Dari Kampus, Menjadi Dampak - Rafdi Abdul Majid: Dari Dosen Teknik Kimia UMI, Kini Menjadi Plant Metallurgist PT Nusa Halmahera Minerals
Pernah menjadi dosen Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rafdi Abdul Majid kini bekerja sebagai Plant Metallurgist di PT Nusa Halmahera Minerals. Perjalanannya mempertemukan tiga ruang yang saling terhubung: pendidikan Teknik Kimia, penelitian metalurgi dan mineral processing, serta penerapan ilmu dalam industri pengolahan emas.
MAKASSAR, umi.ac.id — Dulu, Rafdi Abdul Majid menjelaskan proses kepada mahasiswa di ruang kuliah. Hari ini, ia berhadapan langsung dengan proses dalam skala industri. Ada bijih yang harus diolah. Ada parameter proses yang harus dipantau. Ada data produksi yang harus dianalisis. Ada laboratorium. Ada target recovery. Ada tim yang harus berkoordinasi. Dan pada akhirnya, ada emas dan perak yang harus diperoleh melalui proses pengolahan yang efektif.
Perubahan ruang kerja itu menggambarkan perjalanan Rafdi Abdul Majid, alumnus Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia. Ia pernah menjadi dosen di almamaternya. Kini, Rafdi bekerja sebagai Plant Metallurgist PT Nusa Halmahera Minerals, perusahaan yang bergerak dalam pertambangan emas.
Berawal dari Teknik Kimia UMI
Rafdi menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia di Universitas Muslim Indonesia pada 2014. Teknik Kimia memberinya fondasi untuk memahami proses. Neraca massa. Perpindahan panas. Operasi teknik kimia. Reaksi. Material. Pengendalian proses. Dan berbagai prinsip yang digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi produk bernilai.
Ketertarikannya pada dunia industri sudah terlihat sejak mahasiswa. Pada 2013, Rafdi menjalani internship pada Process Technology Department PT Vale Indonesia. Dari ruang kuliah, ia mulai melihat bagaimana teori proses digunakan dalam operasi industri.
Di kampus, proses dipelajari. Di industri, proses harus bekerja.
Dari Teknik Kimia menuju Metalurgi
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Rafdi memperluas bidang keilmuannya. Ia melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia pada bidang Teknik Metalurgi dan Material. Pilihan tersebut mempertemukan dua disiplin yang memiliki irisan kuat. Teknik Kimia memberinya fondasi mengenai proses. Metalurgi memperdalam pemahamannya mengenai material, mineral, dan bagaimana sumber daya tersebut diolah. Ketertarikannya semakin mengarah pada mineral processing.
Jejak penelitian Rafdi juga menunjukkan bidang tersebut. Profil SINTA mencatat Minerals Processing dan Materials Engineering sebagai bidang keilmuannya, sementara sejumlah publikasinya membahas pengolahan dan pemurnian material, termasuk pengayaan unsur tanah jarang serta peningkatan kadar tantalum dan niobium dari terak timah Bangka. Dengan demikian, perpindahannya ke industri mineral bukan perjalanan yang tiba-tiba. Fondasinya telah dibangun melalui pendidikan dan penelitian.
Kembali ke UMI sebagai Dosen
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Rafdi kembali ke Universitas Muslim Indonesia. Kali ini bukan sebagai mahasiswa. Ia kembali sebagai dosen Teknik Kimia UMI. Di ruang akademik, ilmu yang sebelumnya ia pelajari mulai dibagikan kepada mahasiswa.
Jejak publikasi ilmiah juga menunjukkan afiliasinya dengan Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri UMI pada periode tersebut. Ia terlibat dalam berbagai penelitian, termasuk pemanfaatan kitosan, bioadsorben untuk logam berat, material, hingga pengolahan mineral. (Jurnal FTI UMI)
Rafdi juga pernah menjalankan tanggung jawab sebagai Editor in Chief Journal of Chemical Process Engineering. Di titik ini, perjalanannya berada dalam tiga aktivitas akademik: mengajar, meneliti, dan menulis.
