Makassar, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi unggul yang terus tumbuh melalui karya, dedikasi, dan budaya akademik yang terjaga. Sebanyak 30 penelitian unggulan karya dosen dan peneliti UMI berhasil terpublikasi pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus, termasuk jurnal kategori Q1, Q2, dan Q3, yang merupakan kelompok jurnal dengan tingkat pengaruh tertinggi dalam komunitas akademik global.
Capaian ini menjadi penanda bahwa dari ruang-ruang akademik yang bekerja dalam ketekunan dan kesunyian, UMI terus melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi yang kini dibaca serta menjadi rujukan di berbagai belahan dunia.
Prestasi tersebut hadir setelah UMI sebelumnya berhasil menempati tiga besar perguruan tinggi terbaik di Makassar berdasarkan pemeringkatan SINTA Score Overall 2026, sebuah capaian yang memperlihatkan konsistensi UMI dalam membangun ekosistem riset yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Berdasarkan data resmi SINTA Kemdiktisaintek Tahun 2026, UMI mencatat SINTA Score 3 Years sebesar 180.818 dan SINTA Score Overall sebesar 404.762, menempatkan UMI pada posisi ketiga perguruan tinggi terbaik di Makassar setelah perguruan tinggi negeri besar di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, pada basis data internasional Scopus Tahun 2026, UMI juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Berdasarkan data Scopus Affiliation ID terbaru, Universitas Muslim Indonesia telah mencatat 4.048 dokumen ilmiah terindeks Scopus yang dihasilkan oleh 1.014 dosen dan peneliti terafiliasi, menjadikan UMI sebagai salah satu perguruan tinggi swasta paling produktif dalam publikasi internasional di kawasan Indonesia Timur.
Dari ribuan publikasi tersebut, sebanyak 30 riset unggulan terpilih menunjukkan kualitas akademik yang sangat kompetitif karena berhasil menembus jurnal bereputasi dunia pada kategori Q1 hingga Q3.
Keunggulan riset UMI tercermin dari keragaman bidang ilmu dan relevansi isu yang diangkat. Berbagai penelitian membahas inovasi teknologi hijau, energi terbarukan, kesehatan masyarakat, farmasi berbasis bahan alam Indonesia, transformasi digital, hingga pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Sejumlah riset bahkan menghadirkan terobosan yang sangat relevan dengan kebutuhan masa depan, seperti teknologi ekstraksi biodiesel berbasis microwave yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sistem kecerdasan buatan pengenal dialek Makassar berbasis Automatic Speech Recognition, teknologi AI untuk pelestarian aksara Cia-Cia Buton, sistem klasifikasi sampah berbasis deep learning, hingga pemanfaatan sumber daya hayati lokal sebagai kandidat terapi berbagai penyakit degeneratif.
Menariknya, kekuatan riset UMI tidak hanya bertumpu pada inovasi teknologi modern, tetapi juga berakar kuat pada kearifan lokal Nusantara.
Kajian tentang tradisi Teseng sebagai model keadilan sosial masyarakat Bugis-Makassar, penelitian tentang dinamika budaya Uang Panai, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk pelestarian bahasa daerah menunjukkan bahwa UMI mampu memadukan nilai-nilai lokal dengan pendekatan ilmiah modern.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari laboratorium canggih semata, tetapi juga dapat tumbuh dari kearifan budaya yang diolah dengan perspektif akademik yang visioner.

Rektor UMI, Hambali Thalib, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh dosen, peneliti, dan sivitas akademika yang terus menjaga budaya akademik universitas.
“Dari kearifan lokal hingga kecerdasan buatan, dosen UMI sedang menulis jejak ilmu untuk dunia. Ini bukan sekadar capaian angka, tetapi buah dari ketulusan, kesungguhan, dan amanah akademik yang dijaga bersama untuk masa depan pendidikan dan peradaban,” ujarnya.
Menurut Rektor, keberhasilan tersebut harus dimaknai dengan rasa syukur dan tanggung jawab yang lebih besar untuk terus memperkuat kontribusi keilmuan UMI bagi bangsa.
“Kami tidak melihat capaian ini sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari yang lain. Ini adalah amanah agar kami terus bekerja lebih baik, menjaga mutu, memperluas kolaborasi global, dan memastikan bahwa ilmu yang lahir dari UMI benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.”
Prof. Hambali menegaskan bahwa UMI saat ini terus mempercepat transformasi menuju research university, impactful university, dan smart university melalui penguatan pusat riset unggulan, internasionalisasi publikasi, hilirisasi inovasi, pengembangan kecerdasan buatan, serta transformasi digital kampus yang terintegrasi.
Bagi masyarakat dan calon mahasiswa baru, capaian ini menjadi gambaran nyata bahwa UMI sedang menyiapkan masa depan pendidikan tinggi yang adaptif, modern, humanis, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Di tengah derasnya perubahan global, UMI terus hadir sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, visioner, dan siap memberi manfaat luas bagi dunia.
Karena pada akhirnya, bagi UMI, reputasi terbaik bukanlah sekadar tentang angka pemeringkatan, melainkan tentang seberapa jauh ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan pengabdian bagi kemajuan umat, bangsa, dan peradaban. Karena UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah. Kampus Perjuangan dan Pengabdian. Kampus Bereputasi dan Berdampak.
(HUMAS)
