Dari Kampus, Menjadi Dampak - Andi Asrul Juwanda: Dari Farmasi UMI ke Johns Hopkins, Mengabdikan Ilmu untuk Memperkuat Kesehatan Masyarakat
Berbekal pengalaman di BPJS Kesehatan dan pendidikan kesehatan masyarakat di Johns Hopkins University, alumni Fakultas Farmasi UMI ini berfokus pada penguatan promotif dan preventif untuk membangun masyarakat yang lebih sehat.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tenaga kesehatan memiliki ruang pengabdian yang luas. Sebagian bekerja secara langsung melayani pasien. Sebagian lainnya berkontribusi melalui penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Sementara yang lain berperan di balik perumusan kebijakan untuk memastikan pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat dalam skala yang lebih luas.
Bagi Andi Asrul Juwanda, S.Farm., MSPH ’25, alumni Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), perjalanan kariernya membawanya untuk memahami ketiga perspektif tersebut secara lebih luas.
Berawal dari pendidikan farmasi dan pengalaman profesional di bidang jaminan kesehatan, ia kemudian memperluas keahliannya ke bidang kesehatan masyarakat, komunikasi kesehatan, serta kebijakan kesehatan. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi di UMI, Andi Asrul memulai perjalanan profesionalnya di BPJS Kesehatan.
Selama kurang lebih sembilan tahun berkarier di BPJS Kesehatan, ia mendapatkan pengalaman dalam melihat bagaimana sistem jaminan kesehatan bekerja dan bagaimana kebijakan kesehatan diterjemahkan menjadi program serta pelayanan bagi masyarakat. Pengalaman tersebut secara perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kesehatan.
Sebagai seorang lulusan farmasi, pada awalnya ia melihat sistem kesehatan terutama dari perspektif bagaimana seseorang yang sakit dapat memperoleh diagnosis, pengobatan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Namun, pengalaman profesional di lapangan membuatnya menyadari bahwa sistem kesehatan memiliki dimensi yang jauh lebih luas.
Kesehatan tidak semestinya hanya dipandang dari bagaimana mengobati seseorang setelah jatuh sakit, tetapi juga dari bagaimana masyarakat dapat tetap sehat dan terhindar dari penyakit sejak awal.
“Saya mulai melihat bahwa sistem kesehatan tidak hanya berbicara tentang bagaimana kita mengobati orang yang sudah sakit. Ada ruang yang jauh lebih besar untuk mencegah seseorang jatuh sakit melalui promosi kesehatan, pencegahan penyakit, perubahan perilaku, dan kebijakan yang mendukung masyarakat untuk hidup lebih sehat.”
Perspektif tersebut kemudian mendorong Andi Asrul untuk memperdalam ilmu di bidang kesehatan masyarakat. Ia melanjutkan pendidikan magister di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Amerika Serikat, dengan fokus pada Health Education and Health Communication.
Pendidikan tersebut memperkuat pemahamannya mengenai ilmu perilaku, komunikasi kesehatan, dan pendekatan berbasis populasi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Selama menjalani pendidikan S2 di Johns Hopkins, ia juga memperluas kompetensinya melalui berbagai sertifikasi di bidang health communication, global digital health, serta health finance and management.
Kombinasi pengalaman di bidang farmasi, jaminan kesehatan, kesehatan masyarakat, komunikasi, teknologi digital, dan pembiayaan kesehatan membentuk perspektifnya untuk melihat persoalan kesehatan secara lebih komprehensif. Selain itu, ia juga memperluas jejaring dengan berbagai ahli dan organisasi internasional dari seluruh dunia.
Ia berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) di New York serta World Bank di Washington, D.C., Amerika Serikat. Ia juga berpartisipasi sebagai presenter dalam konferensi internasional International Society for Environmental Epidemiology (ISEE) di Munich, Jerman.
Dari Kuratif Menuju Promotif dan Preventif
Bagi Andi Asrul, perubahan perspektif tersebut bukan berarti meninggalkan pendekatan kuratif. Pengobatan tetap menjadi bagian penting dari sistem kesehatan. Namun, ia meyakini bahwa sistem kesehatan yang kuat perlu bergerak lebih jauh dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada upaya promotif dan preventif. Menurutnya, masyarakat idealnya tidak hanya datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami keluhan atau menderita penyakit.
Sistem kesehatan perlu hadir lebih awal dengan membantu masyarakat memahami faktor risiko, membangun perilaku hidup sehat, melakukan deteksi dini, dan mencegah faktor risiko berkembang menjadi penyakit. Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya beban penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Banyak faktor risiko penyakit tersebut berkaitan erat dengan perilaku dan lingkungan tempat seseorang hidup. Karena itu, intervensi kesehatan tidak cukup hanya dilakukan ketika penyakit telah muncul. Intervensi perlu dimulai sejak seseorang masih berada dalam kondisi sehat atau memiliki faktor risiko.
