Puskesmas Wae Codi Ambruk, tetapi Pelayanan Tak Boleh Berhenti: Tim Medis UMI Merawat Warga di Bawah Tenda
Empat jam menembus jalan pegunungan yang rusak, relawan UMI bersama tenaga kesehatan setempat melayani sekitar 100 warga dari 10 desa di tengah keterbatasan pascabencana.
CIBAL, umi.ac.id — Gedungnya tidak lagi dapat digunakan. Tetapi warga tetap sakit. Anak-anak tetap membutuhkan pemeriksaan. Lansia tetap membutuhkan obat dan masyarakat dari desa-desa sekitar tetap membutuhkan tempat untuk datang ketika tubuh mereka tidak baik-baik saja.
Di Puskesmas Wae Codi, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pelayanan kesehatan akhirnya berpindah ke tempat yang jauh lebih sederhana: sebuah tenda darurat.
Di bawah tenda itulah tenaga kesehatan setempat bersama Tim Medis Relawan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar kembali menerima warga. Tidak ada ruang pemeriksaan seperti biasanya. Tidak ada kenyamanan sebuah gedung pelayanan kesehatan.
Tetapi ada dokter.
Ada tenaga kesehatan.
Ada obat.
Dan yang paling penting—pelayanan tetap hidup.
Ketika Gedung Runtuh, Kebutuhan Warga Tidak Ikut Runtuh
Menurut Kepala Puskesmas Wae Codi, Heribertus Jeli Jefri, bangunan puskesmas mengalami kerusakan berat hingga ambruk pada 15 Agustus 2026. Tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian, tidak ada pasien yang sedang menjalani perawatan inap dan petugas piket berada di luar ruangan.nNamun setelah bangunan tidak lagi dapat digunakan, persoalan berikutnya muncul.
Ke mana masyarakat harus memperoleh pelayanan kesehatan?
Puskesmas bukan sekadar sebuah gedung. Bagi masyarakat di wilayah pelayanan yang jauh dari pusat kota, tempat itu adalah salah satu pintu pertama ketika seorang anak demam, orang tua sakit, lansia membutuhkan pemeriksaan, atau sebuah keluarga membutuhkan pertolongan medis. Ketika bangunannya runtuh, kebutuhan tersebut tidak menghilang. Karena itu, pelayanan dipindahkan ke tenda darurat.
Empat Jam untuk Sampai kepada Warga
Untuk mencapai Wae Codi, Tim Medis Relawan UMI harus menempuh perjalanan sekitar empat jam. Jalannya tidak mudah. Tim melewati kawasan pegunungan dengan sejumlah ruas jalan rusak berat dan berlubang. Namun Wae Codi memang menjadi salah satu lokasi yang ditetapkan dalam koordinasi misi Tim Medis Relawan UMI bersama BPBD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai. Sebelumnya, UMI telah membagi relawannya untuk memperkuat pelayanan di Puskesmas Wae Codi dan Wae Kajong.
Perjalanan panjang itu kemudian berakhir di sebuah tenda. Tetapi justru di sanalah tujuan sebenarnya dimulai. Karena bagi relawan medis, perjalanan tidak selesai ketika tiba di lokasi. Perjalanan selesai ketika masyarakat memperoleh pelayanan.
Sekitar 100 Warga Datang dari 10 Desa
Di tengah fasilitas yang sangat terbatas, pelayanan berjalan. Sekitar 100 warga dari 10 desa datang untuk memperoleh pemeriksaan.
Ada lansia.
Orang dewasa.
Anak-anak.
Satu per satu diperiksa.
Tim melakukan pemeriksaan fisik, memberikan konsultasi kesehatan, dan membagikan obat sesuai kebutuhan pasien. Angka 100 mungkin mudah ditulis dalam laporan. Namun di lapangan, seratus pasien berarti seratus manusia. Seratus keluhan yang harus didengar. Seratus kondisi yang harus diperiksa dan di belakang mereka, ada keluarga yang berharap orang yang mereka cintai mendapat pertolongan. Dalam situasi bencana, pelayanan kesehatan bukan hanya soal berapa orang yang diperiksa. Ia juga tentang menghadirkan kembali rasa aman.
Sebuah Tenda yang Menjadi Ruang Harapan
Dalam keadaan normal, tenda hanyalah tempat berteduh sementara. Tetapi pascabencana, maknanya berubah. Di Wae Codi, tenda itu menjadi ruang konsultasi.
Menjadi tempat pemeriksaan.
Menjadi tempat obat diberikan.
Menjadi tempat masyarakat datang membawa kekhawatiran lalu pulang dengan setidaknya satu kepastian, ada yang menjaga pelayanan kesehatan tetap berjalan.
Di situlah kemanusiaan sering kali hadir dalam bentuk paling sederhana. Bukan melalui bangunan besar. Bukan melalui teknologi yang rumit. Tetapi melalui seseorang yang bersedia duduk, mendengar keluhan pasien, memeriksa, memberi obat, dan memastikan warga tidak kehilangan akses kesehatan hanya karena bencana merusak bangunan.
