#10 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Beniyanto Tamoreka: Dari Teknik Kimia UMI, Mengawal Energi dan Sumber Daya Alam Indonesia
Alumni Teknik Kimia UMI angkatan 1991 yang membawa pengalaman dunia usaha dan organisasi ke ruang kebijakan nasional, mengawal isu energi, pertambangan, lingkungan, investasi, dan hilirisasi—serta kini kembali memperdalam keilmuannya melalui Magister Teknik Kimia Pascasarjana UMI.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada ilmu yang dipelajari di ruang kuliah dan laboratorium. Ada pula ilmu yang terus berkembang ketika bertemu pengalaman, tanggung jawab, dan persoalan nyata di masyarakat. Bagi Ir. H. Beniyanto Tamoreka, S.T., pendidikan Teknik Kimia di Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi salah satu fondasi perjalanan panjang yang kemudian membawanya ke ruang kebijakan nasional.
Alumni Fakultas Teknologi Industri UMI angkatan 1991 itu kini mengemban amanah sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah melalui Fraksi Partai Golkar. Ia bertugas di Komisi XII DPR RI yang membidangi energi dan sumber daya mineral, lingkungan hidup, serta investasi. Pada Pemilu 2024, Beniyanto memperoleh 90.078 suara. Di ruang inilah latar belakang teknik, pengalaman dunia usaha, organisasi, dan politiknya bertemu.
Menariknya, setelah lebih dari tiga dekade sejak menjadi mahasiswa Teknik Kimia UMI, Beniyanto kini juga kembali memperkuat fondasi akademiknya dengan melanjutkan Studi Magister Teknik Kimia pada Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia. Perjalanan itu menunjukkan satu hal: pengalaman panjang tidak membuat proses belajar berhenti.
Dari Teknik Kimia UMI
Beniyanto adalah bagian dari generasi mahasiswa Teknik Kimia UMI angkatan 1991. Di kampus, ia memperoleh dasar keilmuan yang berkaitan dengan proses industri, pengolahan bahan, energi, serta pemanfaatan sumber daya. Namun perjalanan setelah kampus tidak berjalan dalam satu jalur profesi.
Ia memasuki dunia usaha dan organisasi. Pengalamannya kemudian berkembang dari persoalan teknis menuju persoalan yang lebih luas: bagaimana industri bertumbuh, bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana investasi memberi nilai tambah, serta bagaimana pembangunan tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan lingkungan. UMI mencatat Beniyanto sebagai alumni Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri yang kemudian dipercaya masyarakat Sulawesi Tengah menjadi anggota DPR RI.
Membangun Pengalaman dari Banggai
Sebelum berada di DPR RI, Beniyanto aktif dalam dunia usaha dan berbagai organisasi. Ia pernah dipercaya memimpin Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Banggai serta DPD II Partai Golkar Kabupaten Banggai. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan pelaku usaha, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, serta berbagai persoalan pembangunan di daerah. Di wilayah seperti Banggai dan Sulawesi Tengah, persoalan industri dan sumber daya alam bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat.
Pertambangan, energi, investasi, lingkungan, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman dari daerah inilah yang menjadi salah satu konteks ketika Beniyanto kemudian memasuki ruang kebijakan nasional.
Dari Banggai ke Senayan
Pada Pemilu 2024, Beniyanto mendapat kepercayaan masyarakat untuk menjadi anggota DPR RI periode 2024–2029. Ia kemudian ditempatkan di Komisi XII DPR RI. Penugasan itu sangat dekat dengan karakter Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah dengan aktivitas pertambangan dan industri mineral yang besar.
Energi.
Pertambangan.
Lingkungan hidup.
Investasi.
Hilirisasi.
Seluruhnya berada pada ruang kebijakan yang bukan hanya menentukan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat dan kondisi lingkungan. Karena itu, pengelolaan sumber daya alam tidak cukup hanya berbicara tentang produksi. Tata kelolanya harus jelas. Pengawasannya harus kuat. Dampak lingkungannya harus diperhitungkan. Dan manfaat ekonominya perlu dirasakan masyarakat. Dalam isu pertambangan ilegal, Beniyanto misalnya menekankan pentingnya penguatan regulasi, pengawasan berbasis teknologi, harmonisasi perizinan, dan penegakan hukum untuk memperbaiki tata kelola mineral dan batubara.
Mengawal Hilirisasi dan Nilai Tambah
Latar belakang Teknik Kimia menemukan relevansinya ketika Indonesia memperkuat kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Beniyanto memberi perhatian pada pengembangan industri berbasis mineral, khususnya nikel yang menjadi salah satu komoditas utama Sulawesi Tengah. Baginya, hilirisasi tidak cukup diukur dari meningkatnya produksi. Yang lebih penting adalah nilai tambah.
Daya saing industri.
Kesempatan kerja.
Kepastian investasi.
Tata kelola yang sehat.
Dan keberlanjutan lingkungan.
Pada 2026, ia mendukung penguatan tata kelola sektor energi dan sumber daya alam serta percepatan investasi sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia juga mengapresiasi pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai nikel dalam negeri karena dinilai dapat memperkuat hilirisasi mineral, daya saing industri nasional, sekaligus mendukung transisi energi. Di sinilah ilmu teknik bertemu dengan kebijakan ekonomi dan pembangunan.
Energi Harus Memberi Manfaat
Isu energi menjadi salah satu bagian penting dari tugas Beniyanto di Komisi XII. Baginya, kebijakan energi tidak hanya menyangkut ketersediaan sumber energi.
Ada ketahanan energi.
Ada keterjangkauan.
Ada investasi.
Ada teknologi.
Ada pendapatan negara dan daerah.
