Prof. Brian Yuliarto: Perguruan Tinggi Harus Menjadi Motor Inovasi dan Pencetak SDM Unggul
BANDUNG, umi.ac.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan pendidikan tinggi nasional dengan menghadiri Rapat Persiapan Penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Lantai 17 UNIKOM Smart Building, Bandung, Jawa Barat, 14–15 Juni 2026.
Kehadiran UMI dipimpin langsung oleh Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, S.E., M.Si., Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., serta Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H.
Forum yang dihadiri pimpinan perguruan tinggi swasta dari seluruh Indonesia tersebut menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menyelaraskan arah kebijakan organisasi sekaligus merumuskan agenda strategis Rakernas APTISI Tahun 2026 yang akan dilaksanakan pada Agustus mendatang.
Dalam arahannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam membangun masa depan bangsa melalui penguatan inovasi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak inovasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pencetak sumber daya manusia unggul. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global,” tegasnya.
Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Mansyur Ramly, menilai bahwa perguruan tinggi swasta saat ini dituntut semakin adaptif terhadap perubahan dan mampu menghadirkan tata kelola yang kuat serta relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurutnya, perguruan tinggi swasta memiliki posisi yang sangat strategis dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
“Peningkatan mutu akademik, tata kelola yang adaptif, penguatan jejaring kerja sama, serta kemampuan membaca perubahan merupakan agenda bersama yang harus terus diperkuat oleh seluruh perguruan tinggi swasta di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Masrurah Mokhtar, menegaskan bahwa kolaborasi internasional menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat global.
“Transformasi pendidikan tinggi membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas disiplin ilmu, dan lintas sektor. Melalui kemitraan yang kuat, perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi yang berdampak, penelitian yang bermanfaat, dan lulusan yang siap berkompetisi di tingkat internasional,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, berbagai agenda strategis dibahas, mulai dari kerangka pelaksanaan Rakernas APTISI, persiapan teknis kegiatan, penguatan organisasi, hingga pembahasan berbagai isu aktual yang dihadapi perguruan tinggi swasta di Indonesia.
Rektor UMI, Hambali Thalib, menyampaikan bahwa keikutsertaan UMI dalam forum nasional tersebut merupakan bagian dari komitmen universitas untuk terus mengambil peran aktif dalam pengembangan pendidikan tinggi Indonesia.
“UMI meyakini bahwa kolaborasi adalah kunci kemajuan pendidikan tinggi. Melalui forum APTISI ini, kami memperkuat sinergi dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia guna menghadirkan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan karakter yang semakin berdampak bagi bangsa,” ujarnya.
Menurut Prof. Hambali, berbagai transformasi yang saat ini dijalankan UMI, mulai dari penguatan tata kelola, transformasi digital melalui UMI Connection, pengembangan budaya riset, internasionalisasi kampus, hingga penguatan mutu akademik, sejalan dengan semangat kolaborasi yang terus didorong oleh APTISI dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Melalui partisipasi aktif dalam forum ini, UMI kembali menegaskan posisinya sebagai bagian dari perguruan tinggi yang terus berkontribusi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi nasional yang berkualitas, adaptif, inovatif, dan berdaya saing global. Karena UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak serta Kampus Peduli dan Berbagi.
(HUMAS)