Rektor UMI: Sebelum Mengubah Teknologi, UMI Menyiapkan Pemimpinnya
UMI Islamic Strategic Leadership Reorientation Forum (UISLRF) 2026 Perkuat Kepemimpinan Islami Menuju Era UMI Connection
MAKASSAR, umi.ac.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) meyakini bahwa transformasi besar sebuah perguruan tinggi tidak pernah dimulai dari teknologi, melainkan dari manusia yang memimpinnya. Karena itu, sebelum memasuki era ekosistem digital UMI Connection, UMI terlebih dahulu memperkuat kualitas kepemimpinan melalui UMI Islamic Strategic Leadership Reorientation Forum (UISLRF) 2026 yang akan dilaksanakan pada 3–4 Agustus 2026 di Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI, Padanglampe, Kabupaten Pangkep.
Forum ini bukan sekadar pelatihan kepemimpinan. UISLRF merupakan momentum penyegaran visi, rekomitmen, sekaligus pematangan kepemimpinan untuk mempersiapkan proses transformasi yang lebih dini, terarah, dan berkelanjutan dalam menyongsong agenda strategis UMI menuju tahun 2030.
Transformasi tersebut diwujudkan melalui UMI Connection, sebuah ekosistem digital terintegrasi yang menjadi fondasi UMI menuju Smart Islamic AI-Driven University, dengan prinsip One Access, One Data, One Process, dan One Executive AI Dashboard. Melalui sistem ini, tata kelola universitas, pelayanan akademik, pengambilan keputusan, hingga pelaksanaan Catur Dharma Universitas Muslim Indonesia sebagaimana diatur dalam Statuta UMI 2024—meliputi Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter—akan terhubung dalam satu ekosistem yang lebih cerdas, efisien, transparan, dan berbasis data.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak akan pernah tercapai apabila hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur teknologi.
“Teknologi hanya akan menjadi perangkat apabila manusianya tidak ikut berubah. Yang paling penting adalah membangun cara berpikir, cara bekerja, dan karakter kepemimpinan yang siap menghadapi perubahan. Karena itu, sebelum membangun sistem digital, kita membangun dahulu pemimpin yang mampu menghidupkan sistem tersebut.”
Menurutnya, perubahan ekosistem organisasi akan sulit berhasil apabila tidak diikuti oleh perubahan mendasar dalam pola pikir (mindset), budaya kerja (culture), dan perilaku (behavior) seluruh pimpinan.
“UMI Connection bukan sekadar proyek digitalisasi. Ini adalah transformasi cara kita memimpin, berkolaborasi, melayani, dan mengambil keputusan. Ekosistem baru akan gagal apabila manusianya masih menggunakan cara berpikir lama. Karena itu, kepemimpinan harus bertransformasi lebih dahulu agar teknologi benar-benar menghadirkan kemaslahatan.”
UISLRF 2026 juga menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan UMI. Forum ini dirancang untuk menyiapkan kader-kader pemimpin secara berjenjang sehingga setiap proses estafet kepemimpinan berlangsung lebih matang, terencana, dan berkesinambungan.
UMI meyakini bahwa pemimpin masa depan tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual dan kemampuan memanfaatkan Artificial Intelligence, tetapi juga harus matang secara spiritual, siap lahir dan batin, memiliki integritas, serta tetap mengakar kuat pada nilai-nilai Islam yang menjadi identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah.
Dalam forum ini, para peserta akan mengikuti proses reorientasi kepemimpinan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tata kelola modern, pemanfaatan Artificial Intelligence, penguatan budaya kolaboratif, serta pengembangan kepemimpinan adaptif yang mampu menjawab berbagai ketidakpastian masa depan.
Sebanyak 100 pimpinan strategis UMI, mulai dari unsur Yayasan Wakaf UMI, Rektorat, Dekan, Wakil Dekan, Ketua Lembaga, Kepala Biro, Ketua Program Studi, hingga pimpinan unit strategis lainnya dijadwalkan mengikuti forum ini. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga akan menyusun Leadership Transformation Blueprint sebagai peta jalan perubahan di unit kerja masing-masing agar transformasi dapat berjalan secara terukur, berkelanjutan, dan saling terintegrasi.
Forum ini menghadirkan Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, serta Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib. Selain itu, hadir pula narasumber nasional Dr. Merza Gamal, Dr. H. Das’ad Latif, S.Ag., S.Sos., M.Si., Ph.D., dan Dr. H. Arrazy Hasyim yang akan memperkaya perspektif kepemimpinan Islam di tengah disrupsi teknologi dan perkembangan Artificial Intelligence.
Lebih dari sekadar forum diskusi, setiap unit kerja diwajibkan menghasilkan Roadmap Implementasi UMI Connection, program percepatan transformasi organisasi, serta komitmen membangun budaya Connected Islamic Leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu menghubungkan teknologi, manusia, nilai-nilai Islam, dan tata kelola modern dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Melalui UISLRF 2026, UMI menegaskan bahwa transformasi menuju 2030 bukan sekadar menghadirkan teknologi yang lebih maju, melainkan membangun generasi pemimpin yang mampu menghidupkan perubahan dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Sebab, bagi UMI, transformasi terbaik selalu dimulai dari pemimpin yang siap berubah sebelum mengubah organisasi. Inilah fondasi menuju universitas yang semakin bereputasi, berdampak, dan melahirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan peradaban.
(HUMAS)























































































































