Prof Hambali Thalib: Akhlak, Empati, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Harus Menjadi Identitas Dokter Gigi UMI
Makassar, umi.ac.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menorehkan kontribusi nyata bagi dunia kesehatan Indonesia dengan mengukuhkan 19 dokter gigi baru Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UMI pada Yudisium dan Sumpah Profesi Dokter Gigi Periode II Tahun 2026 yang berlangsung di Claro Hotel Makassar, Kamis (4/6/2026).
Momentum tersebut menjadi penanda lahirnya generasi baru tenaga kesehatan yang tidak hanya dibekali kompetensi akademik dan keterampilan klinis, tetapi juga nilai-nilai akhlak, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan yang menjadi ciri khas pendidikan Universitas Muslim Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh Pengurus Wilayah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sulselrabar), Persatuan Orang Tua dan Mahasiswa (POMD), pimpinan Rumah Sakit Islam Gigi dan Mulut (RSIGM) YW UMI, para dosen, orang tua, serta keluarga lulusan.
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa profesi dokter gigi bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah kemanusiaan yang harus dijalankan dengan integritas, kepedulian, dan keikhlasan.
“Akhlak, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan harus menjadi identitas profesi. Kompetensi akan membuat saudara dihormati, tetapi akhlak akan membuat saudara dipercaya. Karena itu, jadilah dokter gigi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga menghadirkan ketenangan, harapan, dan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Hambali Thalib.
Menurut Rektor UMI, masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan teknis yang baik, tetapi juga sosok profesional yang mampu memahami kondisi pasien secara utuh, memberikan pelayanan yang humanis, serta menjaga etika profesi dalam setiap tindakan.
Ia menegaskan bahwa nilai dasar yang selama ini menjadi fondasi pendidikan di UMI, yaitu Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, dan Akhlakul Karimah, harus senantiasa melekat dalam setiap langkah pengabdian para lulusan.
“Sebagai dokter gigi UMI, saudara membawa nama baik profesi, keluarga, dan almamater. Karena itu, jadilah pribadi yang menjaga integritas, menjunjung tinggi etika, serta menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan masyarakat,” tambahnya.
Prof. Hambali juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan pendidikan putra-putrinya hingga berhasil mencapai tahap tersebut.
Menurutnya, keberhasilan menjadi dokter gigi bukan hanya hasil kerja keras mahasiswa semata, tetapi juga buah dari doa, pengorbanan, dan dukungan keluarga yang tidak pernah berhenti.
“Hari ini bukan hanya hari bahagia bagi para lulusan, tetapi juga kebahagiaan bagi para orang tua. Di balik setiap dokter yang dikukuhkan hari ini, ada doa yang tidak pernah putus, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat, dan ada pengorbanan yang luar biasa dari keluarga,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UMI, Prof. drg. H. Moh. Dharma Utama, Ph.D., Sp.Pros., Subsp. PKIKG (K), mengingatkan bahwa sumpah profesi yang diucapkan hari ini merupakan awal dari perjalanan panjang sebagai seorang dokter gigi profesional.
Ia menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang begitu cepat menuntut setiap dokter gigi untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan mengembangkan diri sepanjang hayat.
“Hari ini bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Teruslah belajar, teruslah berkembang, dan jangan pernah berhenti meningkatkan kualitas diri agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Dekan FKG UMI juga mendorong para lulusan untuk memanfaatkan berbagai peluang pengembangan diri melalui pendidikan lanjutan, program spesialis, penelitian, maupun berbagai kegiatan profesional lainnya.
Pengukuhan 19 dokter gigi baru ini semakin memperkuat kontribusi Fakultas Kedokteran Gigi UMI dalam mencetak tenaga kesehatan yang unggul, profesional, dan berkarakter Islami.
Sebagai bagian dari UMI yang mengusung identitas sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, para lulusan diharapkan mampu menjadi duta almamater yang membawa nilai keilmuan, pengabdian, dan akhlakul karimah dalam setiap pelayanan kepada masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi kesehatan yang semakin maju, UMI meyakini bahwa masa depan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat dan teknologi, tetapi juga oleh hadirnya tenaga kesehatan yang memiliki integritas, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan dokter yang pintar.
Masyarakat membutuhkan dokter yang dapat dipercaya. Karena UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah. Kampus Perjuangan dan Pengabdian. Kampus Bereputasi dan Berdampak.
(HUMAS)