Dari Kampus, Menjadi Dampak - Halimahtul Wildan: Dari Sistem Informasi UMI, Juara KMI Expo hingga Menjadi CEO
Berangkat dari Program Studi Sistem Informasi Universitas Muslim Indonesia, Halimahtul Wildan, S.Kom., M.Kom. membangun perjalanan dari mahasiswa wirausaha menjadi pemimpin usaha dan penggerak kewirausahaan generasi muda. Ia pernah meraih pendanaan P2MW, membawa FYJ.Durio meraih prestasi pada KMI Expo XIV 2023, memimpin Perhimpunan Mahasiswa Wirausaha Indonesia Sulawesi Selatan, menjadi mentor dan reviewer program kewirausahaan mahasiswa, hingga kini memimpin PT Amanah Barokah Center sebagai Chief Executive Officer.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebuah ide mahasiswa biasanya menghadapi dua kemungkinan: berhenti sebagai tugas, atau diuji menjadi sesuatu yang nyata. Halimahtul Wildan memilih yang kedua.
Ketika menjadi mahasiswa Sistem Informasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), ia tidak hanya belajar bagaimana teknologi dan data bekerja. Ia mencoba membangun usaha, mengikuti kompetisi, mencari pendanaan, membangun jejaring, mengembangkan organisasi. Dan perlahan berpindah posisi: dari mahasiswa yang membutuhkan kesempatan, menjadi orang yang ikut membuka kesempatan bagi mahasiswa lain.
Berawal dari Sistem Informasi UMI
Halimahtul menempuh pendidikan pada Program Studi Sistem Informasi UMI. Di kampus, proses belajarnya tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Ia pernah menjadi asisten laboratorium, aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa, terlibat dalam pengabdian, serta memasuki ekosistem kewirausahaan mahasiswa.
Sistem Informasi memberinya satu fondasi penting: melihat persoalan sebagai sistem. Ada masalah, ada data, ada pengguna, ada proses, ada teknologi. Dan ada solusi yang harus dapat dijalankan.
Cara berpikir seperti itu kemudian bertemu dengan dunia kewirausahaan. Sebab bisnis pun berangkat dari pertanyaan yang hampir sama: masalah apa yang dapat kita selesaikan?
Ketika Kulit Durian Menjadi Ide Usaha
Salah satu pengalaman penting Halimahtul lahir dari sesuatu yang sangat sederhana: kulit durian. Bagi sebagian orang, kulit durian selesai ketika buahnya dimakan. Bagi Halimahtul dan tim, limbah tersebut justru menjadi awal sebuah gagasan.
Mereka mengembangkan FYJ.Durio, usaha yang memanfaatkan kulit durian menjadi produk pengharum ruangan. Gagasannya sederhana, tetapi cara berpikir di belakangnya penting: ada limbah, ada masalah, ada kemungkinan pemanfaatan, ada produk, dan ada pasar.
FYJ.Durio kemudian memperoleh pendanaan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 pada kategori Jasa dan Perdagangan. Perjalanan itu berlanjut ke KMI Expo XIV 2023, tempat tim tersebut mencatatkan prestasi pada kategori Jasa dan Perdagangan.
Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sisa, lahirlah nilai baru. Wirausaha sering dimulai ketika seseorang melihat kemungkinan pada sesuatu yang dianggap selesai oleh orang lain.
Dari Ide menuju Eksekusi
Banyak orang memiliki ide. Tidak semuanya menjadi usaha. Perbedaannya sering berada pada satu kata: eksekusi.
Ide harus diuji. Produk harus dibuat. Pasar harus dipahami. Tim harus dibangun. Pendanaan harus dicari. Kegagalan harus diperbaiki. Dan ketika sebuah gagasan tidak berjalan sesuai rencana, entrepreneur harus memutuskan apakah berhenti atau mencoba pendekatan lain.
Pengalaman P2MW dan KMI Expo mempertemukan Halimahtul dengan proses tersebut sejak masih mahasiswa. Kewirausahaan kemudian tidak lagi hanya menjadi teori. Ia menjadi pengalaman.
Dari Penerima Program menjadi Mentor
Ada satu perubahan menarik dalam perjalanan Halimahtul. Pada awalnya, ia berada di posisi mahasiswa yang mengikuti program kewirausahaan. Ia belajar, mengajukan gagasan, menerima pendanaan, mengikuti kompetisi. Kemudian posisinya berubah. Ia mulai dipercaya menjadi mentor P2MW dan terlibat sebagai reviewer program kewirausahaan mahasiswa.
