#2 UMIConnection - Titipan Peradaban: Mengapa Universitas Muslim Indonesia Menghubungkan Budaya Kerja dengan Shalat Berjamaah? Karena Profesionalisme dan Spiritualitas tidak Pernah Dipertentangkan
#seri2
#umiconnection — #titipanperadaban
Titipan Peradaban #2
“Untuk Mereka yang Percaya Bahwa Disiplin Terbaik Dimulai Ketika Manusia Menepati Janjinya kepada Allah.”
Makassar, umi.ac.id — Selama bertahun-tahun, ukuran kedisiplinan di banyak institusi sering kali dinilai dari hal-hal yang sederhana.
Datang tepat waktu.
Pulang sesuai jadwal.
Menyelesaikan pekerjaan.
Memenuhi target.
Semua itu penting.
Namun Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah kedisiplinan terhadap aturan manusia akan menjadi lebih kuat ketika seseorang juga terbiasa disiplin memenuhi panggilan Allah SWT?
Dari pertanyaan itulah lahir sebuah budaya kerja yang menjadi bagian dari karakter UMI. Budaya yang tidak sekadar mengatur bagaimana seseorang menggunakan waktunya untuk bekerja, tetapi juga mengingatkan bahwa di tengah kesibukan administrasi, rapat, pelayanan, penelitian, maupun pembelajaran, selalu ada waktu untuk berhenti sejenak dan memenuhi panggilan Rabb semesta alam.
Di UMI, pembiasaan kedisiplinan berjalan beriringan dengan ibadah berjamaah. Awal aktivitas kerja dibangun melalui pembiasaan shalat dhuha berjamaah. Di tengah hari, aktivitas akademik dan administrasi berhenti sejenak untuk shalat zuhur berjamaah. Menjelang berakhirnya aktivitas kerja, sivitas akademika kembali dipertemukan dalam shalat ashar berjamaah.
Bagi UMI, semua itu bukan sekadar mekanisme kehadiran. Ia adalah bagian dari pembentukan budaya. Sebuah ikhtiar untuk menanamkan kesadaran bahwa pekerjaan adalah amanah dan ibadah adalah fondasi kehidupan. Bahwa keberhasilan profesional dan keberkahan hidup tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan, membangun universitas tidak cukup hanya dengan membangun sistem yang baik. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang menjalankan sistem tersebut.
“Kami ingin budaya kerja di UMI tidak hanya melahirkan insan yang disiplin, tetapi juga pribadi yang selalu mengingat bahwa setiap amanah pekerjaan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada institusi, tetapi juga kepada Allah SWT. Ketika ibadah menjadi bagian dari kehidupan, profesionalisme memperoleh fondasi moral yang lebih kokoh.”
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…” (QS. Al-’Ankabut: 45).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa shalat bukan sekadar ibadah ritual. Shalat yang dijaga dengan baik semestinya memberi pengaruh pada perilaku: membentuk kejujuran, kedisiplinan, pengendalian diri, tanggung jawab, dan kesadaran untuk menjaga amanah.
Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia, Dr. KH. M. Ishaq Shamad, M.A., menambahkan, budaya kerja berbasis nilai-nilai ibadah merupakan bagian dari pembentukan karakter yang dilakukan secara konsisten.
“Kami tidak sedang menjadikan ibadah sebagai formalitas administrasi. Yang ingin dibangun adalah kesadaran bahwa seorang pendidik, tenaga kependidikan, maupun pimpinan kampus adalah hamba Allah SWT yang mengemban amanah. Ketika shalat menjadi titik temu seluruh sivitas akademika setiap hari, tumbuh rasa kebersamaan, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa semua manusia sama di hadapan Allah.”
Menurut beliau, kebiasaan berkumpul dalam shalat berjamaah juga menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, membangun komunikasi, dan menumbuhkan budaya saling menghormati di lingkungan kampus.
Di hadapan Allah, tidak ada sekat jabatan.Tidak ada perbedaan kedudukan. Tidak ada yang lebih tinggi hanya karena memiliki kewenangan.
Semua berdiri dalam satu saf. Dan dari sanalah semangat kebersamaan itu diharapkan kembali dibawa ke ruang kerja.
Melalui UMI Connection, budaya tersebut diperkuat dengan tata kelola yang semakin terintegrasi. Teknologi membantu mengelola administrasi, layanan, dan berbagai proses akademik secara lebih efektif, sementara nilai-nilai Islam menjadi fondasi agar kemajuan tersebut tetap berpihak pada manusia.
Inilah makna UMI Connection.
Menghubungkan sistem dengan nilai.
Menghubungkan teknologi dengan akhlak.
Menghubungkan pekerjaan dengan ibadah.
Menghubungkan disiplin dengan keberkahan.
Perjalanan menuju Smart Islamic Digitally-Empowered University karena itu tidak hanya diukur dari kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan atau menjalankan transformasi digital. Transformasi juga diukur dari kemampuan manusia di dalamnya untuk tetap menjaga integritas, tanggung jawab, kepedulian, dan nilai-nilai spiritual di tengah perubahan yang semakin cepat. Sebab teknologi dapat mempercepat pekerjaan. Tetapi nilai-nilai yang menjaga arah perjalanan. Teknologi dapat membuat sistem semakin efisien. Tetapi manusia tetap membutuhkan hati nurani untuk menentukan apa yang benar dan apa yang patut dilakukan.
Seluruh ikhtiar tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter. Dalam semangat itulah, UMI membangun budaya kerja yang tidak hanya efektif dan profesional, tetapi juga berakar pada nilai-nilai keislaman dan menjadi keteladanan bagi mahasiswa serta masyarakat.
Kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat, UMI ingin menitipkan sebuah renungan. Mungkin ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya seberapa awal ia datang ke kantor. Bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang ia selesaikan. Bukan pula semata-mata seberapa tinggi pencapaian yang berhasil diraih. Tetapi juga seberapa mampu ia menjaga hatinya tetap rendah di tengah kesibukan. Seberapa sering ia mengingat Allah SWT di tengah keberhasilan. Dan seberapa jujur ia menjalankan amanah ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Karena sesungguhnya, disiplin yang paling kuat bukan lahir dari rasa takut kepada atasan.
Disiplin yang paling kuat lahir dari kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengetahui setiap niat, setiap pekerjaan, dan setiap amanah yang kita jalankan.
Ketika tidak ada kamera yang merekam.
Ketika tidak ada atasan yang mengawasi.
Ketika tidak ada penghargaan yang menunggu.
Di situlah integritas menemukan maknanya.
Dan di situlah profesionalisme bertemu dengan iman.
Itulah Titipan Peradaban #2 dari Universitas Muslim Indonesia. Sebuah keyakinan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh manusia-manusia yang bekerja keras. Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu menyatukan ilmu dengan iman, profesionalisme dengan integritas, disiplin dengan tanggung jawab, dan pekerjaan dengan pengabdian. Karena ketika pekerjaan dipertemukan dengan ibadah, yang lahir bukan hanya kinerja yang baik. Tetapi juga amanah yang bernilai dan kehidupan yang penuh keberkahan.
UMI Connection. Menghubungkan Data. Menguatkan Manusia. Membangun Masa Depan. (Bersambung)
:::























































































































