Makassar, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menegaskan perannya sebagai pusat kolaborasi strategis perguruan tinggi Islam di Indonesia melalui penerimaan kunjungan silaturahim dan benchmarking kelembagaan dari Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang, Selasa (21/4), di Ruang Rapat Senat Lantai 9 Menara UMI.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penting untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus memperkuat pertukaran gagasan, praktik terbaik, dan arah pengembangan perguruan tinggi Islam yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing global.
Delegasi UNWAHAS hadir secara lengkap, terdiri atas Ketua dan Wakil Ketua Yayasan, Rektor dan Wakil Rektor II, serta dekan dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik. Dari pihak UMI, kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Rektor beserta jajaran Wakil Rektor, Dekan Fakultas Kedokteran, Dekan Fakultas Teknologi Industri, serta Ketua Lembaga Penjaminan Mutu.
Suasana pertemuan berlangsung hangat, penuh keakraban, dan sarat nilai kekeluargaan, mencerminkan hubungan historis yang telah lama terbangun antara kedua institusi. Kunjungan ini juga merupakan kunjungan balasan atas lawatan delegasi UMI ke UNWAHAS Semarang beberapa bulan lalu, sekaligus memperkuat kesinambungan kolaborasi yang terarah dan berkelanjutan.

Rektor UMI: Kolaborasi Adalah Gerakan Peradaban, Bukan Sekadar Program
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa silaturahim akademik memiliki makna strategis yang jauh melampaui agenda kelembagaan formal.
“Silaturahim ini bukan sekadar kunjungan institusi. Ini adalah energi peradaban. Dari ruang-ruang akademik seperti inilah lahir gagasan besar, sinergi yang kuat, dan keberanian untuk membangun masa depan bersama. UMI meyakini bahwa kolaborasi adalah kekuatan utama perguruan tinggi Islam untuk tetap relevan, adaptif, dan memberikan dampak nyata bagi bangsa dan kemanusiaan,” tegasnya.
Dalam paparannya, Rektor UMI menjelaskan bahwa saat ini UMI membina 13 fakultas, 1 Program Pascasarjana, dan 67 program studi, dengan lebih dari 50% terakreditasi Unggul dan A, serta mayoritas lainnya Baik Sekali.
UMI juga menegaskan posisinya sebagai Perguruan tinggi swasta terakreditasi Unggul pertama di luar Pulau Jawa, PTS dengan jumlah Guru Besar terbanyak di Indonesia (117 Guru Besar), Kampus yang mengintegrasikan Catur Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.

Yayasan Wakaf UMI: Inklusivitas Adalah Kekuatan, Bukan Sekadar Nilai
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mochtar, M.A., menegaskan bahwa keunggulan UMI tidak hanya terletak pada capaian akademik, tetapi juga pada karakter inklusif yang menjadi ruh institusi.
“UMI adalah kampus Islam yang merangkul, bukan membatasi. Kami tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga membangun kemanusiaan. Di UMI, keberagaman bukan sekadar diterima, tetapi dirawat sebagai kekuatan untuk tumbuh bersama,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa latar historis UMI yang kuat dalam tradisi keislaman justru menjadi fondasi untuk menghadirkan kampus yang terbuka, moderat, dan relevan dengan tantangan global.

Penguatan Ekosistem: Dari Kampus Menuju Dampak Nyata
Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramli, S.E., M.Si., menyoroti pentingnya penguatan ekosistem pendidikan melalui integrasi akademik dan unit usaha strategis.
Yayasan Wakaf UMI saat ini aktif mengembangkan berbagai kerja sama, antara lain Pengembangan perumahan bersubsidi bersama mitra perbankan, Distribusi dan pemasaran pupuk serta pengolahan limbah industri, Penguatan SDM dan manajemen pertambangan, Pembinaan pendidikan berbasis sekolah dan pesantren dan Kerja sama internasional dengan USIM Malaysia dan institusi di Inggris
Langkah ini menegaskan bahwa UMI tidak hanya membangun kampus, tetapi membangun ekosistem yang berdampak luas bagi masyarakat.

UNWAHAS: UMI Adalah Mitra, Inspirasi, dan Bagian dari Sejarah Kami
Rektor UNWAHAS, Prof. Dr. Ir. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen UNWAHAS untuk terus belajar dan berkembang.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan UNWAHAS, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., menegaskan hubungan emosional dan historis yang kuat antara kedua institusi.
“Kami memandang UMI bukan hanya sebagai mitra, tetapi sebagai inspirasi dan bagian dari perjalanan kami. Perkembangan UNWAHAS hari ini tidak lepas dari kontribusi dan bimbingan tokoh-tokoh UMI. Ini adalah hubungan keilmuan, sejarah, dan nilai,” ungkapnya.
Menuju Kolaborasi Strategis yang Lebih Luas dan Berdampak
Pertemuan ini membuka berbagai peluang kerja sama ke depan, di antaranya:
- Pengembangan rumah sakit pendidikan
- Pembukaan program spesialis kedokteran
- Penguatan bidang teknik pertambangan
- Kolaborasi unit usaha dan tata kelola kelembagaan

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cendera mata dan sesi foto bersama sebagai simbol penguatan silaturahim, sinergi, dan komitmen bersama.
UMI: Tidak Sekadar Tumbuh, Tetapi Berdampak
Pertemuan ini kembali menegaskan satu pesan besar, UMI tidak hanya membangun institusi, tetapi membangun jejaring peradaban…
UMI tidak hanya bertumbuh, tetapi bertumbuh dengan arah, makna dan tanggung jawab. UMI Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak
(HUMAS)
