Peneliti UMI Hadirkan Inovasi Keramba Jaring Apung Rumput Laut, Atasi Kendala Budidaya Konvensional
MAKASSAR, umi.ac.id – Tim peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembangkan inovasi Keramba Jaring Apung Rumput Laut (KJARL) sebagai alternatif teknologi untuk mengatasi berbagai kendala budidaya rumput laut secara konvensional.
Inovasi ini dikembangkan oleh Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.Si. selaku Ketua Peneliti bersama Prof. Dr. Ir. Harlina, M.P. dan Dr. Ir. Muhammad Ikhsan Wamnebo, S.Pi., M.Si. sebagai anggota peneliti. KJARL dirancang dengan sistem budidaya di dalam keramba sehingga tidak lagi menggunakan tali bentangan dan tidak memerlukan pengikatan bibit satu per satu. Sistem ini juga membantu mengurangi risiko kehilangan rumput laut akibat patah dan terbawa arus atau gelombang, sekaligus membuat proses pemeliharaan dan pemanenan lebih praktis.
“Inovasi ini berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi pembudidaya. Dengan KJARL, bibit tidak perlu lagi diikat pada tali bentangan, rumput laut yang patah tetap berada di dalam keramba, dan proses panen menjadi lebih mudah. Keramba juga dapat dipindahkan apabila kondisi lokasi budidaya kurang sesuai,” jelas Ketua Peneliti, Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.Si.
Selain memberikan kemudahan operasional, sistem jaring pada KJARL memberikan perlindungan terhadap gangguan predator seperti ikan baronang serta membantu mengurangi masuknya sampah laut ke area budidaya. Desain keramba juga memudahkan pembudidaya melakukan pembersihan sehingga sedimentasi yang menempel pada rumput laut dapat dikendalikan.
Menurut Prof. Dr. Ir. Harlina, M.P., pengembangan KJARL tidak hanya diarahkan pada peningkatan efisiensi budidaya, tetapi juga kualitas hasil.
“Kami ingin menciptakan media budidaya yang lebih terkendali sehingga rumput laut lebih terlindungi dari predator, sampah laut dan sedimentasi. Kondisi tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan sekaligus menghasilkan rumput laut yang lebih bersih dan berkualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ir. Muhammad Ikhsan Wamnebo, S.Pi., M.Si. menekankan keunggulan KJARL dari sisi fleksibilitas penerapan.
“KJARL dirancang agar mudah dioperasikan dan dapat dipindahkan ketika kondisi perairan tidak lagi mendukung. Ini memberikan pilihan bagi pembudidaya untuk menyesuaikan lokasi budidaya dengan dinamika lingkungan perairan,” jelasnya.
Tim peneliti UMI berharap inovasi KJARL dapat terus dikembangkan dan diterapkan lebih luas sebagai teknologi tepat guna bagi pembudidaya rumput laut. Kehadiran inovasi ini menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir serta mendukung budidaya rumput laut yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.























































































































