#11 UMIConnection - Titipan Peradaban: Pada Era Artificial Intelligence, Mengapa Universitas Muslim Indonesia Tetap Menempatkan Akhlak sebagai Kompetensi Masa Depan yang Paling Utama?
#seri11
#UMI Connection – #Titipan Peradaban #11
“Untuk Mereka yang Bertanya: Lulusan Seperti Apa yang Sedang Dipersiapkan UMI? Kami tidak Sedang Menyiapkan Pencari Kerja Semata. Kami Sedang Menyiapkan Penjaga Peradaban.”
Makassar, umi.ac.id — Dunia sedang berubah. Kecepatan informasi melampaui kemampuan manusia untuk membacanya. Kecerdasan buatan mampu menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan detik. Robot mulai mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin. Profesi berubah. Keterampilan bergeser.
Cara manusia belajar, bekerja, dan mengambil keputusan tidak lagi sama. Di tengah perubahan itu, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar: “Pekerjaan apa yang akan bertahan?”. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: “Manusia seperti apa yang akan tetap dibutuhkan oleh dunia?”
Universitas Muslim Indonesia (UMI) memilih menjawab pertanyaan itu melalui arah transformasi yang sedang dibangunnya. UMI tidak hanya membangun sistem yang lebih modern. Tidak hanya memperkuat tata kelola berbasis data. Tidak hanya mengembangkan ekosistem Smart Islamic Digitally-Empowered University.
Semua itu adalah sarana. Tujuan akhirnya jauh lebih besar: membentuk manusia yang mampu tetap relevan ketika dunia berubah.
Manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak kehilangan nurani.
Manusia yang mampu memimpin perubahan, tetapi tidak kehilangan arah.
Manusia yang memiliki keahlian, tetapi tetap kukuh memegang amanah.
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., mengungkapkan, masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang menguasai teknologi.
“Teknologi dapat menggantikan banyak proses. Namun teknologi tidak dapat menggantikan kejujuran, amanah, kepedulian, keberanian mengambil keputusan yang benar, dan kemampuan memimpin manusia. Karena itu, UMI tidak hanya ingin meluluskan sarjana yang kompeten, tetapi juga insan yang dipercaya. Reputasi seseorang dibangun oleh ilmunya, tetapi kebermanfaatannya ditentukan oleh akhlaknya.”
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jabatan, kecanggihan teknologi yang dikuasai, atau seberapa tinggi pencapaian profesionalnya. Kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan. Dan ketakwaan itulah yang seharusnya menjadi kompas ketika ilmu, kekuasaan, dan teknologi berada di tangannya.
Wakil Rektor III Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. Kamal Hijaz, S.H., M.H., menjelaskan, pengembangan kemahasiswaan di UMI diarahkan untuk melahirkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.
“Kami ingin mahasiswa UMI menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi, berpikir kritis, bekerja sama lintas disiplin, memimpin dengan integritas, dan tetap memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Itulah bekal yang akan membuat mereka tetap relevan di masa depan.”
Karena itu, pendidikan di UMI tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Mahasiswa dibentuk melalui Program Pencerahan Qalbu.
Mereka tumbuh dalam budaya Kampus Ilmu dan Ibadah.
Mereka diperkenalkan pada pentingnya integritas dan budaya anti-gratifikasi.
Mereka belajar memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Dan mereka dibimbing untuk memahami bahwa ilmu pada akhirnya harus kembali kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian.
Inilah makna UMI Connection.
Menghubungkan ilmu dengan iman.
Menghubungkan kecerdasan dengan karakter.
Menghubungkan inovasi dengan tanggung jawab.
Menghubungkan cita-cita pribadi dengan kemaslahatan masyarakat.
Perjalanan menuju Smart Islamic Digitally-Empowered University bukanlah perlombaan untuk mencetak lulusan yang paling cepat menguasai teknologi. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar untuk melahirkan generasi yang mampu memimpin perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Generasi yang tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan dengan ilmu ini?”. Tetapi juga bertanya: “Untuk siapa ilmu ini saya gunakan?”
Inilah titik penting pendidikan. Sebab ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah.
Kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat menjadi ancaman. Teknologi tanpa nilai dapat memperbesar manfaat sekaligus memperbesar kerusakan. Karena itu, UMI ingin memastikan bahwa kecanggihan berjalan bersama kebijaksanaan.
Kecepatan berjalan bersama ketelitian.
Kekuasaan berjalan bersama amanah.
Dan prestasi berjalan bersama kebermanfaatan.
Seluruh proses tersebut diwujudkan melalui Catur Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter. Dalam kerangka itulah UMI memandang bahwa keberhasilan seorang lulusan tidak hanya diukur dari pekerjaan yang diperolehnya. Tetapi juga dari nilai yang dibawanya ke tempat ia bekerja.
Dari cara ia memperlakukan orang lain.
Dari keberaniannya menjaga kejujuran.
Dari kemampuannya memimpin dengan adil.
Dan dari seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan.
Kepada para orang tua, mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh keluarga besar UMI, ada satu harapan yang ingin dititipkan. Kelak…
Jika dunia membutuhkan dokter, jadilah dokter yang menghadirkan harapan.
Jika dunia membutuhkan insinyur, jadilah insinyur yang membangun dengan amanah.
Jika dunia membutuhkan guru, jadilah guru yang menyalakan semangat belajar.
Jika dunia membutuhkan hakim, jadilah hakim yang menegakkan keadilan.
Jika dunia membutuhkan pengusaha, jadilah pengusaha yang menciptakan kemakmuran dengan kejujuran.
Jika dunia membutuhkan pemimpin, jadilah pemimpin yang tidak kehilangan hati nurani.
Apa pun profesinya. Setinggi apa pun jabatannya. Secanggih apa pun teknologi yang dikuasainya. Jangan pernah berhenti menjadi manusia yang membawa manfaat. Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh teknologi.
Teknologi hanyalah alat. Peradaban dibangun oleh manusia yang tahu untuk apa ilmu digunakan, untuk siapa kekuasaan dijalankan, dan kepada siapa seluruh amanah dipertanggungjawabkan.
Itulah Titipan Peradaban dari Universitas Muslim Indonesia. Sebuah keyakinan bahwa universitas terbaik bukanlah universitas yang sekadar meluluskan banyak sarjana. Melainkan universitas yang melahirkan manusia-manusia yang:
ketika hadir, membawa ilmu;
ketika memimpin, membawa keadilan;
ketika bekerja, membawa keberkahan;
dan ketika pergi, meninggalkan jejak kemanfaatan.
Sebab kelak, mungkin orang tidak lagi bertanya dari universitas mana kita berasal. Mereka akan melihat apa yang kita lakukan dengan ilmu yang pernah kita dapatkan. Dan di sanalah sesungguhnya nama sebuah universitas menemukan maknanya. Pada manusia-manusia yang dilahirkannya.
Pada kehidupan yang disentuhnya.
Pada peradaban yang dibangunnya.
Itulah Titipan Peradaban dari UMI.
UMI Connection. Menghubungkan Data. Menguatkan Manusia. Membangun Masa Depan. (Bersambung)























































































































