UMI dan Kanazawa University Buka Peluang Sandwich Program, Mahasiswa Bisa Riset di Jepang
Kolaborasi diarahkan pada student exchange, joint research, mobilitas dosen, dan pembimbingan riset lintas negara
MAKASSAR, umi.ac.id — Peluang mobilitas mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) ke Jepang terbuka melalui pengembangan kerja sama akademik dengan Kanazawa University. Peluang tersebut mengemuka dalam Networking Session bersama President of Kanazawa University, Prof. Dr. Wada Takashi, beserta jajaran delegasi, Jumat, 28 Agustus 2026, di Ruang Rapat A, Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin.
Salah satu pembahasan menarik muncul dalam sesi question and answer (Q&A). Dosen Fakultas Farmasi UMI sekaligus alumni Kanazawa University, Apt. Muammar Fawwaz, S.Farm., M.Si., Ph.D., menanyakan peluang pengembangan sandwich program antara UMI dan Kanazawa University. Pertanyaan tersebut mendapat respons positif dari pihak Kanazawa University. Meskipun Kanazawa University tidak memiliki sandwich program sebagai program resmi yang berdiri sendiri, skema serupa tetap dimungkinkan melalui pengaturan akademik antara kedua universitas.
Skema tersebut dapat dilakukan apabila terdapat supervisor di Kanazawa University yang bersedia membimbing mahasiswa dan terdapat kesepakatan akademik antara kedua institusi. Peluang ini membuka ruang bagi mahasiswa UMI untuk menjalankan sebagian kegiatan akademik atau penelitian di Kanazawa University. Pada saat yang sama, mahasiswa tetap terhubung dengan program studi dan pembimbing akademiknya di UMI.
Bagi UMI, peluang tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang konkret karena langsung berkaitan dengan pengembangan pengalaman akademik dan riset mahasiswa.
Wakil Rektor V UMI Bidang Promosi dan Kerja Sama, Ir. Hj. Setyawati Yani, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., mengatakan UMI terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi dengan Kanazawa University.
“Kami terbuka jika ada mahasiswa Kanazawa University yang ingin mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan Indonesia. UMI siap menjadi mitra dan memfasilitasi kegiatan akademik mereka di Indonesia,” ujar Setyawati.
Sebaliknya, peluang yang sama dapat dikembangkan bagi mahasiswa UMI untuk memperoleh pengalaman akademik di Jepang, khususnya pada bidang yang memiliki keterkaitan dengan keilmuan dan riset mereka. Kerja sama tidak berhenti pada mobilitas mahasiswa. UMI juga melihat peluang pengembangan joint research, faculty mobility, visiting lecturer, seminar bersama, hingga publikasi ilmiah kolaboratif. Potensi tersebut semakin terbuka karena UMI memiliki sejumlah dosen yang memiliki pengalaman akademik di Jepang. Lima di antaranya merupakan alumni Kanazawa University dari Fakultas Farmasi UMI. Kehadiran para alumni dapat menjadi penghubung akademik untuk mengidentifikasi bidang riset yang potensial dikembangkan bersama, termasuk peluang pembimbingan dan mobilitas penelitian.
Menurut Setyawati, UMI ingin memastikan kerja sama internasional memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh sivitas akademika.
“Kerja sama internasional harus membuka pintu. Pintu bagi mahasiswa untuk belajar, bagi dosen untuk berkolaborasi, dan bagi peneliti untuk menghasilkan karya bersama,” katanya.
Pertemuan dengan Kanazawa University menjadi momentum awal untuk menerjemahkan hubungan akademik tersebut ke dalam program yang lebih konkret. Ke depan, UMI dan Kanazawa University berpeluang mengembangkan kerja sama melalui student exchange, mobilitas dosen, joint research, publikasi bersama, seminar internasional, serta skema mobilitas penelitian seperti sandwich program.
Bagi UMI, internasionalisasi bukan sekadar membawa nama kampus ke luar negeri. Internasionalisasi adalah memastikan semakin banyak mahasiswa dan dosen UMI memiliki kesempatan belajar, meneliti, dan membangun jejaring bersama dunia.
(Humas UMI)























































































































