Riset & Inovasi Tuesday, 14 July 2026

“Kalau Tidak Kuliah di UMI, Saya Tidak Akan Pernah Belajar di Jepang.” Kisah Ikram Ghifari Menembus Kampus Riset Terbaik di Negeri Sakura

Mulyadi S. 58 dilihat 3 menit baca
“Kalau Tidak Kuliah di UMI, Saya Tidak Akan Pernah Belajar di Jepang.” Kisah Ikram Ghifari Menembus Kampus Riset Terbaik di Negeri Sakura

Dari Makassar ke Jepang, Mahasiswa Teknik Informatika UMI Buktikan Mimpi Global Dimulai dari Kampus Sendiri

Makassar, umi.ac.id – Sebagian orang menganggap belajar di luar negeri hanyalah mimpi. Namun bagi Muhammad Ikram Ghifari, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 2023, mimpi itu berubah menjadi kenyataan.

Melalui program Student Exchange yang difasilitasi Universitas Muslim Indonesia, Ikram memperoleh kesempatan belajar di Kyushu Institute of Technology (Kyutech), Jepang, salah satu universitas berbasis riset terkemuka di Negeri Sakura.

Bagi Ikram, pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan akademiknya.

“Kalau tidak kuliah di UMI, saya tidak akan pernah merasakan kesempatan belajar di Jepang. UMI membuka jalan bagi saya untuk melihat dunia, belajar di kampus riset internasional, dan merasakan pengalaman yang sebelumnya hanya saya impikan,” ungkap Ikram.

Selama mengikuti program pertukaran mahasiswa, Ikram tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga hidup dalam budaya akademik yang menjadikan riset sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ia mengaku terkesan dengan suasana belajar di Kyutech yang sangat mendukung kreativitas dan penelitian.

“Kampusnya buka 24 jam. Mahasiswa bisa masuk ke laboratorium kapan saja menggunakan Student ID. Menjelang presentasi mingguan bersama sensei, saya bahkan sering menginap di laboratorium untuk menyelesaikan penelitian,” ceritanya.

Baginya, laboratorium di Kyutech bukan sekadar tempat praktikum, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan mahasiswa, profesor, dan peneliti untuk melahirkan inovasi.

Sebagai research-based university, Kyushu Institute of Technology menerapkan sistem pembelajaran yang memperkenalkan mahasiswa pada dunia riset sejak dini. Mahasiswa tingkat akhir telah bergabung dalam laboratorium sesuai bidang minatnya dan dibimbing langsung oleh profesor untuk membangun arah penelitian sekaligus mempersiapkan karier akademik maupun profesional.

Yang juga menarik perhatian Ikram adalah kuatnya hubungan antara kampus dan dunia industri.

Setiap akhir semester, Kyutech menyelenggarakan Job Fair Hunting yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai perusahaan teknologi. Dari forum tersebut, mahasiswa memperoleh peluang magang hingga kesempatan bekerja setelah lulus.

“Saya melihat mahasiswa di Jepang sudah memiliki gambaran yang jelas tentang masa depannya. Bahkan banyak mahasiswa S1 yang sebelum lulus sudah mendaftar ke program magister dan melanjutkan penelitian bersama profesor yang sama,” ujarnya.

Bagi Ikram, pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya wawasan di bidang teknologi informasi, tetapi juga membentuk karakter melalui budaya disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan semangat untuk terus belajar.

Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menyampaikan bahwa internasionalisasi merupakan salah satu arah strategis pengembangan UMI dalam menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.

“Kami ingin mahasiswa UMI memiliki pengalaman belajar lintas negara, memperluas jejaring internasional, dan membangun kepercayaan diri sebagai generasi yang mampu bersaing di panggung dunia tanpa kehilangan identitas sebagai insan yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas,” ujar Prof. Hambali.

Melalui berbagai kerja sama internasional yang terus berkembang, UMI membuka semakin banyak peluang bagi mahasiswa untuk mengikuti student exchange, riset bersama, short course, magang internasional, hingga program akademik kolaboratif dengan berbagai perguruan tinggi dunia.

Menutup kisahnya, Ikram mengajak mahasiswa lain agar berani memanfaatkan setiap peluang yang disediakan oleh almamater.

“Belajar di Jepang mengajarkan saya bahwa riset bukan sekadar tugas kuliah, tetapi budaya yang dibangun setiap hari. Saya berharap semakin banyak mahasiswa UMI yang berani bermimpi besar. Karena dari UMI, kita benar-benar bisa melangkah hingga ke panggung internasional,” tutupnya.

Sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak, serta Kampus Peduli dan Berbagi, Universitas Muslim Indonesia terus menghadirkan kesempatan bagi mahasiswanya untuk belajar melampaui batas ruang kelas, memperluas cakrawala dunia, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang siap berkarya di tingkat global.

Di UMI, mimpi tidak berhenti di ruang kuliah. Dari Makassar, mahasiswa UMI melangkah menuju laboratorium, kampus, dan masa depan dunia.

(HUMAS)

Bagikan:

Langganan Berita UMI

Dapatkan berita dan informasi terbaru UMI langsung di email Anda.

Mitra & Kerjasama