Prof. Masrurah Mokhtar: Milad ke-72 Momentum Menguatkan Inovasi dan Mewujudkan Kampus Islami Berkelas Dunia
Yayasan Wakaf UMI Perkuat Infrastruktur, Transformasi Digital, dan Siapkan Pemimpin Masa Depan yang Amanah
MAKASSAR, umi.ac.id – Memperingati Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., menegaskan bahwa tema Milad tahun ini, “UMI Unggul: Menakar Potensi, Menguatkan Inovasi, dan Mewujudkan Kampus Islami Berkelas Dunia”, bukan sekadar slogan, tetapi merupakan arah strategis pembangunan UMI dalam menghadapi tantangan masa depan.
Dalam sambutannya pada puncak Milad ke-72 UMI, Prof. Masrurah menyampaikan bahwa perjalanan panjang UMI selama 72 tahun merupakan buah dari perjuangan, pengorbanan, doa, dan wakaf yang diwariskan oleh para pendiri serta diteruskan oleh seluruh keluarga besar UMI dari generasi ke generasi.
“Di balik usia yang matang ini terdapat perjuangan yang panjang, pengabdian yang tulus, serta amanah besar yang harus terus kita jaga. Karena itu Milad ke-72 bukan hanya momentum untuk bersyukur, tetapi juga momentum untuk memperkuat langkah menuju masa depan yang lebih unggul dan lebih berdampak,” ujarnya.
Menurut Prof. Masrurah, menakar potensi berarti mengenali dan mengoptimalkan seluruh kekuatan yang dimiliki UMI, mulai dari sejarah panjang, kepercayaan masyarakat, jaringan alumni yang luas, hingga nilai-nilai Islam yang menjadi identitas universitas.
“Potensi yang besar harus dikelola dengan tata kelola yang profesional, transparan, amanah, dan akuntabel agar manfaatnya semakin besar bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tuturnya.
Sementara itu, menguatkan inovasi, menurutnya, berarti membangun budaya perubahan yang berkelanjutan.
Perkembangan teknologi dan perubahan dunia yang begitu cepat menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi melalui pembaruan kurikulum, penguatan riset, serta pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Inovasi tidak hanya lahir dari laboratorium. Inovasi juga lahir dari cara kita berpikir, bekerja, melayani, dan memberikan manfaat kepada sesama,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Masrurah menegaskan bahwa cita-cita menjadi Kampus Islami Berkelas Dunia tidak hanya diukur dari kemegahan gedung ataupun capaian pemeringkatan internasional.
“Yang lebih penting adalah melahirkan lulusan yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislamannya,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen Yayasan Wakaf UMI dalam memperkuat institusi, berbagai proyek strategis terus dikembangkan.
Di antaranya penyelesaian Kampus UMI Bantaeng sebagai pusat pengembangan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah selatan Sulawesi Selatan, pembangunan GOR UMI berkapasitas 3.000 orang, serta penyelesaian Gedung Fakultas Kedokteran Gigi tujuh lantai di Jalan Kakatua.
Selain itu, pembangunan Gedung Kembar Fakultas Kedokteran juga kembali dilanjutkan guna memperkuat kawasan pendidikan kesehatan modern UMI.
Pada saat yang sama, Yayasan Wakaf UMI tengah mempersiapkan pembangunan UMI Connection Building, sebuah pusat pengembangan ekosistem digital yang akan menjadi jantung transformasi digital kampus melalui kerja sama strategis dengan mitra internasional dari Tiongkok.
“Insya Allah transformasi digital UMI kami targetkan dapat terimplementasi secara penuh paling lambat Semester Pertama Tahun 2028,” ungkap Prof. Masrurah.
Tidak hanya itu, Yayasan juga tengah mempersiapkan renovasi sejumlah fasilitas strategis, di antaranya Fakultas Farmasi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Pertanian dan Bioremidiasi Lahan Tambang, Menara UMI, serta pembangunan Gedung Fakultas Sastra sebagai pusat pengembangan ilmu-ilmu humaniora berbasis nilai-nilai Islam.
Pada momentum Milad ke-72 ini pula, UMI melaksanakan Soft Launching Masjid Umar Bin Khattab yang telah memasuki tahap akhir renovasi dan diharapkan menjadi pusat pembinaan spiritual sivitas akademika UMI.
Dalam bidang pengembangan sumber daya manusia, Prof. Masrurah menegaskan bahwa Yayasan Wakaf UMI akan melaksanakan Program Penguatan Kepemimpinan UMI bagi seluruh pemegang amanah pada berbagai level organisasi.
Program tersebut dirancang untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang amanah, profesional, adaptif terhadap perubahan, serta mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan tuntutan kepemimpinan modern di era digital.
“Kami menyadari bahwa transformasi digital tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan teknologi dan sistem yang canggih. Transformasi digital yang sesungguhnya harus dimulai dari transformasi manusianya,” ujarnya.
“Kami meyakini bahwa transformasi teknologi hanya akan berhasil jika diiringi transformasi manusia. Karena itu investasi terbesar yang sedang kami siapkan adalah investasi pada karakter, kepemimpinan, dan kaderisasi,” lanjutnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan keluarga besar UMI, pada momentum Milad ke-72 ini Yayasan Wakaf UMI juga menyerahkan Gaji ke-14 kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian mereka.
Sebelumnya, Yayasan juga telah menunaikan pembayaran Gaji ke-13 dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR).
“Ini bukan sekadar penghargaan material, tetapi bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas kerja keras seluruh keluarga besar UMI yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan dan kemajuan universitas,” katanya.
Lebih jauh, Prof. Masrurah mengungkapkan rencana besar pembangunan Menara UMI 23 Lantai, yang terinspirasi dari tanggal lahir UMI, yaitu 23 Juni 1954.
Menara tersebut dirancang menjadi ikon baru UMI sekaligus pusat kegiatan akademik, riset, inovasi, bisnis, dan kolaborasi internasional yang mendukung langkah UMI menuju kampus berkelas dunia.
Menutup sambutannya, Prof. Masrurah mengajak seluruh keluarga besar UMI untuk terus menjaga semangat wakaf, pengabdian, dan kebersamaan yang telah diwariskan para pendiri universitas.
“Tidak ada UMI yang unggul tanpa kebersamaan. Tidak ada kampus berkelas dunia tanpa integritas. Tidak ada kemajuan tanpa kerja keras, keikhlasan, dan semangat melayani. Mari kita rawat semangat wakaf dan pengabdian untuk membangun peradaban,” pungkasnya.
Memasuki usia ke-72 tahun, UMI terus meneguhkan jati dirinya sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak, serta Kampus Peduli dan Berbagi, yang siap menghadapi masa depan melalui inovasi, transformasi, dan pengabdian yang berkelanjutan.
(HUMAS)