#7 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Bustanul Arifin: Dari Farmasi UMI ke Groningen, Mengubah Riset Menjadi Dampak
Alumni Fakultas Farmasi UMI yang menempuh pendidikan doktoral di University of Groningen, mengembangkan riset kesehatan masyarakat, dan kini ikut memperkuat pendidikan serta penelitian farmasi di Universitas Hasanuddin.
MAKASSAR, umi.ac.id — Dampak seorang alumni tidak selalu hadir melalui jabatan atau posisi yang mudah terlihat. Pada seorang peneliti, dampak dapat bermula dari satu persoalan kesehatan yang ingin dipahami lebih baik.
Dari pertanyaan itu lahir penelitian.
Dari penelitian lahir data.
Dan ketika hasilnya dipublikasikan, diuji, digunakan kembali, serta dikembangkan oleh orang lain, pengetahuan mulai memberi manfaat yang lebih luas.
Jalan itulah yang ditempuh Bustanul Arifin, S.Farm., Apt., M.Sc., MPH., Ph.D.
Alumni Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini membawa perjalanan akademiknya dari Makassar hingga University of Groningen, Belanda. Kini ia menjadi dosen dan peneliti di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dengan bidang keahlian farmasi sosial, khususnya farmasi klinik dan komunitas, patient-reported outcomes, kualitas hidup terkait kesehatan, penelitian kualitatif, dan validasi instrumen penelitian. Yang membuat perjalanan Bustanul penting bukan hanya gelar yang diperoleh atau jurnal yang mencantumkan namanya. Tetapi bagaimana penelitian tersebut terus digunakan untuk memahami persoalan kesehatan masyarakat.
Dari Farmasi UMI Menuju Groningen
Bustanul menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Farmasi UMI pada 2001–2005. Setelah itu, perjalanan akademiknya berlanjut ke Universitas Indonesia untuk pendidikan profesi apoteker, kemudian Universitas Gadjah Mada untuk pendidikan magister bidang ilmu biomedik dan manajemen rumah sakit.
Pada 2014, ia memulai pendidikan doktoral di University of Groningen melalui dukungan beasiswa LPDP. Penelitiannya berfokus pada distress dan kualitas hidup terkait kesehatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Disertasi berjudul “Distress and Health-Related Quality of Life in Indonesian Type 2 Diabetes Mellitus Outpatients” diselesaikannya pada 2018 di University of Groningen.
Penelitian tersebut melihat pasien diabetes bukan hanya dari aspek obat dan kondisi klinis.
Ada tekanan psikologis.
Ada pengetahuan pasien.
Ada kondisi keluarga.
Ada pendidikan.
Dan ada sistem pelayanan kesehatan yang ikut memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Dari sinilah salah satu arah penelitian Bustanul terus berkembang.
Riset yang Dekat dengan Persoalan Masyarakat
Berbagai penelitian Bustanul kemudian bergerak pada persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia meneliti diabetes distress dan kualitas hidup pasien diabetes.
Ia terlibat dalam pengembangan dan validasi instrumen pengetahuan HIV/AIDS.
Ia mengkaji stigma terhadap tuberkulosis.
Ia juga meneliti kesehatan mental, penggunaan obat, serta berbagai faktor yang memengaruhi kualitas hidup pasien.
Salah satu penelitiannya membandingkan tingkat diabetes distress pada pasien diabetes tipe 2 di pelayanan kesehatan primer dan tersier di Indonesia. Penelitian lain mendalami bagaimana pasien Indonesia menghadapi tekanan psikologis dalam menjalani kehidupan dengan diabetes.
Tema-tema tersebut memperlihatkan satu hal. Persoalan kesehatan tidak selalu selesai ketika seseorang memperoleh obat.
Ada perilaku.
Ada pengetahuan.
Ada stigma.
Ada kondisi sosial.
Dan ada kualitas hidup yang harus ikut dipahami.
Ketika Instrumen Penelitian Dapat Digunakan Kembali
Salah satu bagian penting dari perjalanan riset Bustanul adalah pengembangan dan validasi instrumen penelitian. Pada 2022, Bustanul bersama tim mempublikasikan adaptasi dan validasi HIV Knowledge Questionnaire-18 (HIV-KQ-18) untuk populasi Indonesia. Instrumen tersebut memungkinkan pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS diukur dengan pendekatan yang telah disesuaikan dan diuji dalam konteks Indonesia. Penelitian itu kemudian berkembang lebih jauh.
Pada 2023, instrumen tersebut digunakan dalam penelitian yang memetakan tingkat pengetahuan HIV/AIDS masyarakat Indonesia di enam pulau besar. Bustanul terlibat langsung dalam konseptualisasi, pengumpulan dan pengelolaan data, metodologi, validasi, hingga penulisan penelitian tersebut. Di sinilah dampak penelitian menjadi lebih mudah terlihat. Sebuah penelitian tidak berhenti ketika artikelnya terbit. Instrumen yang telah diuji dapat digunakan kembali. Data baru dapat dikumpulkan. Peneliti lain dapat melanjutkan kajian dan pemahaman mengenai persoalan kesehatan masyarakat menjadi semakin baik.
Dari Groningen, Kembali Memperkuat Riset di Indonesia
Hubungan akademik Bustanul dengan University of Groningen tetap berlanjut setelah pendidikan doktoralnya. Sejumlah publikasinya setelah 2018 tetap mencantumkan afiliasi atau kolaborasi dengan University of Groningen dan University Medical Center Groningen. Jejaring tersebut juga terlihat dalam penelitian mengenai HIV/AIDS, diabetes, dan kualitas hidup yang melibatkan peneliti dari berbagai institusi di Indonesia dan luar negeri.
