyucian niat. Pengukuhan Guru Besar di bulan ini menjadi penegasan bahwa jabatan akademik tertinggi harus dilandasi keikhlasan, integritas, dan orientasi maslahat. Profesor bukan hanya cerdas pikirannya, tetapi jernih hatinya,” tambahnya.
Beliau juga mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
“Ilmu yang tidak memberi manfaat hanyalah kebisingan intelektual. Guru Besar UMI harus menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar gelar yang disebut,” lanjut Rektor.

Menguatkan Ekosistem Catur Dharma dan Kampus Digital
Pengukuhan dua Guru Besar ini menjadi bagian dari transformasi besar UMI dalam memperkuat Catur Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan dakwah Islamiyah.
Sebagai kampus ilmu dan ibadah, UMI terus membangun arsitektur keilmuan berbasis riset berkelanjutan, publikasi bereputasi, kolaborasi internasional, serta digitalisasi tata kelola akademik.
Dengan 118 Profesor, UMI menegaskan dirinya sebagai simpul kepakaran nasional yang tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi membentuk penjaga nilai dan pembangun peradaban.
Pengukuhan dua Guru Besar di bulan Ramadan ini bukan hanya peristiwa akademik, melainkan momentum spiritual dan intelektual, bahwa ilmu adalah cahaya, dan Profesor adalah penjaga nyalanya.
(HUMAS)
