#15 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Kombes Pol. Dr. dr. Fajar Amansyah: Dari FK UMI, Mengabdi melalui Kedokteran Kepolisian
Alumni Fakultas Kedokteran UMI angkatan 1993 ini menempuh perjalanan sebagai dokter spesialis penyakit dalam hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Kabiddokkes Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.
MAKASSAR, umi.ac.id — Seorang dokter dapat mengabdikan ilmunya melalui banyak jalan. Ada yang setiap hari bertemu pasien di rumah sakit. Ada yang memilih pendidikan dan penelitian. Ada pula yang membawa kompetensi kedokterannya ke dalam institusi negara untuk mendukung pelayanan kesehatan, tugas kepolisian, dan kepentingan masyarakat.
Jalan terakhir itu menjadi bagian dari perjalanan Kombes Pol. Dr. dr. Fajar Amansyah, Sp.PD., FINASIM., CMSC., QHIA., AIFO-K.
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 1993 tersebut merupakan dokter spesialis penyakit dalam yang kini dipercaya sebagai Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih dari tiga dekade setelah memasuki FK UMI, ilmu kedokteran yang dahulu dipelajarinya terus berkembang dalam profesi dan tanggung jawab yang semakin luas.
Berawal dari Fakultas Kedokteran UMI
Tahun 1993 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Fajar Amansyah. Ia memasuki Fakultas Kedokteran UMI dan mulai membangun fondasi keilmuan yang kemudian mengantarkannya menjadi dokter. Perjalanan profesionalnya berlanjut hingga ia menekuni spesialisasi penyakit dalam. Sebagai dokter spesialis, Fajar juga menjadi bagian dari organisasi profesi kedokteran, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.
Namun perjalanan kariernya tidak berhenti pada pelayanan klinis. Kompetensi kedokteran yang dimilikinya kemudian dipertemukan dengan tanggung jawab lain: kedokteran kepolisian.
Ketika Kedokteran Menjadi Bagian dari Pelayanan Kepolisian
Sebelum mendapat amanah di Yogyakarta, Fajar tercatat pernah menjalankan tugas sebagai Ahli Madya Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Pengalaman tersebut menempatkannya pada lingkungan pelayanan kesehatan yang memiliki karakter khusus. Kedokteran kepolisian tidak hanya membutuhkan kompetensi medis. Di dalamnya terdapat tanggung jawab mendukung kesehatan personel, pelayanan kedokteran, penanganan kondisi tertentu yang berkaitan dengan tugas kepolisian, serta pelayanan kepada masyarakat sesuai kewenangan institusi. Di sinilah pengalaman sebagai dokter spesialis bertemu dengan tugas pelayanan publik. Ilmu yang sama tetap digunakan. Namun tanggung jawab dan lingkungan pengabdiannya semakin luas.
Dari Makassar ke Yogyakarta
Perjalanan tersebut kemudian membawanya dari Makassar ke Yogyakarta. Sejak Juli 2024, Fajar dipercaya mengemban amanah sebagai Kabiddokkes Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanggung jawab ini menempatkannya bukan hanya sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai pemimpin dalam bidang kedokteran dan kesehatan kepolisian. Ia berada pada ruang yang membutuhkan kemampuan medis sekaligus kepemimpinan, koordinasi, tata kelola pelayanan kesehatan, dan kesiapan mendukung kebutuhan institusi serta masyarakat.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa kompetensi seorang dokter dapat berkembang jauh melampaui ruang praktik. Seorang dokter dapat menangani pasien. Tetapi ketika dipercaya memimpin sebuah sistem pelayanan kesehatan, tanggung jawabnya ikut berkembang kepada orang-orang, organisasi, mutu pelayanan, dan keputusan yang harus diambil. Tetap Belajar dan Mengembangkan Ilmu
Di tengah perjalanan profesinya, Fajar juga terus mengembangkan kompetensi. Berbagai kualifikasi dan sertifikasi yang menyertai perjalanan profesionalnya memperlihatkan bahwa pendidikan seorang dokter tidak selesai ketika memperoleh gelar. Perkembangan ilmu kesehatan menuntut dokter untuk terus belajar, memperbarui kompetensi, dan memahami perubahan dalam pelayanan kesehatan. Data alumni juga mencatat keterlibatan Fajar dalam kegiatan penelitian, termasuk kajian yang berkaitan dengan secretome dari hypoxia stem cell dalam pengendalian cytokine.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan sisi lain perjalanan profesionalnya. Di satu sisi, ia menjalankan pelayanan dan kepemimpinan. Di sisi lain, ilmu kedokteran tetap menjadi bidang yang terus dipelajari dan dikembangkan.
