#3 UMIConnection - Titipan Peradaban: Integritas Bukan Dimulai Ketika Seseorang Memegang Kekuasaan, Integritas Dimulai Ketika Seseorang Belajar Mengatakan “Tidak” kepada Sesuatu yang tidak Semestinya
#seri3
UMI Connection – Titipan Peradaban #3
“Untuk Mereka yang Ingin Pulang Membawa Rezeki yang Bersih: Sebab Keberkahan Tidak Pernah Lahir dari Pemberian yang Mengaburkan Amanah.”
Makassar, umi.ac.id — Hampir semua orang tua memiliki doa yang sama ketika melepas anaknya menempuh pendidikan tinggi.
Semoga ilmunya bermanfaat.
Semoga pekerjaannya baik.
Semoga rezekinya halal.
Semoga hidupnya diberkahi.
Doa-doa itu terdengar sederhana. Namun sesungguhnya, di dalamnya tersimpan harapan yang sangat besar. Karena keberhasilan seorang anak tidak hanya diukur dari seberapa tinggi jabatan yang kelak diraihnya. Bukan pula semata-mata dari seberapa besar penghasilan yang diperolehnya.
Tetapi dari satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Apakah ia tetap menjadi manusia yang jujur ketika memiliki kesempatan untuk tidak jujur?
Apakah ia tetap menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi?
Apakah ia mampu mengatakan tidak ketika sebuah pemberian mulai mengganggu objektivitas?
Dan apakah ia masih memilih jalan yang benar ketika jalan yang salah terlihat lebih mudah?
Universitas Muslim Indonesia (UMI) meyakini bahwa karakter tidak dibentuk pada hari pertama seseorang menjadi pejabat. Tidak dibentuk ketika seseorang mulai memegang kewenangan. Dan tidak pula tiba-tiba muncul ketika seseorang telah memiliki jabatan tinggi. Integritas dibangun jauh sebelumnya.
Ketika seseorang masih menjadi mahasiswa.
Ketika masih belajar.
Ketika masih diberi amanah kecil.
Ketika mulai memahami bahwa kejujuran bukan sesuatu yang dipakai hanya ketika menguntungkan.
Karena seseorang yang terbiasa menjaga amanah dalam perkara kecil akan lebih siap menjaga amanah ketika kelak memegang perkara yang lebih besar.
Atas dasar itulah, UMI membangun budaya anti-gratifikasi sebagai bagian dari pendidikan karakter dan tata kelola yang berintegritas. Bagi UMI, ini bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap aturan. Ini adalah ikhtiar menjaga kemurnian amanah. Sebab sebuah pemberian dapat terlihat sederhana. Tetapi ketika pemberian itu mulai memengaruhi keputusan, mengubah objektivitas, atau menimbulkan rasa berutang budi, maka persoalannya tidak lagi sederhana. Di situlah integritas diuji.
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan, kepercayaan masyarakat merupakan salah satu aset paling berharga yang dimiliki sebuah perguruan tinggi.
“Kepercayaan tidak dibangun oleh kata-kata. Kepercayaan lahir dari kebiasaan menjaga amanah dalam setiap keputusan, sekecil apa pun. Karena itu, kami ingin seluruh keluarga besar UMI tumbuh dalam budaya yang menjadikan integritas bukan sebagai slogan, tetapi sebagai cara hidup.”
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Ayat ini mengingatkan bahwa amanah bukan sekadar kewajiban kepada manusia. Ia adalah bagian dari pertanggungjawaban seorang hamba kepada Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kejujuran dan amanah dalam kehidupan. Karena pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya terlihat ketika ia memiliki sedikit pilihan. Kualitas seseorang justru terlihat ketika ia memiliki banyak kesempatan untuk memilih, tetapi tetap memilih yang benar.
Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia, Dr. KH. M. Ishaq Shamad, M.A., menjelaskan, pendidikan karakter akan kehilangan makna apabila tidak diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari.
“Integritas bukan sesuatu yang muncul ketika seseorang telah menjadi pemimpin. Integritas dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, budaya anti-gratifikasi di UMI merupakan bagian dari pembinaan karakter agar setiap insan kampus terbiasa menjaga hati, menjaga amanah, dan menjaga kepercayaan.”
