#9 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Andi Asrul Juwanda: Dari Farmasi UMI ke Johns Hopkins, Mengubah Ilmu Menjadi Kebijakan Kesehatan
Dari pelayanan kesehatan, inovasi digital, riset, hingga kebijakan nasional. Alumni Fakultas Farmasi UMI ini membawa pengalaman lapangan dan pendidikan global untuk memperkuat layanan kesehatan yang menjangkau masyarakat lebih luas.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada tenaga kesehatan yang bekerja langsung melayani pasien. Ada peneliti yang bekerja dengan data. Ada pula orang-orang yang berada di balik sebuah kebijakan agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat dalam skala yang jauh lebih besar.
Andi Asrul Juwanda, S.Farm., MSPH. menjalani ketiga ruang itu dalam perjalanan kariernya.
Alumni Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini memulai perjalanan profesionalnya di BPJS Kesehatan, kemudian melanjutkan pendidikan Master of Science in Public Health (MSPH) di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Amerika Serikat. Johns Hopkins mencatat Andi Asrul sebagai lulusan 2025 pada Department of Health, Behavior and Society. Riwayat profesionalnya juga menunjukkan pengalaman lebih dari sembilan tahun bersama BPJS Kesehatan sebelum dan setelah menempuh pendidikan tersebut. Namun perjalanan ini tidak hanya penting karena nama universitas tempat ia belajar. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu dan pengalaman itu kembali digunakan untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Berawal dari Fakultas Farmasi UMI
Andi Asrul menyelesaikan pendidikan sarjana Farmasi di Universitas Muslim Indonesia pada 2014. Farmasi memberinya dasar tentang obat, pasien, pelayanan kesehatan, serta pentingnya keputusan yang berbasis bukti. Tetapi setelah memasuki BPJS Kesehatan, perspektif tersebut berkembang. Ia mulai melihat bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh tersedianya obat atau tenaga kesehatan.
Ada sistem pembiayaan.
Ada fasilitas pelayanan.
Ada administrasi.
Ada perilaku masyarakat.
Ada teknologi.
Dan ada kebijakan yang menentukan apakah seseorang dapat memperoleh layanan pada waktu yang dibutuhkan.
Pengalaman itu perlahan membawa Andi Asrul dari perspektif pelayanan individual menuju persoalan sistem kesehatan.
Belajar dari Pelayanan Langsung
Karier Andi Asrul di BPJS Kesehatan dimulai pada bidang promotif dan preventif di Cabang Gorontalo. Di sana, ia bersentuhan langsung dengan program pengelolaan penyakit kronis dan bekerja bersama fasilitas kesehatan untuk mendukung pelayanan peserta. Pengalaman tersebut penting karena kebijakan kesehatan pada akhirnya selalu bertemu dengan kondisi nyata di lapangan. Sebuah program dapat terlihat baik di atas dokumen.
Tetapi hasilnya ditentukan oleh banyak hal: apakah fasilitas kesehatan siap, apakah masyarakat memahami program, apakah data tersedia, dan apakah prosedur pelayanan cukup sederhana untuk digunakan. Dari pengalaman tersebut, Andi Asrul kemudian mendapat berbagai tanggung jawab lain di BPJS Kesehatan.
Ketika Inovasi Membuat Layanan Lebih Mudah
Dalam perjalanan kariernya, Andi Asrul terlibat dalam pengembangan berbagai inovasi pelayanan. Ia pernah bekerja sebagai Relationship Officer dan kemudian Compliance Officer. Salah satu pengalaman pentingnya adalah keterlibatan dalam pengembangan layanan administrasi digital BPJS Kesehatan, termasuk PANDAWA, layanan administrasi melalui WhatsApp. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menyederhanakan hubungan antara masyarakat dan sistem pelayanan.
Bukan teknologi untuk terlihat modern. Tetapi teknologi untuk mengurangi hambatan. Masyarakat tidak selalu harus datang ke kantor. Administrasi dapat dilakukan lebih mudah. Informasi dapat diperoleh lebih cepat. Dan pelayanan dapat menjadi lebih dekat dengan pengguna. Cara berpikir seperti inilah yang kemudian semakin berkembang ketika Andi Asrul melanjutkan pendidikan kesehatan masyarakat.
Dari BPJS Kesehatan ke Johns Hopkins
Pada 2023, Andi Asrul melanjutkan pendidikan Master of Science in Public Health di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. Program tersebut memperluas perspektifnya pada kesehatan masyarakat, komunikasi kesehatan, pembiayaan kesehatan, serta inovasi digital. Profil Johns Hopkins dan aktivitas akademiknya menunjukkan keterlibatan Andi Asrul pada bidang Health, Behavior and Society serta isu digital health dan Universal Health Coverage.
Di sana, pengalaman Indonesia tidak ditinggalkan. Justru berbagai persoalan Jaminan Kesehatan Nasional menjadi konteks yang dibawa ke ruang akademik. Sebagai bagian dari kegiatan riset, ia terlibat dalam kajian mengenai pemanfaatan layanan kesehatan, digital health, telemedicine, dan pembiayaan pelayanan kesehatan di Indonesia.
Johns Hopkins kemudian menjadi tempat mempertemukan dua pengalaman: apa yang ia lihat selama bekerja dalam sistem JKN, dan bagaimana ilmu kesehatan masyarakat dapat digunakan untuk memperbaikinya.
Membaca Sistem Melalui Data
Salah satu perubahan penting dalam perjalanan Andi Asrul adalah semakin kuatnya penggunaan data dalam memahami persoalan kesehatan. Dalam berbagai kegiatan riset, ia bekerja dengan dataset besar untuk melihat pola penggunaan pelayanan kesehatan dan karakteristik peserta. Pada titik ini, data tidak hanya menjadi laporan administratif. Data digunakan untuk bertanya:
Siapa yang belum mendapatkan pelayanan?
Kelompok mana yang berisiko?
