Kalimantan Utara Buka Pintu Kolaborasi Riset: Dari Persoalan Daerah Menuju Kebijakan dan Dampak
MAKASSAR, umi.ac.id —Perguruan tinggi dituntut untuk tidak lagi hadir sekadar sebagai penyedia penelitian (research provider), melainkan sebagai mitra ilmiah strategis (scientific partner) yang ikut menyelesaikan persoalan riil masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muslim Indonesia (UMI) membuka ruang kolaborasi konkret dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) untuk mentransformasi hasil riset menjadi kebijakan publik yang berdampak nyata.
Peluang kemitraan ini mengemuka dalam LP2S Transformation & Impact Strategic Forum 2026 yang berlangsung pada 1–2 September 2026 di Menara Kampus UMI Makassar.
Dalam forum penyusunan Rencana Operasional (Renop) LP2S UMI 2026–2031 tersebut, UMI menghadirkan Bertius, S.Hut.T, dari Bapperida Provinsi Kalimantan Utara sebagai narasumber strategis.
Bapperida Kaltara Tawarkan Model Co-Creation for Impact
Dalam paparannya bertajuk "Regional Research Challenging (Impact Strategic)", Bertius mengungkapkan bahwa Kaltara yang memiliki luas kawasan perbatasan Indonesia Malaysia mencapai 36.349 km², memiliki potensi riset luar biasa sekaligus tantangan pembangunan yang kompleks.
Kaltara menawarkan pendekatan baru melalui paradigma co-creation for impact, di mana perguruan tinggi dilibatkan sejak tahap awal identifikasi masalah (co-identification), perancangan riset (co-design), hingga penerjemahan hasil riset menjadi kebijakan daerah (knowledge translation).
"Riset tidak boleh berhenti sebagai laporan di atas meja. Riset harus menghasilkan keputusan yang lebih baik dan dampak pembangunan yang nyata bagi masyarakat," tegas Bertius.
Bapperida Kaltara membuka pintu bagi peneliti UMI untuk masuk ke dalam 10 isu strategis daerah, mulai dari energi baru terbarukan, pemulihan lingkungan pascatambang, pengentasan kemiskinan, hingga pengembangan kawasan industri hijau dan wilayah perbatasan (3T).
Sinergi Strategis Renop LP2S UMI 2026–2031
Merespons tawaran tersebut, Sekretaris LP2S UMI Prof. Dr. Ir. Andi Aladin, MT. menegaskan bahwa sinergi ini sangat selaras dengan arah baru transformasi UMI menuju 2030. UMI siap memposisikan para penelitinya sebagai mitra akademis jangka panjang bagi pemerintah daerah.
"Tawaran dari Bapperida Kaltara memberikan model nyata bagaimana UMI hadir bersama pemerintah daerah. Melalui Renop LP2S UMI 2026–2031, kami memastikan riset para dosen dan mahasiswa UMI dirancang berdasar kebutuhan riil, terhilirisasi, serta memberikan kontribusi langsung bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Forum strategis ini dihadiri oleh jajaran kepemimpinan di bawah arahan Ketua LP2S UMI Prof. Dr. Ir. H. Muh. Hattah Fattah, MS., para kepala pusat, peneliti fakultas dan pascasarjana, JK Research Center, pengelola Science Techno Park (STP), hingga unit inkubasi bisnis (MIIB UMI). Langkah kolaboratif ini semakin mempertegas komitmen UMI sebagai kampus Islam unggul yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi bangsa.
(HUMAS)























































































