Beliau menambahkan, kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang dapat memengaruhi objektivitas merupakan bagian penting dari pembentukan profesional yang kelak dipercaya masyarakat. Karena itu, pendidikan integritas tidak boleh menunggu seseorang memiliki jabatan. Ia harus dimulai sebelum jabatan itu datang.
Melalui UMI Connection, tata kelola universitas terus diperkuat dengan sistem yang semakin transparan, terdokumentasi, terintegrasi, dan akuntabel.
Teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat proses pengawasan, meningkatkan kualitas pelayanan, mempercepat administrasi, dan membangun tata kelola yang semakin terbuka.
Namun teknologi tetaplah alat. Yang menjaga integritas tetaplah manusia. Sebab sistem yang baik membutuhkan manusia yang baik untuk menjalankannya. Inilah makna UMI Connection:
Menghubungkan sistem dengan transparansi.
Menghubungkan pelayanan dengan kejujuran.
Menghubungkan kewenangan dengan tanggung jawab.
Menghubungkan teknologi dengan integritas.
Perjalanan menuju Smart Islamic Digitally-Empowered University karena itu tidak hanya berbicara tentang kecerdasan buatan, digitalisasi, dan sistem yang semakin canggih. Transformasi juga harus memperkuat budaya amanah, mempersempit ruang penyimpangan, mendorong keputusan yang objektif, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Sebab secanggih apa pun teknologi yang dimiliki sebuah institusi, semuanya akan kehilangan makna apabila manusianya kehilangan integritas. Seluruh ikhtiar tersebut dilaksanakan dalam semangat Catur Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter. Karena pendidikan karakter tidak cukup diajarkan. Ia harus dipraktikkan.
Dalam proses belajar.
Dalam pelayanan.
Dalam penelitian.
Dalam penggunaan kewenangan.
Dalam pengambilan keputusan.
Dan dalam setiap amanah yang dipercayakan kepada seseorang.
Kepada seluruh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat, UMI ingin menitipkan satu keyakinan.
Jangan pernah menukar nama baik dengan keuntungan sesaat.
Jangan pernah menukar amanah dengan kemudahan yang tidak semestinya.
Jangan pernah menukar integritas dengan kenyamanan yang hanya bertahan sementara.
Sebab rezeki yang bersih mungkin tidak selalu datang paling cepat. Tetapi ia datang membawa ketenangan. Membawa keberkahan. Dan yang paling penting, membawa harga diri. Ada hal-hal yang mungkin bisa dibeli dengan uang. Tetapi ketenangan hati tidak pernah bisa dibeli. Ada jabatan yang bisa diperoleh melalui kekuasaan. Tetapi kepercayaan tidak pernah bisa dipaksakan. Dan ada keuntungan yang bisa dinikmati sesaat. Tetapi nama baik yang rusak dapat menjadi beban yang dibawa bertahun-tahun.
Karena itu, ketika suatu hari nanti seorang alumni UMI berdiri di ruang pengambilan keputusan, memegang kewenangan, mengelola anggaran, memimpin perusahaan, melayani pasien, menegakkan hukum, atau mengabdi kepada masyarakat, ia harus mengingat satu hal:
Yang sedang diuji bukan hanya kemampuanmu.
Yang sedang diuji adalah amanahmu.
Mungkin tidak ada kamera.
Mungkin tidak ada saksi.
Mungkin tidak ada orang yang mengetahui.
Tetapi Allah SWT mengetahui.
Dan di situlah sesungguhnya integritas menemukan maknanya. Pada akhirnya, dunia akan selalu membutuhkan orang-orang yang cerdas. Tetapi dunia akan jauh lebih membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya. Itulah Titipan Peradaban dari Universitas Muslim Indonesia. Sebuah keyakinan bahwa universitas yang hebat bukan hanya melahirkan lulusan yang kompeten. Universitas yang hebat melahirkan manusia-manusia seperti itulah lahir profesi yang bermartabat.
Lahir institusi yang dipercaya.
Lahir kepemimpinan yang amanah.
Dan pada akhirnya, lahir sebuah peradaban yang memiliki kehormatan.
UMI Connection. Menghubungkan Data. Menguatkan Manusia. Membangun Masa Depan. (Bersambung)























































































