Ketika Ilmu Diajarkan
Menjadi dosen memberikan pengalaman yang berbeda. Seseorang tidak cukup hanya memahami materi. Ia harus mampu menjelaskannya. Pertanyaan mahasiswa memaksa konsep menjadi lebih sederhana. Diskusi menguji argumentasi. Penelitian menguji hipotesis. Dan publikasi memaksa gagasan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Karena itu, mengajar bukan hanya proses memberikan pengetahuan. Sering kali, mengajar justru membuat seseorang semakin memahami apa yang diketahuinya.
Menguasai ilmu membuat seseorang mampu bekerja. Mengajarkan ilmu memaksanya memahami mengapa sesuatu bekerja.
Namun perjalanan Rafdi tidak berhenti di kampus.
Dari Ruang Akademik ke Tambang Emas
Pada 2022, Rafdi memasuki babak baru. Ia bergabung dengan PT Nusa Halmahera Minerals. Perjalanannya berlangsung bertahap. Ia memulai sebagai Graduate Metallurgist. Kemudian berkembang menjadi Jr. Metallurgist. Sejak Januari 2024, ia menjalankan tanggung jawab sebagai Plant Metallurgist. Di sinilah ilmu yang sebelumnya dipelajari, diteliti, ditulis, dan diajarkan bertemu dengan operasi industri. Bukan lagi hanya membahas proses di papan tulis. Proses harus benar-benar berjalan.
Ketika Teori Bertemu Plant
Sebagai Plant Metallurgist, ruang kerjanya berkaitan dengan pemantauan parameter plant, pelaporan produksi, koordinasi proyek pengembangan proses, serta pengelolaan tim pada area tertentu dalam operasi pengolahan. Profil profesionalnya juga mencatat pengalaman mengendalikan dan mengevaluasi parameter plant, melakukan metallurgical accounting, serta mengembangkan proyek untuk perbaikan proses pengolahan emas dan perak.
Di sinilah perbedaan antara memahami teori dan menjalankan proses menjadi nyata. Di kampus, sebuah variabel dapat diubah dalam simulasi. Di industri, perubahan variabel dapat memengaruhi produksi. Efisiensi. Recovery. Biaya. Kualitas produk. Bahkan stabilitas operasi. Karena itu, keputusan harus didasarkan pada data. Di laboratorium, data menjelaskan eksperimen. Di plant, data ikut menentukan keputusan operasi.
Dari Mineral menuju Emas
Bidang metalurgi ekstraksi memiliki satu pertanyaan mendasar: bagaimana mineral bernilai dapat dipisahkan dan diperoleh secara efektif dari material yang mengandungnya? Dalam pengolahan emas, pertanyaan tersebut berkembang menjadi rangkaian proses yang jauh lebih kompleks. Ukuran material. Grinding. Leaching. Recovery. Konsentrasi. Impuritas. Efisiensi. Dan berbagai parameter proses saling memengaruhi. Rafdi bahkan aktif membagikan catatan profesional mengenai proses pengolahan emas, termasuk evaluasi recovery pada proses electrowinning. Artinya, perjalanan akademiknya menemukan laboratorium yang jauh lebih besar: plant pengolahan mineral.
Dari Menjelaskan Proses menuju Menjaga Proses
Ada perubahan tanggung jawab yang menarik dalam perjalanan Rafdi. Ketika menjadi dosen, tugasnya antara lain menjelaskan bagaimana suatu proses bekerja. Ketika menjadi metallurgist, pertanyaannya berubah: apakah proses itu benar-benar bekerja sebagaimana mestinya?
Jika tidak, mengapa? Variabel mana yang berubah? Apa penyebabnya? Apa dampaknya? Apa yang harus diperbaiki?
Di sinilah ilmu teknik menemukan bentuk praktisnya. Bukan sekadar mengetahui rumus. Tetapi menggunakan pengetahuan untuk membaca kondisi nyata dan membuat keputusan. Dulu menjelaskan proses. Kini ikut memastikan proses menghasilkan.
