Maulid Nabi di UMI, Keteladanan Rasulullah Didorong Menjadi Budaya Kerja
UMI menjadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat budaya kerja yang jujur, disiplin, amanah, peduli, dan berorientasi pada pelayanan.
MAKASSAR, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar Zikir, Doa, dan Silaturahim yang dirangkaikan dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Gelanggang Olahraga (GOR) UMI, Jumat (4/9/2026). Bukan sekadar memperingati kelahiran Rasulullah SAW, momentum tersebut diarahkan menjadi ruang muhasabah bagi keluarga besar UMI tentang bagaimana keteladanan Nabi diterapkan dalam bekerja, melayani, menjaga amanah, dan memperlakukan sesama.
Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., dalam sambutan yang dibacakan Wakil Rektor I UMI Prof. Dr. Ir. H. Dirgahayu A. Lantara, M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa nilai Maulid harus hadir dalam kehidupan sehari-hari sivitas akademika.
“Memperingati Maulid jangan berhenti pada mengenang kelahiran Rasulullah. Yang lebih penting adalah meniru cara beliau menjalani amanah. Beliau jujur, disiplin, amanah, bekerja keras, tetapi juga penuh kasih sayang. Inilah yang perlu kita bawa dalam bekerja di UMI.”
Bekerja Bukan Sekadar Menyelesaikan Administrasi
Sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, UMI menempatkan pekerjaan sebagai amanah sekaligus bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Karena itu, keluarga besar UMI diajak tidak sekadar hadir dan menyelesaikan pekerjaan administratif, tetapi terus memperbaiki niat, meningkatkan disiplin, bekerja profesional, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan yang baik. Rektor juga mengingatkan bahwa meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada UMI harus diikuti peningkatan kualitas pelayanan.
Bertambahnya mahasiswa bukan sekadar bertambahnya angka. Setiap mahasiswa yang mempercayakan pendidikannya kepada UMI adalah amanah yang harus dijaga. Karena itu, keteladanan Rasulullah harus terlihat dalam cara dosen mendidik, tenaga kependidikan melayani, pimpinan mengambil keputusan, serta seluruh unsur kampus menjalankan tanggung jawabnya.
Kepedulian Harus Terlihat dalam Tindakan
Nilai kepedulian juga menjadi bagian dari budaya institusi yang terus diperkuat UMI. Salah satunya melalui Beasiswa Afirmasi Penyelesaian Studi senilai Rp1,599 miliar kepada 121 mahasiswa yang hampir menyelesaikan pendidikan tetapi menghadapi persoalan ekonomi dan keluarga. UMI juga mengirim Tim Relawan Medis UMI ke Nusa Tenggara Timur untuk membantu masyarakat terdampak bencana melalui pemeriksaan dan pelayanan kesehatan serta dukungan kebutuhan dasar bagi penyintas. Kepedulian yang sama diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial, termasuk donor darah.
“Meneladani Rasulullah bukan hanya melalui ucapan dan peringatan Maulid. Keteladanan itu harus terlihat dari kepedulian dan keberanian membantu ketika saudara kita mengalami kesulitan. Inilah salah satu wajah nyata Kampus Ilmu dan Ibadah: ilmunya bekerja, imannya menggerakkan, dan kehadirannya memberi manfaat,” pesan Rektor.
Bagi UMI, pendidikan tinggi karena itu tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Ilmu harus membentuk karakter dan akhirnya memberikan manfaat kepada masyarakat.
Akhlak Menjadi Semakin Penting di Era Digital
Pesan tersebut diperkuat melalui Hikmah Maulid yang disampaikan Dr. H. Dimas Maryono, M.A. dengan tema “Dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Momentum Membangun Akhlak Mulia dan Karakter Unggul di Era Digital.” Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang semakin cepat, sivitas akademika diajak memahami bahwa kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan bersama kematangan karakter.
Teknologi dapat mengubah cara manusia belajar dan bekerja, tetapi kejujuran, amanah, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak tetap menjadi dasar dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan. Pesan ini menjadi semakin relevan dengan transformasi digital yang sedang dikembangkan UMI.
Universitas Muslim Indonesia (UMI) menuju Smart Islamic AI-Driven University melalui UMI Connection. Transformasi tersebut diarahkan bukan hanya untuk menghadirkan teknologi yang lebih maju, tetapi juga memperkuat pelayanan, ketepatan data, transparansi, efisiensi, serta kemampuan institusi memahami kebutuhan mahasiswa lebih cepat.
Prestasi Harus Berjalan Bersama Karakter
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan sejumlah perkembangan UMI, mulai dari capaian akreditasi Unggul sejumlah program studi, pembukaan program studi baru, prestasi mahasiswa tingkat nasional dan internasional, hingga kepercayaan kepada UMI sebagai Tuan Rumah Abdidaya Ormawa 2026. Namun capaian akademik dan kelembagaan tersebut harus berjalan bersama pembangunan karakter.
Sebab reputasi perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya prestasi yang diraih, tetapi juga oleh kualitas manusia dan manfaat yang dihasilkan. Karena itu, Rektor mengajak keluarga besar UMI membawa semangat Maulid keluar dari GOR UMI dan menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari.
Jujur dalam mengelola amanah.
Disiplin dalam bekerja.
Santun dalam melayani.
Tegas terhadap aturan.
Peduli kepada sesama.
Dan ikhlas dalam pengabdian.
Pesan tersebut kemudian dirangkum Rektor dalam satu kalimat: “UMI tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar. UMI membutuhkan orang baik yang bekerja dengan benar, dan orang benar yang tetap bekerja dengan hati.” Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di UMI akhirnya tidak berhenti pada zikir, doa, dan silaturahim. Momentum itu menjadi pengingat bahwa kemajuan universitas harus dimulai dari manusia yang bekerja di dalamnya.
Teknologi boleh semakin maju. Sistem dapat semakin digital. Prestasi dapat terus bertambah. Namun amanah, akhlak, disiplin, kepedulian, dan kualitas pelayanan harus tetap menjadi karakter keluarga besar Universitas Muslim Indonesia.























































































