UMI Datang untuk Memperkuat, Bukan Menggantikan
Tim Medis Relawan UMI tidak bekerja sendiri. Mereka hadir untuk memperkuat tenaga kesehatan setempat yang sejak awal tetap bertahan melayani masyarakat dalam kondisi darurat. Prinsip ini penting. Dalam misi kemanusiaan, universitas bukan datang untuk mengambil panggung. Universitas datang untuk membantu mereka yang sudah berada di garis depan. Karena itu, cerita Wae Codi bukan hanya tentang relawan dari Makassar.
Ini juga cerita tentang tenaga kesehatan lokal yang tetap bekerja ketika fasilitas mereka rusak. Tentang masyarakat yang tetap datang mencari pertolongan. Tentang kolaborasi dan tentang bagaimana banyak tangan dapat membuat pelayanan tetap berjalan ketika satu sistem sedang terluka.
Ilmu Kedokteran Bertemu Kondisi yang Sesungguhnya
Universitas sering mengajarkan mahasiswa dan dosen tentang pelayanan, profesionalisme, kedaruratan, dan pengabdian. Tetapi ada saat ketika seluruh konsep itu harus keluar dari ruang akademik. Bencana adalah salah satunya. Tidak ada ruang pemeriksaan ideal.
Tidak semua alat tersedia.
Waktu terbatas.
Akses sulit.
Dan kebutuhan masyarakat datang bersamaan.Di sinilah ilmu memperoleh ujian nyata. Bukan hanya seberapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa besar pengetahuan itu tetap dapat digunakan ketika keadaan tidak ideal.
UMI sebelumnya telah mengirim tim medis yang terdiri atas dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk bergabung dalam misi kemanusiaan bersama AMDA di NTT, termasuk membawa dukungan medis dan obat-obatan.
Kampus Peduli dan Berbagi Bukan Sekadar Kalimat
Bagi Universitas Muslim Indonesia, keberadaan relawan di Wae Codi merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Tetapi nilai pengabdian tidak lahir karena sebuah kegiatan diberi nama “pengabdian”. Ia lahir ketika masyarakat benar-benar merasakan manfaat.
Ketika dokter hadir.
Ketika pasien diperiksa.
Ketika obat sampai.
Ketika tenaga kesehatan yang kekurangan dukungan mendapat bantuan.
Dan ketika sebuah perguruan tinggi bersedia membawa pengetahuan yang dimilikinya ke tempat yang membutuhkan.
Di sanalah identitas UMI sebagai Kampus Perjuangan dan Pengabdian serta Kampus Peduli dan Berbagi memperoleh maknanya. Bukan sebagai slogan. Tetapi sebagai tindakan.
Catur Dharma yang Turun ke Tengah Masyarakat
Kehadiran relawan medis juga memperlihatkan bagaimana Catur Dharma UMI bekerja di luar ruang kampus:
Pendidikan dan Pengajaran,
Penelitian,
Pengabdian kepada Masyarakat,
serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Ilmu yang dipelajari digunakan untuk melayani. Kompetensi profesional dibawa menuju masyarakat dan karakter diuji ketika keadaan tidak memberikan kenyamanan. Karena pendidikan karakter tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini ketika situasi baik-baik saja. Karakter terlihat ketika manusia tetap memilih melayani dalam keadaan sulit.
Gedung Bisa Runtuh, Pengabdian Jangan Ikut Runtuh
Perjalanan empat jam. Jalan rusak. Pegunungan. Bangunan puskesmas yang tidak lagi dapat digunakan. Tenda darurat. Fasilitas terbatas.
Semua itu dapat menjadi alasan untuk mengatakan keadaan terlalu sulit. Tetapi bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, menunggu bukan selalu sebuah pilihan. Karena itu, tenaga kesehatan setempat tetap bekerja. Relawan UMI datang memperkuat dan pelayanan dilanjutkan. Sederhana, tetapi justru di sana terdapat pesan yang jauh lebih besar. Gedung pelayanan kesehatan dapat runtuh. Tetapi selama manusia masih mau hadir untuk manusia lainnya, pelayanan tidak boleh ikut runtuh.
Dari Makassar, Ilmu Menemukan Jalan Pengabdiannya
Jauh dari ruang kuliah Universitas Muslim Indonesia di Makassar, sebuah tenda di pegunungan Manggarai menjadi ruang belajar yang berbeda. Di sana tidak ada papan tulis. Tidak ada ujian semester. Tetapi ada pelajaran tentang kemanusiaan. Bahwa ilmu memperoleh makna ketika digunakan. Bahwa profesi memperoleh kehormatan ketika melayani dan bahwa sebuah universitas dinilai bukan hanya ketika masyarakat datang ke kampus—tetapi juga ketika kampus bersedia datang kepada masyarakat.
Di Wae Codi, bangunan boleh rusak. Fasilitas boleh terbatas. Perjalanan boleh sulit. Tetapi selama masih ada warga yang membutuhkan—pelayanan harus terus berjalan.
(Humas UMI)























































































