Di mana program belum berjalan optimal?
Apa yang membuat masyarakat tidak memanfaatkan layanan?
Dan intervensi seperti apa yang paling mungkin memberi hasil?
Cara berpikir tersebut penting dalam sistem kesehatan yang melayani penduduk dalam jumlah sangat besar. Keputusan tidak cukup hanya berdasarkan intuisi. Ia membutuhkan bukti.
Kembali ke Indonesia, Masuk ke Ruang Kebijakan
Setelah menyelesaikan pendidikan di Johns Hopkins pada 2025, Andi Asrul kembali melanjutkan kiprahnya di BPJS Kesehatan. Riwayat profesional publiknya mencatat ia bekerja pada bidang Primary Care Benefits Assurance Policy di Kantor Pusat BPJS Kesehatan. Ruang kerjanya kini semakin dekat dengan perumusan kebijakan pelayanan kesehatan primer. Di sinilah pengalaman yang dikumpulkan sejak awal mulai bertemu.
Latar belakang Farmasi memberinya pemahaman tentang pasien dan pelayanan. Pengalaman BPJS Kesehatan memberinya pengetahuan mengenai sistem JKN. Johns Hopkins memperkuat kemampuan riset, analisis, komunikasi kesehatan, dan pendekatan berbasis data.
Semuanya kemudian digunakan untuk melihat satu pertanyaan besar: bagaimana pelayanan kesehatan primer dapat bekerja lebih baik untuk masyarakat?
Membaca Penyakit Sebelum Menjadi Lebih Berat
Salah satu bidang yang menjadi perhatiannya adalah penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Persoalan ini penting karena banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah penyakit berkembang lebih jauh. Karena itu, pendekatan pelayanan kesehatan tidak dapat hanya menunggu seseorang sakit dan datang berobat. Sistem juga perlu mampu menemukan risiko lebih dini.
Mendorong pemeriksaan.
Meningkatkan kepatuhan.
Memperkuat perubahan perilaku.
Dan memastikan pasien tetap terhubung dengan fasilitas kesehatan.
Dalam pengembangan program yang menyasar kelompok usia muda dengan diabetes dan hipertensi, pendekatan yang digunakan menggabungkan data, pelayanan kesehatan primer, intervensi perilaku, serta dukungan teknologi digital. Di sinilah perubahan cara kerja terlihat. Kesehatan tidak hanya ditangani ketika penyakit muncul. Pencegahan menjadi bagian dari kebijakan.
Dari Data Menjadi Keputusan
Perjalanan Andi Asrul juga menunjukkan bahwa riset memiliki arti ketika hasilnya dapat membantu pengambilan keputusan. Dalam berbagai evaluasi pelayanan kesehatan primer, data digunakan untuk memahami bagaimana kebijakan berjalan di lapangan. Angka kemudian dipertemukan dengan pengalaman fasilitas kesehatan.
Pendapat tenaga kesehatan didengar.
Hambatan implementasi dipetakan.
Dan hasilnya digunakan untuk menyusun rekomendasi.
Proses tersebut memperlihatkan rantai kerja yang penting: data menghasilkan pemahaman, pemahaman menghasilkan rekomendasi, dan rekomendasi membantu memperbaiki kebijakan. Di sinilah seorang alumni Farmasi tidak lagi hanya bekerja pada persoalan obat. Ia bekerja pada bagaimana sistem dapat mengatur pelayanan bagi masyarakat dalam skala nasional.
Dari Pelayanan Individual ke Dampak Sistem
Perjalanan Andi Asrul Juwanda memperlihatkan bagaimana ruang pengabdian seorang alumni dapat terus berkembang. Ia berangkat dari Farmasi UMI. Masuk ke BPJS Kesehatan. Belajar dari fasilitas kesehatan dan masyarakat. Terlibat dalam inovasi pelayanan digital. Melanjutkan pendidikan ke Johns Hopkins. Bekerja dengan riset dan data kesehatan. Lalu kembali ke Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan primer. Skala pekerjaannya berubah. Tetapi orientasinya tetap sama: membuat pelayanan kesehatan lebih mudah diakses dan lebih mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kisah Andi Asrul bukan hanya cerita tentang seorang alumni UMI yang berhasil menempuh pendidikan di salah satu sekolah kesehatan masyarakat terkemuka dunia. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah kesempatan itu diperoleh. Ilmu kembali digunakan. Pengalaman lapangan dipertemukan dengan riset. Data diterjemahkan menjadi rekomendasi. Dan rekomendasi digunakan untuk memperkuat pelayanan kesehatan.
Di situlah perjalanan Andi Asrul menjadi bagian dari Dari Kampus, Menjadi Dampak.
Dampak seorang alumni tidak selalu terlihat dalam sebuah bangunan atau jabatan. Dalam sistem kesehatan, dampak dapat hadir ketika prosedur menjadi lebih sederhana. Ketika teknologi mengurangi hambatan pelayanan. Ketika data membantu menemukan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian. Ketika pencegahan dilakukan lebih awal. Dan ketika sebuah kebijakan membantu pelayanan kesehatan bekerja lebih baik bagi jutaan peserta.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Dari Farmasi UMI, memahami pelayanan kesehatan. Dari BPJS Kesehatan, memahami sistem. Dari Johns Hopkins, memperkuat kemampuan riset dan analisis. Dan dari ruang kebijakan, ilmu itu digunakan kembali untuk memperbaiki pelayanan masyarakat.
Karena kebijakan kesehatan yang baik bukan hanya kebijakan yang selesai ditulis. Kebijakan harus mampu membuat masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih baik. (Bersambung)























































































































