UMI 72 TAHUN: Meneliti Hari Ini, Membangun Masa Depan
Opini disampaikan dalam momen Milad UMI ke 72
Oleh: Andi Aladin,
Guru Besar Teknik Kimia FTI UMI, Sekretarsi LP2S UMI Makassar
"Katakanlah: Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan." (QS. Al-'Ankabut: 20).
Pada tanggal 23 Juni 2026, Universitas Muslim Indonesia (UMI) memasuki usia ke-72 tahun. Sebuah usia yang mencerminkan kematangan institusi dalam mengemban amanah pendidikan tinggi. Dalam rentang waktu yang panjang tersebut, UMI telah melahirkan ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang dan memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Namun, di tengah perubahan global yang berlangsung semakin cepat, pertanyaan yang patut kita renungkan bersama adalah: kontribusi apa yang harus semakin diperkuat oleh UMI untuk membangun masa depan yang lebih baik?
Salah satu jawabannya adalah penelitian. Di era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) saat ini, kemajuan suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam semata, melainkan oleh kemampuan menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Negara-negara yang memimpin dunia adalah negara-negara yang menjadikan riset sebagai fondasi pembangunan. Karena itu, pada usia ke-72 tahun, UMI perlu terus lebih memperkuat budaya penelitian sebagai bagian penting dari kontribusinya dalam membangun masa depan Indonesia.
Menariknya, semangat penelitian sesungguhnya telah lama diajarkan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berulang kali mengajak manusia untuk mengamati, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena yang terjadi di alam semesta. Allah berfirman:
"Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu." (QS. Ar-Rum: 42).
Ayat ini mengandung perintah untuk mempelajari sejarah dan mengambil pelajaran dari perjalanan umat manusia. Dalam perspektif akademik modern, pesan ini mengajarkan pentingnya menelaah pengalaman masa lalu sebagai dasar untuk memahami masa kini dan merancang masa depan yang lebih baik. Tidak ada kemajuan tanpa pembelajaran, dan tidak ada pembelajaran tanpa pengamatan yang serius terhadap fakta dan realitas. Al-Qur'an juga menegaskan:
"Katakanlah: Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan." (QS. Al-'Ankabut: 20).
Ayat ini mengandung dorongan kuat untuk mengkaji alam semesta dan memahami proses-proses penciptaan yang berlangsung di dalamnya. Inilah semangat yang melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan modern. Para ilmuwan mengamati fenomena alam, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen, dan menarik kesimpulan untuk memahami hukum-hukum yang mengatur kehidupan. Dengan kata lain, aktivitas penelitian sesungguhnya merupakan bagian dari upaya membaca ayat-ayat kauniyah yang Allah bentangkan di alam semesta. Tidak hanya itu, Allah SWT juga mengingatkan:
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?" (QS. Al-Hajj: 46).
Ayat ini menegaskan bahwa observasi saja tidak cukup. Pengamatan harus diikuti dengan pemahaman yang mendalam. Data harus diolah menjadi pengetahuan, dan pengetahuan harus melahirkan kebijaksanaan. Dalam bahasa penelitian, fakta harus dianalisis sehingga menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Namun demikian, Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan pentingnya penelitian. Sebelum memerintahkan manusia membaca alam, Allah terlebih dahulu meletakkan fondasi yang menjadi dasar seluruh aktivitas keilmuan. Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW adalah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1).
Pesan ini sangat mendasar. Membaca, belajar, mengkaji, dan meneliti harus selalu berangkat dari kesadaran tauhid. Seorang akademisi muslim tidak meneliti semata-mata untuk mengejar publikasi, sitasi, jabatan akademik, atau pengakuan ilmiah. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan akhir. Penelitian dilakukan sebagai bentuk ibadah dan ikhtiar untuk memahami sunnatullah yang Allah tetapkan di alam semesta.
Fondasi tauhid inilah yang menjadi pembeda antara aktivitas riset yang berorientasi semata-mata pada kepentingan duniawi dengan riset yang berorientasi pada kemaslahatan. Ketika penelitian dilakukan dengan niat lillahi ta'ala, maka ilmu pengetahuan akan berkembang sejalan dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Inovasi yang lahir tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, dan kesejahteraan umat manusia.
Dalam konteks tersebut, penelitian memiliki dampak yang sangat luas. Secara material, riset menghasilkan teknologi, produk, metode, dan kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Berbagai kemajuan di bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, dan pendidikan lahir dari kerja keras para peneliti yang berusaha mencari solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Melalui penelitian, produktivitas meningkat, sumber daya dimanfaatkan lebih efisien, dan berbagai dampak negatif pembangunan dapat diminimalkan.
Namun dampak riset tidak berhenti pada aspek material. Bagi seorang peneliti muslim, setiap penemuan baru seharusnya semakin memperkuat kesadaran akan kebesaran Allah SWT. Semakin dalam manusia memahami hukum-hukum alam, semakin tampak keteraturan dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Semakin banyak misteri yang berhasil diungkap, semakin jelas bahwa alam semesta ini tidak diciptakan secara kebetulan. Karena itu, puncak perjalanan seorang peneliti muslim bukanlah sekadar menemukan sesuatu yang baru, melainkan sampai pada kesadaran sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka. (QS. Ali 'Imran: 191).
Kesadaran ini akan melahirkan rasa syukur yang semakin mendalam, meningkatkan ketundukan kepada Allah SWT, serta memperkuat komitmen untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan umat. Pada titik inilah penelitian tidak hanya menghasilkan manfaat duniawi, tetapi juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Memasuki usia ke-72 tahun, UMI memiliki peluang besar untuk semakin mengokohkan dirinya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Budaya riset perlu terus diperkuat, kolaborasi perlu diperluas, dan inovasi perlu diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan nyata yang dihadapi masyarakat. UMI tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga melahirkan peneliti dan inovator yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan kesejahteraan umat.
Pada akhirnya, meneliti bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari amanah keilmuan yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Melalui penelitian, kita membaca tanda-tanda kebesaran Allah, memahami sunnatullah yang bekerja di alam semesta, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan kehidupan. Inilah makna terdalam dari tema Milad UMI ke-72: Meneliti Hari Ini, Membangun Masa Depan. Sebuah ikhtiar untuk menghadirkan kemajuan yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi juga mengantarkan lahirnya peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam Rahmatan lil 'Alamin.
Selamat Milad UMI ke 72 (23 juni 2026 / 8 Muharram 1448 H)
Salam Indonesia Riset
Salam UMI Unggul