UMI Connection Memasuki Fase Pembangunan Infrastruktur Digital Menuju Smart Islamic AI-Driven University “Kami Sedang Membangun Otak Digital Universitas, Bukan Sekadar Gedung Baru”
Makassar — umi.ac.id Setelah memperkenalkan UMI Connection sebagai wajah baru transformasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), kini perubahan tersebut memasuki tahap yang lebih nyata. Di balik berbagai layanan digital yang akan dirasakan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat, UMI sedang membangun fondasi infrastruktur digital yang dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan tinggi hingga puluhan tahun ke depan.
Transformasi ini tidak hanya terlihat dari pengembangan aplikasi, tetapi dimulai dari sesuatu yang jarang terlihat oleh masyarakat: jaringan digital, pusat data, keamanan siber, integrasi sistem, serta pembangunan pusat kendali teknologi yang akan menjadi jantung operasional UMI Connection.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan, sebuah universitas modern tidak cukup hanya memiliki gedung yang megah. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu menopang kualitas pelayanan, memperkuat tata kelola, dan menghadirkan pengalaman belajar yang sesuai dengan tuntutan zaman.
“Kemajuan sebuah kampus tidak lagi hanya diukur dari tinggi bangunannya, tetapi dari kecerdasan sistem yang bekerja di dalamnya. Kami ingin membangun universitas yang mampu melayani lebih cepat, bekerja lebih cerdas, dan mengambil keputusan dengan lebih tepat. Infrastruktur digital yang kami bangun hari ini adalah investasi untuk generasi yang akan belajar di UMI puluhan tahun ke depan.”
Komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui investasi besar pada penguatan infrastruktur digital universitas.
UMI saat ini tengah melakukan modernisasi jaringan melalui pembangunan backbone fiber optic, peremajaan perangkat jaringan inti (core network infrastructure), peningkatan kapasitas bandwidth, serta penataan ulang arsitektur jaringan agar seluruh layanan digital mampu berjalan lebih stabil, cepat, aman, dan memiliki tingkat keandalan (high availability) yang tinggi.
Bersamaan dengan itu, UMI juga mempersiapkan pembangunan Gedung UMI Connection yang dirancang sebagai pusat transformasi digital universitas. Gedung ini bukan sekadar kantor teknologi informasi, melainkan akan menjadi pusat integrasi berbagai fungsi strategis, mulai dari Data Center, Network Operation Center (NOC), Security Operation Center (SOC), ruang kolaborasi digital, laboratorium Artificial Intelligence, pusat pengembangan aplikasi, hingga Digital Command Center yang akan mendukung pengelolaan universitas secara real time.
Seluruh infrastruktur tersebut dibangun untuk mewujudkan prinsip dasar UMI Connection, yaitu Satu Akses, Satu Data, Satu Proses, dan Satu Dashboard Pimpinan.
Artinya, seluruh sivitas akademika nantinya cukup menggunakan satu identitas digital (Single Sign-On) untuk mengakses berbagai layanan universitas. Seluruh data akademik, keuangan, sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, aset, kemahasiswaan, rumah sakit pendidikan, pesantren, hingga unit bisnis akan terintegrasi dalam satu ekosistem sehingga tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Untuk menjamin keandalan sistem tersebut, UMI juga membangun fondasi Enterprise Data Platform yang mencakup Data Warehouse, Cloud Infrastructure, sistem pencadangan (backup system), Disaster Recovery Center, serta penerapan Multi-Layer Cyber Security guna melindungi data dan layanan universitas dari berbagai risiko keamanan siber.
Wakil Rektor II UMI, Prof. Dr. Ir. Zakir Sabara H.W., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., menjelaskan, investasi terbesar dalam transformasi digital bukan semata-mata membeli perangkat, melainkan membangun fondasi agar seluruh sistem universitas dapat saling terhubung, berkembang, dan beradaptasi terhadap perubahan teknologi di masa depan.
“Kami tidak sedang menambah aplikasi. Kami sedang membangun fondasi agar seluruh kecerdasan universitas dapat saling terhubung. Infrastruktur digital yang kami bangun hari ini ibarat akar bagi sebuah pohon besar. Mungkin belum seluruhnya terlihat oleh masyarakat, tetapi dari akar yang kuat itulah akan tumbuh pelayanan yang cepat, tata kelola yang transparan, pembelajaran yang adaptif, dan inovasi yang berkelanjutan.”
Menurut dia, keberhasilan transformasi digital bukan ditentukan oleh banyaknya teknologi yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan universitas mengintegrasikan seluruh data dan proses bisnis dalam satu ekosistem yang mampu menghasilkan keputusan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih bertanggung jawab.
Karena itu, UMI juga terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dosen dan tenaga kependidikan dalam bidang literasi digital, tata kelola data, keamanan informasi, pemanfaatan Artificial Intelligence, serta budaya kerja berbasis teknologi. Transformasi digital dipandang sebagai perubahan cara berpikir dan cara bekerja, bukan sekadar perubahan perangkat.
Seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang UMI untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan bagi Generasi Z sekaligus mempersiapkan ekosistem pendidikan yang sesuai dengan karakter Generasi Alfa yang akan tumbuh bersama Artificial Intelligence, Internet of Things, dan teknologi cerdas lainnya.
























































































































