#12 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. dr. Evi Mustikawati: Dari FK UMI, Kini Mengawal Kesehatan Masyarakat Sulawesi Selatan
Alumni Fakultas Kedokteran UMI angkatan 1993 ini menempuh perjalanan dari dokter spesialis, memimpin rumah sakit, hingga dipercaya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.
MAKASSAR, umi.ac.id — Seorang dokter biasanya berhadapan dengan satu pasien pada satu waktu. Ia mendengar keluhan, melakukan pemeriksaan, menentukan tindakan, lalu memastikan pasien mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan.
Tetapi pada satu fase perjalanan profesinya, Dr. dr. Evi Mustikawati, M.Kes., Sp.DVE. menghadapi tanggung jawab yang jauh lebih luas.
Bukan lagi hanya seorang pasien. Bukan pula hanya satu rumah sakit. Sejak November 2025, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 1993 itu dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Posisi tersebut membawanya pada tanggung jawab terhadap persoalan kesehatan masyarakat dalam cakupan yang jauh lebih besar.
Ada pelayanan kesehatan yang harus diperkuat. Ada program yang harus berjalan. Ada fasilitas dan tenaga kesehatan yang perlu dikoordinasikan. Ada penyakit yang harus dicegah. Dan ada masyarakat yang harus memperoleh pelayanan kesehatan secara layak. Perjalanan panjang itu bermula lebih dari tiga dekade lalu dari bangku kuliah Fakultas Kedokteran UMI.
Berawal dari FK UMI
Tahun 1993 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Evi Mustikawati. Ia memasuki Fakultas Kedokteran UMI dan memperoleh fondasi pendidikan kedokteran yang kemudian menjadi dasar perjalanan profesionalnya. Selepas pendidikan kedokteran, Evi memilih memperdalam kompetensinya hingga menjadi dokter spesialis dermatovenerologi, bidang kedokteran yang berkaitan dengan kesehatan kulit dan kelamin.
Pada fase ini, pengabdiannya berlangsung sebagaimana profesi dokter pada umumnya: berhadapan langsung dengan persoalan kesehatan dan kebutuhan pasien. Namun pengalaman profesional kemudian membawanya memasuki tanggung jawab yang berbeda. Ia mulai dipercaya mengelola institusi kesehatan.
Ketika Dokter Dipercaya Memimpin Rumah Sakit
Evi kemudian mengemban sejumlah posisi strategis dalam pelayanan kesehatan di Sulawesi Selatan. Ia pernah dipercaya sebagai Direktur UPT RSUD Haji Makassar, jabatan yang diembannya sejak September 2023 hingga November 2025. Pada Mei 2025, ia juga mendapat amanah sebagai Pelaksana Tugas Direktur RSKD Dadi Provinsi Sulawesi Selatan.
Memimpin rumah sakit tentu berbeda dengan menangani pasien secara langsung. Seorang dokter bertanggung jawab terhadap keputusan klinis dan pasien yang ditanganinya. Seorang pemimpin rumah sakit harus memastikan keseluruhan sistem pelayanan dapat bekerja.
Ada dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang harus didukung.
Ada mutu dan keselamatan pelayanan yang harus dijaga.
Ada sumber daya yang harus dikelola.
Ada tata kelola yang harus diperkuat.
Dan pada akhirnya, ada masyarakat yang datang dengan harapan mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik.
Pengalaman tersebut memperluas cara Evi melihat kesehatan. Persoalan kesehatan ternyata tidak hanya berada antara dokter dan pasien. Di belakang pelayanan yang baik, terdapat sistem yang juga harus bekerja dengan baik.
Dari Rumah Sakit ke Kesehatan Sulawesi Selatan
Pada November 2025, ruang pengabdian itu kembali meluas. Evi dipercaya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Jika sebelumnya ia bertanggung jawab terhadap sebuah institusi pelayanan kesehatan, kini tanggung jawabnya berada pada lingkup kesehatan masyarakat di tingkat provinsi. Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang besar. Persoalan yang dihadapi bukan lagi hanya bagaimana sebuah rumah sakit memberikan pelayanan.
Ada upaya promotif dan preventif.
Ada pencegahan dan pengendalian penyakit.
Ada kesehatan ibu dan anak.
Ada pelayanan kesehatan masyarakat.
Ada fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan.