Dan ada masyarakat sebagai pengguna akhir.
Dalam kegiatan penyerapan aspirasi di Banggai pada 2026, Beniyanto menjelaskan bahwa penyusunan regulasi energi baru dan terbarukan diarahkan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, tetapi juga agar mampu memberi manfaat ekonomi bagi pemerintah pusat maupun daerah.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa energi perlu dilihat secara utuh: dari sumbernya, proses pengolahannya, regulasinya, sampai manfaat akhirnya bagi masyarakat.
Kembali ke UMI, Mengawal Regulasi Ketenagalistrikan
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Beniyanto terjadi pada Juli 2026. Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan ke Kampus Universitas Muslim Indonesia. Beniyanto hadir sebagai salah satu anggota Komisi XII sekaligus alumni Teknik Kimia UMI. Lebih dari tiga dekade sebelumnya, ia datang ke UMI sebagai mahasiswa. Pada Juli 2026, ia kembali dalam kapasitas sebagai legislator untuk mendengar pandangan akademisi dalam penyempurnaan regulasi ketenagalistrikan nasional.
Pertemuan itu penting bukan karena sekadar seorang alumni kembali ke almamater. Yang lebih penting adalah kampus dan parlemen bertemu dalam proses penyusunan kebijakan publik. Akademisi memberi perspektif berbasis ilmu. Parlemen membawa perspektif regulasi dan kepentingan masyarakat. Dua ruang tersebut saling membutuhkan.
Kembali Menjadi Mahasiswa di UMI
Ada sisi lain dari perjalanan Beniyanto yang juga penting dicatat. Di tengah tugas sebagai anggota DPR RI, ia kini melanjutkan pendidikan pada Program Magister Teknik Kimia Pascasarjana UMI. Artinya, hubungan Beniyanto dengan UMI tidak berhenti sebagai alumni. Ia kembali menjadi bagian dari proses akademik. Keputusan melanjutkan studi ini memiliki relevansi kuat dengan bidang tugasnya di Komisi XII. Energi, pertambangan, hilirisasi, pengolahan sumber daya, teknologi proses, lingkungan, dan industri merupakan isu yang membutuhkan pemahaman teknis sekaligus kemampuan membaca kebijakan. Dengan kembali memperdalam Teknik Kimia, pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun di dunia usaha, organisasi, dan parlemen dapat bertemu kembali dengan pengembangan keilmuan.
Pada tahap ini, proses belajar berjalan dua arah. Pengalaman lapangan memperkaya cara melihat ilmu. Sementara ilmu membantu memperkuat cara membaca persoalan kebijakan.
Ilmu yang Terus Diperbarui
Perjalanan Beniyanto Tamoreka memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak harus berhenti ketika seseorang memperoleh gelar pertama. Teknologi berubah.
Industri berubah.
Kebijakan energi berkembang.
Tuntutan lingkungan semakin kuat.
Dan tantangan pengelolaan sumber daya alam semakin kompleks.
Karena itu, pengalaman tetap membutuhkan pembaruan pengetahuan. Di sinilah keputusan Beniyanto kembali menempuh Magister Teknik Kimia menjadi bagian penting dari cerita ini. Ia telah menjadi pengusaha. Menjadi organisator. Menjadi politisi. Kini menjadi anggota DPR RI. Tetapi ia tetap memilih kembali belajar. Bukan untuk mengulang perjalanan akademiknya, melainkan untuk memperkuat kapasitas menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Beniyanto Tamoreka memulai perjalanan akademiknya dari Teknik Kimia UMI. Dunia usaha memberinya pengalaman menghadapi persoalan ekonomi. Organisasi membentuk kemampuan kepemimpinan. Banggai memberinya pengalaman memahami daerah yang kaya sumber daya. Parlemen membuka ruang untuk terlibat dalam kebijakan nasional. Dan kini, Magister Teknik Kimia UMI menjadi ruang baru untuk memperdalam kembali fondasi keilmuannya. Di Komisi XII DPR RI, ia berada pada salah satu ruang penting yang ikut menentukan arah pengelolaan energi dan sumber daya alam Indonesia. Tugas tersebut menyangkut persoalan besar. Bagaimana pertambangan dikelola dengan tertib.
Bagaimana hilirisasi menghasilkan nilai tambah.
Bagaimana investasi memberikan manfaat.
Bagaimana energi tersedia dan berkelanjutan.
Bagaimana lingkungan tetap dilindungi.
Dan bagaimana kekayaan sumber daya alam Indonesia benar-benar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Di situlah perjalanan Beniyanto menjadi bagian dari Dari Kampus, Menjadi Dampak. Bukan semata karena seorang alumni UMI berhasil menjadi anggota DPR RI. Tetapi karena ilmu, pengalaman, dan tanggung jawab yang dikumpulkan selama puluhan tahun kini digunakan di ruang kebijakan yang berhubungan langsung dengan masa depan energi dan sumber daya alam Indonesia.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Dari Teknik Kimia UMI, membangun dasar keilmuan. Dari dunia usaha, memahami realitas industri. Dari organisasi, belajar memimpin. Dari DPR RI, ikut mengawal kebijakan energi dan sumber daya alam. Dan melalui Magister Teknik Kimia UMI, proses belajar itu kembali diperkuat.
Sebab semakin besar tanggung jawab yang diemban, semakin besar pula kebutuhan untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuan. (Bersambung)























































































































