Zikir Bulanan, Launching Milad ke-72, dan Peresmian Prodi Program Profesi Guru Agama (PPGA) Jadi Momentum Syukur dan Penguatan Amanah UMI

Author Website UMI

/

Makassar, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menghadirkan momentum penuh makna melalui rangkaian kegiatan Zikir Bulanan UMI, Launching Milad ke-72 UMI, serta Launching Program Studi Pendidikan Profesi Guru Agama (PPGA), yang berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026.

Momentum tersebut semakin istimewa dengan penyerahan langsung Surat Keputusan Program Studi Pendidikan Profesi Guru Agama oleh Prof. Dr. H. Suyitno kepada Universitas Muslim Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan itu dihadiri jajaran pimpinan Yayasan Wakaf UMI, pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai institusi pendidikan dan keagamaan.

Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dalam forum Zikir Bulanan UMI merupakan kehormatan besar sekaligus kebahagiaan mendalam bagi keluarga besar UMI.

“Kehadiran Bapak Dirjen bukan sekadar bentuk perhatian kelembagaan, tetapi juga menjadi tanda dukungan, cinta, doa baik, dan kemewahan spiritual bagi perjalanan Universitas Muslim Indonesia ke depan,” ujarnya.

Menurut Rektor, rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi momentum syukur atas perjalanan panjang Universitas Muslim Indonesia yang kini memasuki usia ke-72 tahun.

UMI yang lahir pada 23 Juni 1954, lanjutnya, tumbuh dari perjuangan, doa, pengorbanan, dan cita-cita besar untuk membangun umat melalui pendidikan.

Di usia ke-72 tahun, UMI kembali menorehkan capaian strategis dengan menjadi perguruan tinggi pertama di luar Pulau Jawa — baik PTN maupun PTS — yang meraih Akreditasi Unggul.

Selain itu, UMI juga menjadi salah satu perguruan tinggi swasta dengan jumlah Guru Besar terbanyak di Indonesia, yakni sebanyak 117 Guru Besar yang terus memperkuat tradisi ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ini bukan hanya capaian institusi, tetapi buah dari ketulusan, kebersamaan, dan doa panjang seluruh keluarga besar UMI,” ungkapnya.

Rektor juga menjelaskan bahwa UMI terus menjaga keseimbangan antara penguatan akademik dan penguatan spiritualitas kampus.

Sejak tahun 2000, UMI menghadirkan program Pencerahan Qalbu yang wajib diikuti mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin Padang Lampe, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Makassar dengan kapasitas lebih dari 1000 tempat tidur.

Selain itu, dalam satu tahun terakhir UMI juga menghadirkan program absensi berbasis ibadah bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui kehadiran pada shalat dhuha berjamaah, shalat zuhur berjamaah, dan shalat ashar berjamaah.

Menurut Rektor, langkah tersebut merupakan bagian dari ikhtiar UMI menjaga ruh keislaman dan budaya keberkahan dalam kehidupan kampus.

“UMI ingin membangun kampus yang tidak hanya kuat secara sistem, tetapi juga kuat secara spiritual,” tegasnya.

UMI saat ini juga terus memperluas kontribusinya kepada masyarakat melalui 38 desa binaan serta 8 pesantren binaan yang tersebar di berbagai wilayah Sulawesi Selatan sebagai bagian dari implementasi Catur Dharma UMI.

Terkait peresmian Program Studi Pendidikan Profesi Guru Agama, Rektor UMI menilai hadirnya program tersebut merupakan amanah besar dari negara kepada UMI.

Menurutnya, PPGA UMI akan diarahkan untuk melahirkan guru agama yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga menjadi teladan, penjaga akhlak, penjaga nilai, dan penjaga masa depan generasi bangsa.

“Kami ingin melahirkan guru agama yang moderat, bijak, adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman,” tambahnya.

Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, menyampaikan bahwa Milad ke-72 UMI, Zikir Bulanan, dan peresmian PPGA menjadi momentum yang sangat menggembirakan sekaligus mengharukan bagi seluruh keluarga besar UMI.

Menurutnya, perjalanan panjang UMI hingga hari ini merupakan buah dari doa para pendiri, kerja keras seluruh sivitas akademika, dan kebersamaan yang terus dijaga lintas generasi.

“UMI bukan hanya dibangun sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai rumah besar yang menanamkan nilai, akhlak, dan pengabdian,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, dalam nasihatnya mengajak seluruh keluarga besar UMI menjadikan momentum tersebut sebagai penguat keikhlasan, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam membesarkan UMI.

Ia menegaskan bahwa kemajuan UMI tidak boleh membuat sivitas akademika melupakan ruh perjuangan para pendiri kampus.

“UMI harus terus dijaga bukan hanya sebagai kampus yang unggul dalam prestasi, tetapi juga sebagai rumah besar yang menanamkan nilai, akhlak, dan pengabdian,” tuturnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Suyitno, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi UMI dalam membangun tradisi akademik yang berpadu dengan penguatan nilai spiritual dan pendidikan karakter.

Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa UMI tidak hanya tumbuh sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga hadir sebagai kampus yang menjaga keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan pengabdian.

“Kepercayaan negara kepada UMI melalui penyerahan SK Program Studi Pendidikan Profesi Guru Agama merupakan amanah besar yang harus dijaga dengan mutu, integritas, dan komitmen untuk melahirkan guru-guru agama yang moderat, adaptif, dan berkarakter kuat dalam menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Melalui momentum ini, UMI kembali menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh sebagai kampus Islam yang unggul, berdaya saing global, dan tetap dekat dengan umat. UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak.

(HUMAS)

SHARE ON