Dari Kampus, Menjadi Dampak - Hasnawiah: Dari Perikanan UMI, Membangun Usaha hingga Mengembangkan SDM
Berangkat dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia, Ir. Hj. Hasnawiah Palanna menempuh perjalanan profesional yang berkembang dari pengalaman administrasi dan manajemen menuju kewirausahaan. Kini ia memimpin PT Sabina Solusi Pratama, dengan ruang kerja yang mempertemukan perencanaan bisnis, industri, mesin produksi, legalitas, manajemen, dan pengembangan sumber daya manusia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebuah perusahaan dapat membeli mesin. Perusahaan dapat membangun pabrik. Modal dapat menyediakan teknologi. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat dibangun hanya dengan uang: manusia yang mampu membuat semuanya bekerja.
Pemahaman itulah yang menjadi salah satu benang merah perjalanan Ir. Hj. Hasnawiah Palanna, alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia (FPIK UMI). Perjalanannya tidak sepenuhnya mengikuti garis lurus disiplin ilmu yang pernah dipelajarinya.
Dari perikanan, ia memasuki dunia administrasi dan manajemen. Dari sana, ia bergerak ke dunia usaha. Kemudian industri. Mesin produksi. Legalitas. Konsultasi bisnis. Hingga pengembangan sumber daya manusia. Bidangnya berubah. Tanggung jawabnya berkembang. Tetapi satu hal semakin kuat: usaha yang ingin tumbuh harus membuat manusianya ikut tumbuh.
Berawal dari Perikanan UMI
Hasnawiah merupakan alumni FPIK Universitas Muslim Indonesia Angkatan 1992. UMI kemudian menjadi salah satu fondasi awal perjalanan profesionalnya. Namun seperti banyak perjalanan alumni lainnya, bidang pekerjaan yang ditemuinya setelah meninggalkan kampus tidak selalu sama persis dengan disiplin ilmu yang dipelajari. Inilah salah satu realitas dunia profesional. Ijazah memberi identitas akademik. Ilmu memberi fondasi. Tetapi kehidupan menghadirkan banyak kemungkinan. Hasnawiah memilih memasukinya dengan terus belajar.
Dari Administrasi menuju Manajemen
Salah satu pengalaman awal perjalanan profesional Hasnawiah adalah bekerja sebagai sekretaris rektor di Sekolah Tinggi Manajemen Industri Indonesia. Sekilas, pekerjaan administratif terlihat jauh dari kewirausahaan. Namun dari ruang seperti inilah seseorang dapat belajar bagaimana organisasi bekerja. Dokumen harus tertata. Komunikasi harus berjalan. Agenda harus dikelola. Keputusan harus diterjemahkan menjadi pekerjaan. Dan pekerjaan membutuhkan koordinasi. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang kemudian mempertemukannya dengan manajemen dan dunia usaha. Sebab bisnis, pada dasarnya, bukan hanya tentang menjual sesuatu. Bisnis adalah kemampuan membuat banyak bagian bekerja sebagai satu sistem.
Memasuki Dunia Kewirausahaan
Perjalanan Hasnawiah kemudian berkembang ke berbagai bidang usaha. Ia membangun pengalaman melalui sejumlah perusahaan dan kegiatan bisnis, termasuk sektor yang berhubungan dengan industri air minum dalam kemasan, mesin produksi, konsultasi proyek industri, legalitas, dan manajemen usaha. Salah satu perusahaan yang kemudian kuat melekat pada perjalanan profesionalnya adalah PT Sabina Solusi Pratama. Ruang kerja perusahaan ini memperlihatkan karakter bisnis yang cukup luas. Tidak hanya menjual satu produk. Tetapi membantu proses usaha dari perencanaan hingga operasional.
Perencanaan bisnis.
Perencanaan bangunan.
Mesin produksi.
Perizinan.
Manajemen.
Hingga distribusi.
Artinya, persoalan yang dihadapi bukan sekadar: "Apa yang akan dijual?" Tetapi: "Bagaimana sebuah usaha dapat benar-benar berjalan?"
Dari Produk menuju Sistem
Dalam membangun sebuah industri, membeli mesin relatif mudah dibanding memastikan seluruh sistem bekerja.
Mesin membutuhkan operator.
Produksi membutuhkan standar.
Produk membutuhkan legalitas.
Perusahaan membutuhkan manajemen.
Manajemen membutuhkan manusia.
Dan manusia membutuhkan kompetensi.