Ada koordinasi pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota serta berbagai pemangku kepentingan.
Dan yang paling penting, ada kebutuhan kesehatan masyarakat Sulawesi Selatan yang beragam.
Pengalaman sebagai dokter memberinya pemahaman tentang pasien. Pengalaman memimpin rumah sakit memberinya pemahaman tentang institusi pelayanan. Kini, keduanya menjadi bekal ketika ia harus melihat kesehatan dari perspektif yang lebih luas: sistem dan masyarakat.
Dampak yang Berubah Skala
Di sinilah perjalanan Evi Mustikawati menarik untuk dibaca. Tujuan pengabdiannya tidak berubah. Yang berubah adalah skala tanggung jawabnya. Ketika menjadi dokter, ia memberikan pelayanan kepada pasien. Ketika memimpin rumah sakit, ia memastikan sebuah institusi mampu memberikan pelayanan kepada banyak pasien. Ketika dipercaya mengemban amanah di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, tanggung jawab itu berkembang menjadi bagaimana sistem kesehatan mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Pada level tersebut, dampak tidak lagi cukup dilihat dari berapa pasien yang telah ditangani. Pertanyaannya menjadi berbeda.
Apakah masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan?
Apakah pencegahan penyakit berjalan?
Apakah fasilitas kesehatan mampu memberikan pelayanan yang dibutuhkan?
Apakah tenaga kesehatan mendapatkan dukungan untuk bekerja dengan baik?
Dan apakah kebijakan yang dibuat benar-benar menjawab persoalan kesehatan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat kepemimpinan dalam sektor kesehatan memiliki tanggung jawab besar. Sebab keputusan yang dibuat dapat berhubungan dengan kehidupan banyak orang.
Tiga Dekade Setelah Menjadi Mahasiswa UMI
Lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak Evi Mustikawati pertama kali memasuki Fakultas Kedokteran UMI pada 1993. Saat itu, ruang belajarnya adalah kampus. Kemudian ia memasuki dunia pelayanan kesehatan sebagai dokter dan dokter spesialis. Pengalaman membawanya ke ruang manajemen rumah sakit. Dan perjalanan profesional tersebut akhirnya mempertemukannya dengan tanggung jawab dalam pengelolaan kesehatan masyarakat Sulawesi Selatan. Ada proses panjang di antara semua fase itu.
Pendidikan.
Pengalaman.
Kepercayaan.
Kepemimpinan.
Dan tanggung jawab yang terus bertambah.
Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan kedokteran tidak hanya dapat melahirkan dokter yang bekerja di ruang klinis. Dari sana juga dapat lahir pemimpin pelayanan kesehatan yang memahami persoalan mulai dari pasien hingga sistem.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kisah Dr. dr. Evi Mustikawati memberikan satu lagi wajah perjalanan alumni Universitas Muslim Indonesia. Ia berangkat dari Fakultas Kedokteran UMI. Ilmu membawanya menjadi dokter. Kompetensi membawanya menjadi dokter spesialis. Pengalaman mempertemukannya dengan kepemimpinan rumah sakit. Dan kepercayaan kemudian membawanya pada tanggung jawab yang lebih luas dalam kesehatan masyarakat Sulawesi Selatan.
Kini, ketika berada dalam kepemimpinan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, setiap pengalaman itu bertemu dalam satu amanah yang sama: bagaimana pelayanan kesehatan dapat semakin baik dan semakin dirasakan masyarakat.
Di situlah makna Dari Kampus, Menjadi Dampak menemukan bentuknya. Sebab keberhasilan seorang alumni tidak hanya dilihat dari jabatan yang berhasil dicapai. Yang lebih penting adalah apa yang dapat dilakukan ketika kepercayaan itu diberikan. Lebih dari tiga dekade setelah memasuki FK UMI, ruang pengabdian Evi Mustikawati memang semakin luas. Tetapi tujuan profesi kesehatan tetap sama: melayani manusia dan menjaga kesehatan masyarakat.
Dari FK UMI, ia belajar memahami pasien. Dari pelayanan, ia memahami kebutuhan masyarakat. Dari rumah sakit, ia belajar mengelola sistem. Dan hari ini, pengalaman itu dibawa untuk mengawal kesehatan masyarakat Sulawesi Selatan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































