Daun Pala yang Selama Ini Terabaikan, Kini Berpotensi Jadi Obat Rematik Berkat Riset Dosen UMI
MAKASSAR, umi.ac.id – Siapa sangka, daun pala yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah ternyata menyimpan potensi besar bagi dunia kesehatan. Temuan inilah yang berhasil dibuktikan oleh dosen Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Apt. Muammar Fawwaz, S.Farm., M.Si., Ph.D., melalui penelitian yang dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi.
Dalam risetnya, Dr. Muammar Fawwaz mengungkap bahwa ekstrak daun pala (Myristica fragrans Houtt) berpotensi dikembangkan sebagai obat herbal untuk membantu mengatasi rematik (rheumatoid arthritis), peradangan, hingga nyeri.
Menurutnya, rematik merupakan penyakit peradangan kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu, pencarian bahan alami yang efektif dan memiliki efek samping lebih rendah menjadi salah satu tantangan penting dalam dunia farmasi.
"Selama ini masyarakat lebih banyak memanfaatkan buah pala, padahal daunnya juga mengandung berbagai senyawa aktif yang memiliki potensi besar sebagai kandidat obat herbal. Melalui penelitian ini kami ingin membuktikan potensi tersebut secara ilmiah," ujar Dr. Muammar Fawwaz saat dihubungi Humas UMI, Jumat (26/6).
Penelitian ini menggunakan pendekatan yang cukup komprehensif dengan menggabungkan pengujian langsung pada hewan coba (in vivo) serta simulism komputer (in silico/molecular docking) untuk melihat kemampuan senyawa dalam daun pala berinteraksi dengan protein penyebab peradangan, yakni TLR-4 dan HTRA-1.
Melalui analisis menggunakan teknologi Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), tim peneliti berhasil mengidentifikasi 81 senyawa aktif yang terkandung dalam daun pala. Beberapa di antaranya adalah myristicin, betulin, methoxyeugenol, thunbergol, serta berbagai senyawa fenolik yang dikenal memiliki aktivitas biologis.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang sangat menjanjikan. Pada dosis 600 mg/kg berat badan, ekstrak daun pala mampu memberikan efek anti-rematik, anti-inflamasi, dan pereda nyeri yang secara statistik tidak berbeda signifikan dibandingkan beberapa obat sintetis yang umum digunakan, seperti Methyl Prednisolone, Natrium Diklofenak, dan Ibuprofen.
Sementara itu, hasil simulasi molekuler juga menunjukkan bahwa salah satu senyawa dalam daun pala, yaitu methoxyphenol, memiliki kemampuan ikatan yang sangat baik terhadap reseptor penyebab peradangan, sehingga memperkuat dugaan bahwa senyawa tersebut berperan penting dalam aktivitas antiinflamasi daun pala.
Bagi Dr. Muammar Fawwaz, penelitian ini bukan sekadar menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga membuka peluang baru bagi pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber bahan baku obat herbal yang lebih aman dan berkelanjutan.
"Harapan kami, penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan obat herbal berbasis bahan alam Indonesia yang tidak hanya efektif, tetapi juga memiliki efek samping yang lebih minimal dibandingkan obat sintetis," ungkapnya.
Keberhasilan publikasi internasional ini sekaligus memperkuat komitmen Universitas Muslim Indonesia dalam mengembangkan riset unggulan yang berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat. Melalui pemanfaatan tanaman lokal seperti daun pala, UMI terus mendorong lahirnya inovasi yang mendukung kemandirian industri farmasi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah kekayaan hayati Indonesia di tingkat global.
(HUMAS)