Makassar, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menegaskan jati dirinya sebagai kampus ilmu dan ibadah melalui pelantikan pejabat dalam lingkup universitas yang berlangsung di Auditorium Al-Jibra UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Senin (27/4/2025).
Momentum ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial kelembagaan, tetapi menjadi penegasan kuat bahwa kepemimpinan di UMI adalah tentang amanah, pelayanan, dan tanggung jawab moral yang utuh.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., dalam arahannya menekankan bahwa jabatan bukanlah simbol kehormatan, melainkan ruang pengabdian yang sarat tanggung jawab—tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
“Jabatan bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Ini amanah yang harus dijaga—bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat,” tegasnya.
Pelantikan ini mengukuhkan Wakil Dekan pada enam fakultas di lingkungan UMI, yakni Fakultas Agama Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Kedokteran, serta Fakultas Kedokteran Gigi.

Rektor UMI mengingatkan bahwa jabatan Wakil Dekan bukanlah posisi yang selalu nyaman, tetapi titik di mana berbagai persoalan akademik, administratif, dan kemahasiswaan bermuara.
“Di atas kertas jabatan itu terlihat mulia. Tetapi dalam kenyataan, di situlah banyak persoalan berkumpul. Maka yang dibutuhkan bukan sekadar posisi, tetapi kesiapan melayani dengan hati,” ungkapnya.
Rektor UMI juga menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh berhenti pada instruksi, tetapi harus dimulai dari keteladanan.
Menurutnya, kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, serta komitmen terhadap nilai-nilai kampus harus terlebih dahulu ditunjukkan oleh pimpinan.
“Jangan hanya menyuruh. Jadilah yang pertama menjalankan. Keteladanan itu terlihat dari hal sederhana disiplin waktu, komitmen kerja, dan kepatuhan pada aturan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebagai kampus ilmu dan ibadah, UMI menuntut keselarasan antara ucapan dan tindakan dalam setiap aspek kepemimpinan.
Dalam arahannya, Prof. Hambali menegaskan bahwa integritas bukan sekadar konsep normatif, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata.
Ia mengingatkan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian menyelesaikan amanah hingga tuntas.
“Tidak cukup bekerja keras, kita harus bekerja tuntas. Integritas itu terlihat dari bagaimana kita menyelesaikan amanah, bukan hanya memulainya,” tegasnya.
Menurutnya, kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu menjaga nilai, menyelesaikan tugas, dan berani bertanggung jawab atas setiap keputusan.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., menegaskan pentingnya menjadikan pakta integritas sebagai pedoman hidup, bukan sekadar dokumen formal.
Ia mengingatkan bahwa 10 pakta integritas yang diikrarkan para pejabat UMI memiliki dimensi dunia dan akhirat yang harus dijalankan secara konsisten.

“Pakta integritas itu bukan sekadar dibaca, tetapi harus dihidupkan. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, itu sudah mencakup tanggung jawab dunia dan akhirat,” ujarnya.
Melalui pelantikan ini, UMI kembali menegaskan arah besar kepemimpinannya:
bahwa jabatan bukanlah tujuan, tetapi jalan untuk memberi manfaat yang lebih luas.
UMI terus membangun sistem kepemimpinan yang kuat secara akademik, kokoh secara moral dan berorientasi pada pelayanan kepada mahasiswa dan masyarakat
Karena bagi UMI, kepemimpinan sejati bukan diukur dari jabatan yang dipegang, tetapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan. UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak. (*)
