Tiga Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMI Tampil di Forum Internasional, Angkat Riset AI, TikTok, dan Instagram Reels
JAKARTA, umi.ac.id — Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan kapasitas akademiknya di forum internasional. Tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI tampil sebagai presenter pada APSPBI International Conference and Annual Business Meeting 2026 yang berlangsung pada 10–11 September 2026 di Millennium Hotel, Jakarta.
Ketiga mahasiswa tersebut yakni Sesanda, Amalia Kartika, dan Nurhalizah Bachtiar. Mereka mempresentasikan tiga penelitian yang bersinggungan langsung dengan perkembangan mutakhir pendidikan bahasa Inggris di era digital, mulai dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), praktik berbahasa di TikTok, hingga agensi guru melalui Instagram Reels.
Sesanda mempresentasikan penelitian berjudul “Digital and AI Literacy for ELT: A Systematic Literature Review of Educational Evidence and Implications for EFL Learning.”
Melalui systematic literature review, penelitian tersebut menelaah berbagai bukti ilmiah mengenai literasi digital dan kecerdasan buatan dalam pengajaran bahasa Inggris serta implikasinya terhadap pembelajaran English as a Foreign Language (EFL).
Kajian ini relevan dengan semakin luasnya pemanfaatan AI dalam pendidikan. Teknologi tidak hanya menawarkan berbagai kemudahan dalam proses pembelajaran, tetapi juga menuntut kemampuan literasi digital, berpikir kritis, serta penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Amalia Kartika mengangkat fenomena pembelajaran bahasa melalui TikTok dalam penelitian berjudul “Translanguaging Practices and Communicative Functions in Religious-English Language Education Content on TikTok: Implications for Digital Literacy.”
Penelitian tersebut mengkaji praktik translanguaging dan fungsi komunikatif dalam konten pendidikan bahasa Inggris bernuansa keagamaan di TikTok. Kajian ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang komunikasi sekaligus ruang pembelajaran bahasa yang adaptif dengan karakter generasi digital.
Adapun Nurhalizah Bachtiar mempresentasikan penelitian berjudul “Enacting Digital Teacher Agency in English Microlearning: An Instructional Discourse Analysis of Instagram Reels.”
Penelitian tersebut menganalisis bagaimana agensi guru diwujudkan melalui pilihan dan strategi wacana instruksional dalam konten *microlearning* bahasa Inggris di Instagram Reels. Kajian ini menempatkan guru bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai aktor yang secara aktif menentukan cara teknologi dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran yang efektif dan relevan.
Ketiga penelitian tersebut selaras dengan tema konferensi “Humanizing English Language Education in the Age of AI: Transformative Learning, Ethics, and Teacher Agency.” Tema ini menekankan pentingnya menjaga dimensi kemanusiaan, etika, pembelajaran transformatif, serta agensi guru di tengah pesatnya perkembangan AI dalam pendidikan.
Kaprodi PBI UMI: Mahasiswa Harus Berani Masuk dalam Percakapan Akademik Global
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FSIKP UMI, Rizkariani Sulaiman, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas partisipasi ketiga mahasiswa tersebut. Menurutnya, keberanian mahasiswa mempresentasikan hasil penelitian pada forum internasional merupakan bagian penting dari proses membangun budaya akademik di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMI.
“Kami tentu sangat mengapresiasi Sesanda, Amalia Kartika, dan Nurhalizah Bachtiar yang telah membawa hasil kajiannya ke forum internasional. Yang membanggakan bukan hanya karena mereka tampil sebagai presenter, tetapi juga karena topik yang mereka kaji sangat dekat dengan transformasi pembelajaran bahasa Inggris saat ini, khususnya AI, TikTok, Instagram Reels, dan literasi digital,” ungkap Rizkariani.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI dan media sosial telah mengubah lanskap pendidikan bahasa. Karena itu, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris perlu dibekali kemampuan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melihat fenomena digital secara kritis dan menjadikannya sebagai objek kajian ilmiah.
“Mahasiswa harus kita dorong untuk tidak berhenti sebagai konsumen teknologi. Mereka perlu mampu meneliti, mengkritisi, dan menghasilkan gagasan tentang bagaimana teknologi digunakan secara tepat dalam pendidikan bahasa. Di sinilah literasi digital, etika, kreativitas, dan kemampuan riset menjadi sangat penting,” jelasnya.
Menurut Rizkariani, keikutsertaan mahasiswa pada konferensi internasional juga memberikan pengalaman akademik yang tidak seluruhnya dapat diperoleh di ruang kelas. Mahasiswa dapat belajar menyampaikan gagasan secara ilmiah, mempertahankan argumentasi, menerima masukan, sekaligus berinteraksi dengan komunitas akademik yang lebih luas.
“Kami ingin mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMI memiliki keberanian masuk dalam percakapan akademik global. Mereka harus percaya diri membawa gagasan dan hasil penelitian, tetapi tetap memiliki identitas serta nilai-nilai yang menjadi karakter UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah,” ujarnya.
Ia berharap capaian ketiga mahasiswa tersebut dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lainnya untuk semakin aktif melakukan penelitian, menulis karya ilmiah, mengikuti konferensi, dan membangun jejaring akademik pada tingkat nasional maupun internasional.
Partisipasi Sesanda, Amalia Kartika, dan Nurhalizah Bachtiar menjadi salah satu bentuk penguatan atmosfer akademik di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FSIKP UMI. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai kompetensi pembelajaran bahasa, tetapi juga didorong mengembangkan kemampuan riset serta respons kritis terhadap transformasi teknologi pendidikan. (Humas UMI)























































































