Karena itu, semakin jauh seseorang masuk ke dunia usaha, semakin terlihat bahwa persoalan perusahaan bukan hanya persoalan barang. Ia adalah persoalan sistem. Di sinilah pengalaman Hasnawiah berkembang dari pengelolaan usaha menuju pemahaman yang lebih luas tentang organisasi. Produk dapat dijual sekali. Sistem yang baik membuat perusahaan mampu bekerja berulang kali.
Ketika Mesin Tidak Cukup
Pengalaman di bidang industri memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Mesin yang baik belum tentu menghasilkan perusahaan yang baik. Teknologi yang mahal belum tentu menghasilkan organisasi yang produktif. Sebab mesin tetap membutuhkan manusia.
Ada orang yang mengoperasikan.
Ada yang merawat.
Ada yang menjual.
Ada yang mengelola keuangan.
Ada yang memastikan legalitas.
Ada yang membangun relasi dengan pelanggan.
Dan ada pemimpin yang harus memastikan seluruhnya bergerak dalam arah yang sama.
Dari sinilah pengembangan sumber daya manusia memperoleh posisi penting. Mesin meningkatkan kapasitas produksi. Manusia menentukan kapasitas perusahaan.
Dari Mengelola Usaha menuju Menumbuhkan Manusia
Hasnawiah kemudian memperkuat kapasitas dirinya melalui berbagai program pengembangan kepemimpinan dan manajemen. Ia mengikuti pelatihan kepemimpinan. Manajemen. Team building atau pembangunan tim. Penjualan. Komunikasi. Dan pengembangan kapasitas eksekutif. Proses belajar tersebut memperlihatkan bahwa menjadi pengusaha bukan berarti berhenti menjadi peserta didik. Justru semakin besar tanggung jawab, semakin banyak kompetensi yang harus dipelajari. Sebab pemimpin perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap angka. Ia juga bertanggung jawab terhadap manusia yang menghasilkan angka tersebut. Di sinilah lahir salah satu gagasan utama perjalanan Hasnawiah: bisnis bukan hanya tentang membesarkan usaha. Bisnis juga tentang membesarkan kapasitas manusia di dalamnya.
SDM sebagai Infrastruktur Usaha
Dalam bisnis, istilah infrastruktur biasanya mengingatkan kita pada bangunan, mesin, jaringan, atau fasilitas. Padahal ada infrastruktur lain yang tidak kalah penting: kompetensi manusia. Perusahaan dapat memiliki gedung. Mesin. Modal. Teknologi. Bahkan pasar. Namun tanpa orang yang mampu mengelolanya, seluruh aset tersebut kehilangan sebagian besar nilainya. Karena itu, sumber daya manusia bukan sekadar bagian administrasi perusahaan. SDM adalah infrastruktur hidup sebuah organisasi.
Ia berpikir.
Belajar.
Beradaptasi.
Berkomunikasi.
Menciptakan solusi.
Dan menentukan apakah perusahaan mampu bertahan ketika keadaan berubah.
Dari Pengusaha menuju Pengembang Kapasitas
Perhatian terhadap manusia kemudian memperluas perjalanan profesional Hasnawiah. Ia tidak hanya berada di ruang pengelolaan perusahaan, tetapi juga pada aktivitas yang berhubungan dengan pelatihan dan peningkatan produktivitas. Di titik ini, pengalaman bisnis memperoleh dimensi lain. Pengetahuan yang diperoleh dari menjalankan usaha dapat diteruskan. Pengalaman kegagalan dapat menjadi pembelajaran. Sistem yang pernah dibangun dapat menjadi contoh. Dan orang lain dapat memperoleh kapasitas baru untuk mengembangkan usahanya sendiri. Inilah perbedaan antara sekadar membangun perusahaan dan ikut membangun ekosistem kewirausahaan. Pengusaha membangun usaha. Pengembang manusia membantu lebih banyak orang memiliki kemampuan untuk membangun.
Belajar Sepanjang Perjalanan
Salah satu karakter yang terlihat dalam perjalanan Hasnawiah adalah kemauan untuk terus memperkuat kapasitas. Dunia usaha berubah cepat.
Cara menjual berubah.
Teknologi berubah.
Regulasi berubah.
Konsumen berubah.
Cara orang bekerja juga berubah.
Karena itu, pengalaman masa lalu saja tidak cukup. Seorang entrepreneur harus terus belajar membaca perubahan. Pelatihan kepemimpinan dan manajemen yang diikutinya menjadi bagian dari proses tersebut. Bukan untuk mengumpulkan sertifikat. Tetapi untuk memperbarui cara memimpin. Sebab perusahaan yang ingin terus bertumbuh membutuhkan pemimpin yang juga terus bertumbuh.
