Polifenol Buah Jeruk Berpotensi Bantu Kendalikan Diabesity, Ini Temuan Dosen Farmasi UMI
MAKASSAR, umi.ac.id – Di tengah meningkatnya kasus diabetes dan obesitas yang kini dikenal dengan istilah diabesity, hasil kajian ilmiah yang melibatkan dosen Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), apt. Abd. Malik, S.Farm., M.Sc., Ph.D., membuka harapan baru melalui pemanfaatan bahan alam, khususnya polifenol yang terkandung dalam buah jeruk (Citrus) sebagai alternatif pendukung dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit tersebut.
Kajian yang dilakukan bersama tim peneliti internasional di bawah pimpinan Prof. Muhammad Ajmal Shah menunjukkan bahwa senyawa polifenol pada buah jeruk memiliki aktivitas biologis yang berpotensi membantu mengendalikan berbagai mekanisme yang berperan dalam terjadinya diabesity. Temuan tersebut telah dipublikasikan pada jurnal internasional dan menjadi salah satu referensi ilmiah dalam pengembangan pangan fungsional berbasis bahan alam.
Diabesity merupakan kondisi ketika seseorang mengalami obesitas dan diabetes secara bersamaan. Penyakit ini menjadi tantangan kesehatan global karena meningkatkan risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga penurunan kualitas hidup. Di sisi lain, pengobatan konvensional sering kali memerlukan biaya yang tinggi dan berpotensi menimbulkan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang.
Menurut apt. Abd. Malik, kajian tersebut menunjukkan bahwa polifenol yang terdapat pada berbagai jenis buah jeruk memiliki mekanisme kerja yang kompleks dalam membantu menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
"Polifenol bekerja pada berbagai jalur metabolisme, mulai dari meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi stres oksidatif, menekan peradangan, membantu mengontrol metabolisme lemak, hingga melindungi sel-sel pankreas yang berperan dalam produksi insulin. Inilah yang menjadikan senyawa ini sangat potensial sebagai bagian dari upaya pencegahan diabesity," jelasnya saat dihubungi Humas UMI, Rabu (24/6).
Selain membantu memperbaiki metabolisme glukosa dan lemak, polifenol juga diketahui mampu menghambat proses pemecahan karbohidrat menjadi gula sederhana di saluran pencernaan sehingga dapat membantu mengendalikan lonjakan kadar gula darah setelah makan. Senyawa ini juga berperan dalam mengurangi peradangan kronis yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama berkembangnya diabetes dan obesitas.

Meski demikian, Abd. Malik menegaskan bahwa konsumsi buah jeruk atau pangan yang kaya polifenol bukanlah pengganti terapi medis, melainkan dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat yang didukung dengan gizi seimbang, aktivitas fisik, serta pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
"Hasil kajian ini memberikan dasar ilmiah bahwa kekayaan hayati Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional maupun produk kesehatan yang aman dan terjangkau. Namun, penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia, tetap diperlukan sebelum dapat diterapkan secara luas," tambahnya.
Bagi masyarakat, hasil penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa upaya pencegahan penyakit degeneratif tidak selalu bergantung pada obat-obatan sintetis. Pola makan yang kaya buah dan sayuran, termasuk konsumsi buah-buahan sitrus yang mengandung polifenol, dapat menjadi salah satu langkah preventif dalam menjaga kesehatan metabolisme tubuh.
Sebagai perguruan tinggi yang terus mengembangkan riset berbasis kebutuhan masyarakat, Universitas Muslim Indonesia mendorong agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi mampu dihilirisasi menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat serta mendukung pengembangan industri pangan dan obat berbasis sumber daya alam Indonesia.
Melalui kolaborasi riset internasional seperti ini, UMI kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya bereputasi secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pembangunan kesehatan berkelanjutan.
(HUMAS)