Pengalaman internasional tersebut kemudian menjadi modal ketika ia kembali aktif dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Bukan semata-mata karena pernah belajar di luar negeri. Yang lebih penting adalah pengalaman membangun metodologi penelitian, bekerja dalam tim lintas institusi, menyusun manuskrip ilmiah, menjalani peer review, dan menjaga standar kualitas penelitian. Pengalaman seperti itulah yang dapat dibagikan kepada mahasiswa dan peneliti berikutnya.
Pernah Berhadapan Langsung dengan Pelayanan Kesehatan Daerah
Perjalanan Bustanul tidak hanya berada di kampus dan laboratorium penelitian. Publikasi ilmiahnya juga mencatat keterlibatannya di Disease Prevention and Control Division Pemerintah Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Pengalaman tersebut mempertemukannya langsung dengan sistem pelayanan kesehatan daerah. Di sana, persoalan kesehatan tidak hadir sebagai angka dalam tabel penelitian.
Ada masyarakat dengan akses pelayanan yang berbeda.
Ada wilayah yang jauh dari pusat layanan.
Ada program pencegahan penyakit yang harus dijalankan.
Dan ada keputusan yang membutuhkan data lapangan.
Pengalaman itu memberi konteks penting bagi perjalanan akademiknya. Ia mengetahui bagaimana persoalan kesehatan dibaca melalui penelitian, tetapi juga pernah melihat bagaimana persoalan tersebut harus ditangani melalui pelayanan publik.
Mengajar dan Menyiapkan Peneliti Berikutnya
Kini Bustanul menjadi bagian dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Profil resmi Fakultas Farmasi Unhas mencatatnya sebagai dosen pada Departemen Farmasi dengan bidang keahlian Farmasi Sosial. Ia juga menjadi bagian dari kelompok riset Drug Efficacy and Medication Safety Research Group, dengan fokus pada farmasi klinik dan komunitas, penelitian kualitatif, patient-reported outcomes, validasi instrumen, dan kualitas hidup terkait kesehatan. Di ruang inilah dampak seorang akademisi memiliki dua arah. Pertama, menghasilkan penelitian. Kedua, membantu mahasiswa belajar bagaimana penelitian yang baik dilakukan. Mahasiswa bukan hanya membaca jurnal.
Mereka belajar merumuskan persoalan.
Mengumpulkan data.
Menilai kualitas bukti.
Menguji instrumen.
Menulis.
Dan mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya.
Ketika mahasiswa yang dibimbing kemudian menghasilkan penelitian baru, pengetahuan kembali berkembang.
Publikasi Bukan Tujuan Akhir
Profil riset Universitas Hasanuddin mencatat Bustanul sebagai peneliti dengan publikasi dan kolaborasi dalam berbagai bidang kesehatan, terutama kualitas hidup, kesehatan masyarakat, psikologi kesehatan, diabetes, dan farmasi. Namun jumlah publikasi seharusnya bukan satu-satunya ukuran. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah penelitian membantu memahami persoalan kesehatan?
Apakah metode dan instrumennya dapat digunakan kembali?
Apakah pengetahuan yang dihasilkan dapat dikembangkan oleh peneliti lain?
Dan apakah hasil penelitian pada akhirnya dapat membantu pelayanan kesehatan dan masyarakat?
Pada titik itulah riset bergerak dari karya akademik menuju dampak.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Bustanul Arifin memulai perjalanan akademiknya dari Fakultas Farmasi UMI. Dari Makassar, ia melanjutkan pendidikan hingga University of Groningen. Ia meneliti diabetes dan kualitas hidup.
Mengembangkan serta memvalidasi instrumen kesehatan.
Membangun kolaborasi lintas institusi.
Pernah bekerja dalam pelayanan kesehatan daerah dan kini mengajar serta meneliti di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Perjalanan tersebut tidak hanya menunjukkan mobilitas seorang akademisi dari satu kampus ke kampus lain. Ada proses yang lebih penting: pengetahuan terus dibangun, diuji, dibagikan, dan digunakan kembali. Di situlah Bustanul Arifin menjadi bagian dari Dari Kampus, Menjadi Dampak.
Sebab dampak seorang akademisi tidak berhenti ketika artikel berhasil diterbitkan. Dampak mulai terasa ketika penelitian membantu orang memahami persoalan dengan lebih baik.
Ketika sebuah instrumen digunakan mahasiswa dan peneliti lain.
Ketika pengalaman internasional dibagikan kepada generasi berikutnya.
Dan ketika pengetahuan akademik tetap berhubungan dengan kebutuhan masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Dari Farmasi UMI, membangun dasar keilmuan. Dari Groningen, memperkuat kapasitas penelitian. Dari penelitian, menghasilkan bukti. Dan dari bukti, memperluas pengetahuan yang dapat digunakan untuk kesehatan masyarakat.
Karena penelitian yang baik tidak berhenti pada publikasi. Penelitian memperoleh makna ketika pengetahuan yang dihasilkannya dapat digunakan kembali dan memberi manfaat. (Bersambung)























































































