Ketika Pengalaman Kembali ke Kampus
Pada Oktober 2024, perjalanan Hasnawiah kembali bersentuhan dengan kampus tempat ia pernah belajar. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI menghadirkannya sebagai salah satu narasumber Seminar Nasional Kewirausahaan 2024. Tema kegiatan tersebut sangat relevan dengan perjalanan yang telah dibangunnya: "Entrepreneur sebagai Way of Life bagi Generasi Milenial."
Ia kembali ke kampus bukan lagi sebagai mahasiswa. Ia kembali membawa pengalaman. Di hadapan generasi yang sedang mempersiapkan masa depan, perjalanan seorang alumni memperoleh fungsi baru: menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.
Alumni sebagai Jembatan Pengalaman
Ada pengetahuan yang diperoleh dari buku. Ada pengetahuan yang diperoleh dari dosen. Dan ada pengetahuan yang hanya dapat diperoleh setelah bertahun-tahun menghadapi dunia nyata.
Membangun usaha.
Menghadapi perubahan pasar.
Mengelola manusia.
Menghadapi regulasi.
Mengambil risiko.
Menghadapi kegagalan.
Kemudian mencoba kembali.
Ketika alumni membawa pengalaman tersebut kembali ke kampus, mahasiswa memperoleh sesuatu yang tidak selalu tersedia di ruang kuliah: pengalaman yang sudah diuji oleh kenyataan. Di sinilah hubungan alumni dan almamater memperoleh nilai strategis. Alumni bukan hanya hasil pendidikan sebuah universitas. Alumni dapat kembali menjadi sumber pendidikan bagi generasi berikutnya.
Tidak Harus Bekerja Sesuai Nama Program Studi
Perjalanan Hasnawiah juga menyampaikan pesan penting bagi mahasiswa. Ia berangkat dari Fakultas Perikanan. Tetapi perjalanan profesionalnya berkembang menuju dunia usaha, manajemen, industri, legalitas, dan pengembangan SDM.
Hal itu tidak membuat pendidikan perikanannya kehilangan arti. Kampus tidak hanya memberikan pengetahuan teknis. Kampus membentuk kemampuan belajar. Disiplin. Cara menghadapi masalah. Keberanian mengambil keputusan. Dan kemampuan beradaptasi. Dunia setelah kampus mungkin membawa seseorang ke bidang yang berbeda. Yang menentukan kemudian adalah kemampuannya untuk terus belajar. Program studi memberi fondasi. Kehidupan profesional menentukan seberapa luas fondasi itu akan dikembangkan.
UMI dalam Perjalanan Hasnawiah
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Hasnawiah menunjukkan bentuk lain dari dampak alumni. Tidak semua alumni harus menjadi akademisi. Tidak semua harus menjadi pejabat. Tidak semua harus bekerja persis sesuai bidang pendidikan awalnya. Sebagian memilih membangun usaha. Menciptakan aktivitas ekonomi. Membangun organisasi. Mengembangkan manusia. Dan berbagi pengalaman kepada generasi berikutnya.
Pada 2024, ketika FPIK UMI menghadirkannya sebagai salah satu alumni dalam Seminar Nasional Kewirausahaan, siklus itu seperti kembali ke titik awal. Dulu ia datang ke kampus untuk belajar. Puluhan tahun kemudian, ia kembali ke kampus untuk berbagi apa yang telah dipelajarinya dari kehidupan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Hasnawiah memulai perjalanan pendidikan tingginya dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia. Dari sana, jalannya berkembang ke berbagai ruang. Administrasi. Manajemen. Industri. Kewirausahaan. Legalitas. Produktivitas. Dan pengembangan sumber daya manusia. Perjalanannya menunjukkan bahwa membangun perusahaan bukan hanya tentang menambah aset. Bukan hanya membeli mesin. Bukan hanya meningkatkan penjualan. Sebab di balik seluruh proses bisnis selalu ada manusia.
Manusia yang harus belajar.
Manusia yang harus berkembang.
Manusia yang harus diberi kesempatan.
Dan manusia yang akhirnya menentukan apakah sebuah organisasi mampu bertahan.
Karena itu, pertumbuhan perusahaan dan pertumbuhan manusia seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Usaha yang sehat bukan hanya usaha yang semakin besar. Usaha yang sehat adalah usaha yang membuat orang-orang di dalamnya ikut bertumbuh.
Dari Perikanan UMI, Hasnawiah memasuki dunia usaha. Dari dunia usaha, ia belajar membangun sistem. Dari sistem, ia menemukan pentingnya manusia. Dan dari pengalaman panjang itu, ia kembali membawa pengetahuan kepada generasi berikutnya. Dari mengelola usaha menuju menumbuhkan manusia.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































