#12 UMIConnection - Titipan Peradaban: Universitas Bukan Milik Satu Generasi, Maka Ketahuilah, Kita Hanya Dititipi untuk Menjaganya, Membesarkannya, dan Mewariskannya.
#seri12
#UMI Connection – #Titipan Peradaban #12
“Jangan Hanya Bertanya UMI Akan Menjadi Apa. Bertanyalah: UMI Seperti Apa yang Akan Kita Tinggalkan?”
Makassar, umi.ac.id — Setiap generasi memiliki waktunya sendiri.
Ada generasi yang membangun.
Ada generasi yang menjaga.
Ada generasi yang memperbarui.
Dan ada generasi yang pada akhirnya harus menyerahkan apa yang telah dibangunnya kepada generasi berikutnya.
Begitulah sebuah universitas bertumbuh. Bukan dalam satu malam. Bukan oleh satu orang. Dan bukan hanya oleh satu generasi. Universitas Muslim Indonesia (UMI) tumbuh melalui perjalanan panjang yang diisi oleh ribuan manusia dengan peran, pengabdian, dan zamannya masing-masing.
Ada yang mendirikan fondasi.
Ada yang memperkuatnya.
Ada yang mengembangkan ilmu.
Ada yang mendidik generasi.
Ada yang menjaga nilai-nilai ke-UMI-an.
Ada yang bekerja dalam sunyi tanpa banyak disebut.
Dan ada yang hari ini menerima amanah untuk membawa UMI memasuki masa depan.
Karena itu, pertanyaan terbesar bagi sebuah universitas bukan hanya: “Akan menjadi seperti apa UMI di masa depan?”, tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “UMI seperti apa yang akan kita tinggalkan?”
Sebab universitas bukan sekadar gedung yang kita gunakan. Bukan sekadar sistem yang kita bangun. Bukan sekadar teknologi yang kita kembangkan. Bukan sekadar pemeringkatan yang kita raih. Semua itu penting. Tetapi semuanya akan berubah mengikuti zaman. Teknologi yang hari ini terasa luar biasa, suatu saat akan menjadi sesuatu yang biasa. Sistem yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan digantikan oleh sistem yang lebih maju. Namun ada sesuatu yang seharusnya tidak pernah kehilangan tempat: nilai.
Nilai tentang ilmu.
Nilai tentang iman.
Nilai tentang amanah.
Nilai tentang kejujuran.
Nilai tentang pengabdian.
Nilai tentang kemanusiaan.
Dan nilai tentang bagaimana ilmu digunakan untuk menghadirkan manfaat. Itulah yang ingin terus dijaga oleh Universitas Muslim Indonesia.
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan UMI terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
“Kita menerima UMI dari generasi sebelumnya dengan segala perjuangan dan pengorbanannya. Tugas kita adalah menjaga amanah itu, mengembangkannya sesuai tuntutan zaman, dan menyerahkannya kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik. Kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasi UMI.”
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa’: 58)
Amanah bukan sekadar sesuatu yang diberikan untuk dimiliki. Amanah diberikan untuk dijaga dan dipertanggungjawabkan. Begitu pula sebuah universitas. Ketika sebuah generasi menerima amanah untuk mengelola institusi, sesungguhnya ia tidak hanya menerima hak untuk memimpin. Ia menerima kewajiban untuk menjaga apa yang telah dibangun generasi sebelumnya dan mempersiapkan sesuatu yang lebih baik bagi generasi sesudahnya.
Karena itu, perjalanan UMI Connection tidak berhenti pada teknologi. Kita membangun integrasi data agar pelayanan menjadi lebih mudah.
Kita mengembangkan sistem agar keputusan dapat diambil dengan informasi yang lebih baik.
Kita membangun keamanan digital agar kepercayaan tetap terjaga.
Kita menggunakan kecerdasan buatan agar manusia dapat bekerja lebih efektif.
Kita membangun budaya integritas agar kewenangan tidak kehilangan arah.
Kita membina qalbu agar kecerdasan tidak kehilangan nurani.
Kita menjaga hubungan dengan alumni agar ilmu terus terhubung dengan pengabdian.
Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membangun manusia yang mampu membawa UMI dan masyarakat menuju masa depan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi jati dirinya.
Inilah makna UMI Connection. Bukan hanya menghubungkan data. Bukan hanya menghubungkan sistem. Tetapi menghubungkan generasi dengan generasi. Menghubungkan ilmu dengan iman. Menghubungkan teknologi dengan kemanusiaan. Menghubungkan pendidikan dengan pengabdian. Dan menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Perjalanan menuju Smart Islamic Digitally-Empowered University karena itu bukan sekadar proyek transformasi teknologi. Ia adalah bagian dari perjalanan peradaban.
UMI ingin menjadi universitas yang mampu menerima perubahan tanpa kehilangan arah. Terbuka terhadap teknologi tanpa kehilangan nilai. Berani berinovasi tanpa meninggalkan amanah. Dan bergerak cepat tanpa melupakan manusia.
Seluruh perjalanan tersebut terus bertumpu pada Catur Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter. Karena bagi UMI, keberhasilan sebuah universitas tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangunnya hari ini.
Tetapi juga oleh manfaat yang mampu diwariskannya kepada hari esok.
Kepada seluruh keluarga besar UMI, ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang. Suatu hari nanti kita tidak lagi berada di sini. Ruang yang hari ini kita tempati akan diisi oleh generasi yang berbeda. Mahasiswa yang hari ini kita bimbing akan menjadi pemimpin di berbagai bidang. Teknologi yang hari ini kita bangun mungkin sudah berubah. Sistem yang hari ini kita kembangkan mungkin sudah berganti. Bahkan nama-nama kita mungkin perlahan tidak lagi disebut. Tetapi sesuatu akan tetap tinggal: warisan.
Warisan ilmu yang pernah diajarkan.
Warisan akhlak yang pernah diteladankan.
Warisan integritas yang pernah dijaga.
Warisan pelayanan yang pernah diberikan.
Warisan penelitian yang pernah dilakukan.
Warisan pengabdian yang pernah dipersembahkan.
Dan yang paling penting: warisan manusia-manusia baik yang pernah dilahirkan.
Karena itu, jangan hanya bertanya: “Seberapa besar UMI yang kita bangun?”. Bertanyalah: “Seberapa baik UMI yang akan kita tinggalkan?” . Sebab kita semua, pada akhirnya, hanyalah penjaga. Datang membawa amanah. Bekerja dengan ikhlas. Berjuang dengan sungguh-sungguh. Lalu suatu hari pergi, dan menyerahkan amanah itu kepada generasi berikutnya.
Tugas kita bukan sekadar memastikan UMI tetap ada. Tugas kita adalah memastikan UMI menjadi lebih baik ketika kita menyerahkannya.
Lebih kuat ilmunya.
Lebih kokoh akhlaknya.
Lebih bersih tata kelolanya.
Lebih maju teknologinya.
Lebih luas pengabdiannya.
Dan lebih besar manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Itulah sesungguhnya makna Titipan Peradaban. Sebuah titipan dari mereka yang telah lebih dahulu berjuang. Kepada kita yang hari ini menerima amanah. Untuk mereka yang kelak akan datang dan melanjutkan perjalanan. Dan ketika generasi itu tiba, semoga mereka tidak bertanya: “Apa yang dulu mereka miliki?”, tetapi mereka dapat berkata: “Betapa baiknya apa yang telah mereka wariskan kepada kami.”
Karena pada akhirnya, ukuran sebuah generasi bukan hanya apa yang berhasil dicapainya. Tetapi apa yang ditinggalkannya untuk generasi sesudahnya. Dan mungkin, di situlah sebuah universitas benar-benar menjadi bagian dari peradaban.
Bukan karena ia pernah menjadi besar. Tetapi karena ia terus melahirkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
UMI Connection. Menghubungkan Data. Menguatkan Manusia. Membangun Masa Depan. (*)























































































