Memperkuat Peran JKN
Dalam kiprahnya di BPJS Kesehatan, Andi Asrul kemudian memfokuskan perhatian pada pengembangan kebijakan promotif dan preventif, khususnya dalam upaya memperkuat peran sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Menurutnya, JKN tidak hanya memiliki peran dalam memberikan perlindungan finansial ketika masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan. JKN juga memiliki potensi strategis untuk mendorong masyarakat agar lebih aktif menjaga kesehatan dan mencegah penyakit.
“Saya ingin berkontribusi pada sistem kesehatan yang tidak hanya menunggu masyarakat datang ketika sudah sakit, tetapi mampu hadir lebih awal untuk membantu mereka tetap sehat. Jika kita dapat mencegah seseorang jatuh sakit, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga, masyarakat, dan keberlanjutan sistem kesehatan itu sendiri.”
Ke depan, Andi Asrul berharap dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat melalui keahlian yang dimilikinya. Khususnya melalui pengembangan kebijakan dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Ia ingin terus berkontribusi dalam membangun kebijakan yang dapat memperkuat pendekatan promotif dan preventif, mendorong perubahan perilaku kesehatan, serta memastikan pelayanan kesehatan primer menjadi semakin kuat sebagai fondasi sistem kesehatan Indonesia.
Baginya, kebijakan kesehatan memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan dalam skala yang jauh lebih besar. Satu kebijakan yang dirancang dengan baik dapat memengaruhi cara sistem bekerja, bagaimana tenaga kesehatan memberikan pelayanan, bagaimana masyarakat berperilaku, dan pada akhirnya bagaimana kualitas hidup jutaan masyarakat dapat ditingkatkan.
Membawa Pengabdian ke Tingkat Global
Tidak berhenti pada tingkat nasional, Andi Asrul juga memiliki aspirasi untuk dapat berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan di tingkat global. Ia berharap suatu saat dapat berkontribusi bersama organisasi kesehatan internasional seperti World Health Organization (WHO), khususnya dalam agenda penguatan primary health care atau pelayanan kesehatan primer. Menurutnya, penguatan pelayanan kesehatan primer memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun sistem kesehatan yang berorientasi pada pencegahan.
Pelayanan kesehatan primer bukan hanya menjadi pintu pertama masyarakat untuk mendapatkan pelayanan ketika sakit. Ia juga merupakan ruang utama untuk menjalankan promosi kesehatan, pencegahan penyakit, deteksi dini, pengendalian faktor risiko, dan pemberdayaan masyarakat. Aspirasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar bagi Andi Asrul.
Dari seorang lulusan farmasi yang memahami kesehatan dari perspektif obat dan pengobatan, menjadi seorang profesional kesehatan masyarakat yang melihat kesehatan dari perspektif perilaku, kebijakan, sistem, dan populasi.
“Saya percaya bahwa kontribusi di bidang kesehatan tidak selalu harus dilakukan dengan mengobati orang yang sakit. Kita juga dapat memberikan dampak yang lebih besar dengan menciptakan sistem kesehatan yang membantu masyarakat agar tidak jatuh sakit.”
Bagi Andi Asrul, perjalanan dari farmasi menuju kesehatan masyarakat bukanlah sebuah perpindahan bidang, melainkan proses memperluas cara pandang dan memperbesar ruang pengabdian.
Dari memahami bagaimana obat membantu seseorang pulih, hingga memahami bagaimana ilmu pengetahuan, perubahan perilaku, teknologi, pembiayaan, dan kebijakan dapat bekerja bersama untuk menjaga masyarakat tetap sehat.
Pada akhirnya, ia meyakini bahwa masa depan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik kita mengobati penyakit. Tetapi juga oleh seberapa baik kita mencegah penyakit, menjaga kesehatan masyarakat, dan membangun sistem yang memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup lebih sehat.
Dari Farmasi UMI ke Johns Hopkins.
Dari memahami pengobatan ke memperkuat pencegahan. Dari ilmu yang dipelajari di ruang kuliah menuju cita-cita membangun sistem kesehatan yang memberi dampak lebih luas. Dari Kampus, Menjadi Dampak.
(Bersambung)























































































































