#14 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ani Nurbani: Dari FK UMI ke Ruang Pengabdian Masyarakat
Alumni Fakultas Kedokteran UMI angkatan 1997 ini membawa perjalanan pengabdiannya dari dunia pendidikan kedokteran ke berbagai ruang pemberdayaan masyarakat, keluarga, anak, hingga kini menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua dampak alumni dapat diukur dari sebuah jabatan. Ada dampak yang tumbuh perlahan.
Di tengah keluarga.
Di sekolah.
Di pos pelayanan masyarakat.
Di ruang tempat anak-anak tumbuh.
Dan di tengah masyarakat yang membutuhkan perhatian.
Kisah Dr. Ani Nurbani, M.Kes, MARS, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 1997, memperlihatkan bentuk pengabdian seperti itu.
Data alumni FK UMI mencatat Ani Nurbani saat ini sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Ia lahir pada 21 Maret 1979. Namun perjalanan pengabdiannya tidak hanya berlangsung di ruang politik. Sebelum dan dalam perjalanan menuju ruang publik tersebut, ia menjalankan berbagai peran kemasyarakatan di Kabupaten Luwu Timur. Di sanalah kisahnya menjadi menarik.
Dari FK UMI, Memulai Perjalanan Pengabdian
Tahun 1997 menjadi bagian penting dalam perjalanan Ani Nurbani. Ia tercatat sebagai alumni Fakultas Kedokteran UMI angkatan tersebut. Dari lingkungan pendidikan kedokteran, perjalanan berikutnya membawanya ke ruang-ruang pengabdian yang semakin beragam. Ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi kemudian bertemu dengan kehidupan masyarakat. Karena masyarakat tidak hanya membutuhkan layanan ketika sakit.
Masyarakat juga membutuhkan keluarga yang kuat.
Anak-anak yang terlindungi.
Pendidikan yang diperhatikan.
Dan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang generasi berikutnya.
Dampak yang Dimulai dari Keluarga
Salah satu bagian penting dari kiprah Ani Nurbani terlihat ketika ia dipercaya menjalankan berbagai peran kemasyarakatan di Kabupaten Luwu Timur. Ia tercatat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu Timur dan Ketua Dekranasda Kabupaten Luwu Timur. Dua ruang tersebut membawa pengabdian ke wilayah yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Keluarga.
Pemberdayaan.
Ekonomi masyarakat.
Dan kehidupan sosial.
Di titik ini, makna pengabdian menjadi lebih luas daripada sekadar menjalankan profesi. Ada ruang untuk mendorong keluarga agar semakin kuat. Ada ruang untuk memberdayakan masyarakat. Dan ada ruang untuk melihat persoalan dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Anak-Anak Menjadi Bagian dari Perhatian
Perjalanan Ani juga bersentuhan langsung dengan dunia anak dan pendidikan. Data yang dihimpun mencatat ia dipercaya sebagai Ketua Tim Pembina Posyandu Luwu Timur, Bunda PAUD Kabupaten Luwu Timur, Bunda Literasi Kabupaten Luwu Timur, serta Bunda Forum Anak Kabupaten Luwu Timur. Rangkaian peran tersebut memperlihatkan satu benang merah: membangun manusia sejak awal kehidupannya.
Posyandu bersentuhan dengan pelayanan masyarakat. PAUD berhubungan dengan masa awal pendidikan anak. Literasi berkaitan dengan kebiasaan belajar dan pengetahuan. Sementara Forum Anak memberi ruang bagi anak untuk tumbuh dan menyampaikan suara mereka. Dengan demikian, pengabdian tidak hanya berbicara tentang hari ini. Ia juga berbicara tentang generasi yang akan datang.
Ketika Alumni Hadir di Ruang Kehidupan
Di sinilah perjalanan Ani Nurbani memberikan perspektif berbeda dalam serial ini. Tidak semua alumni memberikan dampak melalui ruang besar yang terlihat dari jauh. Sebagian justru hadir melalui ruang yang dekat.
Mendampingi keluarga.
Memperhatikan anak.
Mendorong literasi.
Menguatkan Posyandu.
Membangun pemberdayaan masyarakat.
Dampaknya mungkin tidak selalu muncul sebagai angka besar. Tetapi ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak yang mendapatkan ruang tumbuh yang lebih baik. Sebuah keluarga yang memperoleh perhatian. Masyarakat yang mendapat ruang untuk berkembang. Dan generasi muda yang didorong untuk membaca, belajar, serta berani menyampaikan gagasannya.
Dari Pengabdian Sosial ke Ruang Kebijakan
Perjalanan tersebut kemudian membawa Ani ke ruang politik. Kini ia tercatat sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Masuknya seorang alumni ke lembaga legislatif berarti terbukanya ruang pengabdian yang berbeda. Jika sebelumnya ia bersentuhan langsung dengan berbagai kelompok masyarakat, kini pengalaman tersebut dapat dibawa ke ruang representasi dan kebijakan publik.
Ada pengalaman melihat persoalan masyarakat dari dekat.
Ada pengalaman memahami kebutuhan keluarga.
Ada pengalaman bersentuhan dengan anak dan pendidikan.
Dan ada pengalaman berada di tengah masyarakat.
Semua itu menjadi bekal ketika seseorang dipercaya membawa aspirasi masyarakat ke lembaga perwakilan.
Dari Manusia, untuk Manusia
Ada satu benang merah yang dapat dibaca dari perjalanan Ani Nurbani. Manusia. Dari pendidikan kedokteran yang menjadi fondasi awal. Kemudian keluarga. Masyarakat. Anak-anak. Pendidikan. Literasi. Hingga ruang representasi politik. Ruang pengabdiannya berubah. Tetapi manusia tetap menjadi pusat perhatian. Inilah yang membuat perjalanan seorang alumni tidak cukup diceritakan melalui gelar dan jabatan. Sebab di balik setiap jabatan selalu ada kesempatan untuk memberikan manfaat.
Alumni Bukan Sekadar Lulusan
Bagi Universitas Muslim Indonesia, kisah Ani Nurbani menjadi bagian dari cerita yang lebih besar. Alumni bukan sekadar orang yang pernah duduk di bangku kuliah. Alumni adalah manusia yang membawa nilai dan pengalaman dari kampus ke tengah kehidupan.
Ada yang membawa ilmunya ke rumah sakit.
Ada yang membawanya ke laboratorium.
Ada yang masuk ke pemerintahan.
Ada yang memilih dunia usaha.
Ada yang berdiri di ruang pendidikan.
Dan ada pula yang mengabdikan dirinya melalui keluarga, anak-anak, pemberdayaan masyarakat, hingga politik.
Semua memiliki bentuk dampak yang berbeda.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Ani Nurbani menunjukkan bahwa dampak tidak selalu dimulai dari ruang yang besar. Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sangat dekat.
Dari keluarga.
Dari anak.
Dari pendidikan.
Dari masyarakat.
Kemudian berkembang menjadi tanggung jawab yang lebih luas. Dari FK UMI angkatan 1997, perjalanan itu terus bergerak. Dari pendidikan menuju pengabdian. Dari pengabdian menuju pemberdayaan. Dari masyarakat menuju ruang representasi. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang seseorang dapatkan dari kampus. Tetapi tentang apa yang kemudian ia kembalikan kepada masyarakat. Dari ruang kampus ke ruang kehidupan.
Dari ilmu menuju pengabdian. Dari alumni menuju dampak. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