Perubahan ini penting. Sebab ukuran perkembangan seseorang bukan hanya ketika ia semakin banyak memperoleh kesempatan. Ada fase ketika pengalaman yang telah diperoleh mulai digunakan untuk membantu orang lain memperoleh kesempatan yang sama.
Dulu mencari peluang. Kemudian belajar membuka peluang.
Dari Peserta menuju Penggerak
Perjalanan tersebut semakin luas ketika Halimahtul dipercaya memimpin Perhimpunan Mahasiswa Wirausaha Indonesia (PMWI) Provinsi Sulawesi Selatan periode 2022–2024. Di sini, kewirausahaan tidak lagi hanya berbicara tentang usaha miliknya sendiri. Ada mahasiswa lain, ada komunitas, ada jejaring, ada pengalaman yang perlu dibagikan, ada keberanian yang perlu ditumbuhkan. Dan ada generasi muda yang perlu diyakinkan bahwa mereka dapat mulai membangun sesuatu bahkan sebelum lulus.
Perubahan peran ini dapat diringkas sederhana: Participant → Entrepreneur → Mentor → Ecosystem Builder.
Dari peserta menjadi pelaku. Dari pelaku menjadi mentor. Dari mentor menjadi bagian dari pembangun ekosistem.
Kewirausahaan sebagai Ruang Belajar
Kewirausahaan sering dibaca hanya dari omzet dan keuntungan. Padahal bagi mahasiswa, proses membangun usaha juga merupakan ruang belajar yang sangat besar. Mereka belajar mengambil keputusan, berkomunikasi, menghadapi penolakan, mengelola waktu, bekerja dalam tim, membaca kebutuhan orang lain. Dan menerima kenyataan bahwa ide yang mereka sukai belum tentu dibutuhkan pasar.
Di sinilah kewirausahaan membentuk sesuatu yang lebih penting daripada sebuah produk: kapasitas untuk bertindak.
Mahasiswa tidak hanya bertanya: "Setelah lulus saya bekerja di mana?" Mereka mulai berani bertanya: "Masalah apa yang bisa saya selesaikan dan peluang apa yang bisa saya ciptakan?"
Ketika Teknologi Bertemu Kewirausahaan
Latar belakang Sistem Informasi memberi warna tersendiri dalam perjalanan Halimahtul. Teknologi tidak harus selalu berakhir pada profesi programmer atau pekerjaan di depan komputer. Teknologi dapat menjadi alat untuk memahami pengguna, mengolah data, membangun proses, mengembangkan bisnis, menghubungkan pasar, dan menciptakan solusi.
Karena itu, hubungan antara Sistem Informasi dan kewirausahaan sebenarnya sangat dekat. Keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan melihat persoalan. Kemudian merancang sistem untuk menyelesaikannya.
Teknologi memberi alat. Kewirausahaan menentukan masalah apa yang layak diselesaikan dengan alat tersebut.
Dari Kampus menuju CEO
Perjalanan profesional Halimahtul kemudian berkembang lebih jauh. Sejak 2023, ia tercatat sebagai Chief Executive Officer PT Amanah Barokah Center. Peran ini membawa tantangan yang berbeda. Menjadi CEO tidak lagi hanya tentang memiliki ide. Ada organisasi yang harus dikelola, orang yang harus dipimpin, keputusan yang harus dibuat, risiko, target, pelanggan. Dan ada keberlanjutan usaha.
Pengalaman mahasiswa yang dahulu dimulai dari program kewirausahaan kini bergerak ke tingkat yang berbeda: membangun dan memimpin organisasi nyata.
CEO yang Kembali Menjadi Mahasiswa
Namun ada sisi lain yang menarik. Ketika perjalanan profesionalnya berkembang, Halimahtul justru kembali ke ruang belajar. Ia melanjutkan pendidikan Magister Information Systems Management di BINUS University. Pada jenjang tersebut, ia memperdalam hubungan antara inovasi, sistem informasi, data, penelitian, dan dampak nyata. Perjalanan itu diselesaikannya dengan predikat Summa Cum Laude.