Ilmu yang Tidak Berhenti di Kampus
Perjalanan Rafdi juga menunjukkan bahwa perpindahan dari akademik menuju industri tidak berarti meninggalkan ilmu. Justru pengetahuan akademik memperoleh konteks baru. Penelitian melatih cara bertanya. Data melatih cara membuktikan. Mengajar melatih cara menjelaskan. Sedangkan industri melatih cara mengambil keputusan dalam keterbatasan nyata. Empat kemampuan itu saling memperkuat. Belajar → Meneliti → Mengajar → Menerapkan. Siklus tersebut menjadi pola utama perjalanan profesional Rafdi.
Tetap Terhubung dengan Dunia Keinsinyuran
Di tengah aktivitas profesionalnya, Rafdi tetap terhubung dengan ekosistem keinsinyuran. Ia juga memiliki pengalaman organisasi yang tumbuh sejak mahasiswa, termasuk pernah memimpin Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia UMI.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa kompetensi teknik tidak berkembang hanya melalui pekerjaan individual. Ada organisasi. Ada komunitas profesi. Ada jejaring. Dan ada pertukaran pengetahuan. Bagi seorang engineer, semuanya penting karena teknologi terus berubah dan persoalan industri terus berkembang.
UMI dalam Perjalanan Rafdi Abdul Majid
Universitas Muslim Indonesia memiliki posisi khusus dalam perjalanan Rafdi. UMI adalah tempat ia memperoleh pendidikan Teknik Kimia. Kemudian menjadi tempat ia kembali sebagai dosen. Di sana ia mengajar. Meneliti. Menulis. Dan ikut membangun aktivitas akademik. Setelah itu, perjalanannya bergerak menuju industri pengolahan mineral.
Artinya, hubungan Rafdi dengan UMI memiliki dua fase sekaligus: UMI pernah menjadi tempat ia belajar, kemudian menjadi tempat ia mengajar.
Kini pengalaman tersebut dibawa ke industri.
Dari Dosen Teknik Kimia menuju Plant Metallurgist
Perjalanan Rafdi dapat diringkas dalam satu lintasan: Mahasiswa Teknik Kimia → Magister Metalurgi → Peneliti → Dosen Teknik Kimia UMI → Metallurgist → Plant Metallurgist. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa karier teknik tidak selalu berjalan dalam satu ruang. Seseorang dapat bergerak dari kampus ke industri. Dari penelitian menuju operasi. Dari teori menuju plant. Yang penting adalah benang merah keilmuannya tetap kuat.
Dalam perjalanan Rafdi, benang merah itu adalah: proses. Dulu ia mempelajarinya. Kemudian menelitinya. Lalu mengajarkannya. Hari ini, ia menggunakannya dalam industri pengolahan emas.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Rafdi Abdul Majid berangkat dari Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia. Dari UMI, ia memperoleh fondasi ilmu proses. Dari pendidikan metalurgi, ia memperdalam pengolahan mineral. Dari penelitian, ia belajar membuktikan. Dari ruang kuliah, ia belajar menjelaskan. Dan dari industri, ia belajar memastikan semuanya bekerja dalam kondisi nyata.
Perjalanannya menunjukkan bahwa ilmu tidak harus memilih antara kampus dan industri. Keduanya dapat menjadi bagian dari satu perjalanan profesional. Kampus membangun fondasi. Penelitian mempertajam pengetahuan. Mengajar memperkuat pemahaman. Industri menguji semuanya.
Hari ini, mantan dosen Teknik Kimia UMI itu bekerja sebagai Plant Metallurgist PT Nusa Halmahera Minerals.
Dari papan tulis menuju plant. Dari menjelaskan proses menuju menjaga proses. Dari dosen menuju industri emas. Ilmu yang matang bukan hanya ilmu yang dapat diajarkan. Ilmu yang matang adalah ilmu yang mampu bekerja ketika berhadapan dengan kenyataan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