Lebih dari Tiga Dekade Setelah Menjadi Mahasiswa UMI
Jika perjalanan tersebut ditarik kembali ke 1993, terdapat rentang lebih dari tiga dekade proses pendidikan, profesi, pengalaman, dan tanggung jawab. Ia pernah menjadi mahasiswa kedokteran UMI. Kemudian menjadi dokter. Menekuni spesialisasi penyakit dalam. Bertugas dalam lingkungan Rumah Sakit Bhayangkara. Hingga akhirnya dipercaya memimpin bidang kedokteran dan kesehatan di Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.
Setiap fase membawa tanggung jawab yang berbeda. Namun ada sesuatu yang tidak berubah: ilmu kedokteran digunakan untuk melayani manusia. Itulah salah satu makna pendidikan yang sesungguhnya. Gelar menunjukkan seseorang pernah menyelesaikan pendidikan. Tetapi manfaat dari pendidikan baru terlihat ketika ilmu tersebut terus digunakan dengan kompeten dan bertanggung jawab.
Dari FK UMI ke Berbagai Ruang Pelayanan Kesehatan
Perjalanan Fajar Amansyah juga menjadi bagian dari jejak alumni Fakultas Kedokteran UMI yang kini bekerja di berbagai sektor kesehatan. Ada alumni yang melayani pasien.
Ada yang memimpin rumah sakit.
Ada yang berada dalam pengelolaan kesehatan pemerintah.
Ada yang masuk ke ruang kebijakan publik.
Dan ada pula yang mengabdikan kompetensi kedokterannya melalui institusi kepolisian.
Jalannya berbeda, tetapi semuanya berangkat dari fondasi yang sama: pendidikan kedokteran dan tanggung jawab profesi. Bagi UMI, jejak alumni seperti inilah yang membuat hubungan kampus dengan masyarakat tidak selesai pada hari wisuda. Kampus mendidik mahasiswa untuk satu masa tertentu, tetapi manfaat alumninya dapat berlangsung puluhan tahun setelah mereka meninggalkan ruang kuliah.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kombes Pol. Dr. dr. Fajar Amansyah memulai salah satu bagian penting perjalanan hidupnya dari Fakultas Kedokteran UMI pada 1993. Hari ini, perjalanan tersebut telah membawanya menjadi dokter spesialis penyakit dalam sekaligus mengemban tanggung jawab dalam kedokteran kepolisian.
Dari mahasiswa menjadi dokter.
Dari dokter menjadi spesialis.
Dari pelayanan medis menuju kepemimpinan kedokteran dan kesehatan kepolisian.
Perjalanan itu tidak berlangsung singkat. Ada pendidikan yang harus diselesaikan. Ada kompetensi yang terus dikembangkan. Ada pengalaman yang dibangun. Dan ada kepercayaan yang harus dijaga.
Di situlah Dari Kampus, Menjadi Dampak menemukan maknanya. Sebab keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak hanya terlihat dari berapa banyak mahasiswa yang diwisuda. Ia juga dapat dilihat dari apa yang dilakukan alumninya dengan ilmu yang mereka peroleh setelah meninggalkan kampus. Fajar Amansyah memilih salah satu jalannya melalui kedokteran kepolisian. Melayani dengan kompetensi medis. Memimpin dengan tanggung jawab. Dan terus membawa ilmu kedokteran ke tempat masyarakat dan institusi membutuhkannya. Dari FK UMI, menjadi dokter.
Dari kompetensi, menjadi kepercayaan. Dari kepercayaan, menjadi tanggung jawab. Dan dari tanggung jawab, menjadi pengabdian. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