Ada pesan penting di sini. Menjadi CEO tidak membuat proses belajar selesai. Sebaliknya, tanggung jawab yang semakin besar justru membutuhkan kapasitas yang terus diperbarui. Naik jabatan tidak boleh berarti berhenti belajar.
Dari Sistem Informasi menuju Sistem Kesempatan
Jika perjalanan Halimahtul dibaca secara utuh, ada transformasi yang menarik. Pada awalnya ia belajar Sistem Informasi. Kemudian ia memasuki sistem kewirausahaan mahasiswa. Ia menerima pendanaan, mengikuti kompetisi, membangun usaha, memimpin organisasi, menjadi mentor, menjadi reviewer, hingga memimpin perusahaan.
Artinya, ia tidak lagi hanya berada di dalam sebuah sistem. Ia mulai ikut membantu orang lain memasuki sistem tersebut. Inilah yang dapat disebut: Sistem Kesempatan.
Sebuah ekosistem tempat pengalaman seorang mahasiswa tidak berhenti menjadi keberhasilan pribadi, tetapi digunakan untuk membuka jalan bagi mahasiswa berikutnya.
Dari Kompetisi menuju Regenerasi
Prestasi mahasiswa memiliki nilai. Tetapi prestasi akan memiliki dampak lebih besar ketika melahirkan regenerasi. Juara kompetisi adalah capaian. Menjadi entrepreneur adalah perjalanan. Tetapi membantu entrepreneur baru tumbuh adalah multiplikasi dampak.
Di sinilah posisi mentor menjadi penting. Seseorang yang pernah mengalami proses dapat memperpendek kurva belajar orang berikutnya. Ia mengetahui bagaimana mengembangkan ide, bagaimana menyusun proposal, bagaimana menghadapi evaluasi, bagaimana menjalankan usaha. Dan bagaimana bangkit ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Dampak terbesar dari sebuah pengalaman adalah ketika pengalaman itu membuat perjalanan orang lain menjadi lebih mungkin.
UMI dalam Perjalanan Halimahtul Wildan
Universitas Muslim Indonesia menjadi titik penting dalam perjalanan Halimahtul. Di Sistem Informasi UMI, ia memperoleh fondasi akademik. Di laboratorium, ia memperoleh pengalaman teknis. Di organisasi, ia belajar bekerja bersama orang lain. Di program kewirausahaan, ia menguji gagasan. Di kompetisi, ia menguji keberanian. Dan dari seluruh proses tersebut, perjalanan profesionalnya berkembang.
Yang menarik, pengalaman itu kemudian tidak berhenti pada dirinya. Ia menjadi mentor, reviewer, pemimpin organisasi wirausaha, dan CEO. Dengan demikian, hubungan kampus dan alumni tidak berhenti ketika ijazah diberikan. Apa yang pernah diterima dari ekosistem pendidikan dapat berkembang menjadi kapasitas untuk menciptakan kesempatan baru.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Halimahtul Wildan berangkat dari Sistem Informasi Universitas Muslim Indonesia. Dari sana, ia tidak hanya belajar teknologi. Ia belajar melihat masalah. Kemudian mencoba mengubah masalah menjadi gagasan. Gagasan menjadi usaha. Usaha menjadi pengalaman. Pengalaman menjadi kepemimpinan. Dan kepemimpinan menjadi kesempatan untuk membantu orang lain berkembang.
Perjalanannya dapat diringkas: Student → Entrepreneur → Champion → Mentor → CEO → Ecosystem Builder.
Dulu ia mengikuti program. Kemudian memenangkan kompetisi. Lalu membangun usaha. Memimpin organisasi. Menjadi mentor. Dan kini memimpin perusahaan.
Perjalanannya menunjukkan bahwa dampak pendidikan tidak selalu selesai ketika seorang mahasiswa berhasil. Dampak menjadi lebih besar ketika keberhasilan itu menular menjadi keberanian bagi orang lain untuk mulai. Karena entrepreneur bukan hanya orang yang mampu melihat peluang. Entrepreneur yang berdampak adalah mereka yang ikut membuat lebih banyak orang berani menciptakan peluang.
Dari Sistem Informasi menuju Sistem Kesempatan. Dari membangun usaha menuju menumbuhkan wirausaha. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































