#3 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Selle KS Dalle: Dari Teknik Mesin UMI ke Jalan Pengabdian Masyarakat
Dari organisasi mahasiswa, penelitian sosial, pendampingan kelompok marginal, legislatif hingga pemerintahan—perjalanan tentang ilmu yang tumbuh bersama kepedulian.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada mahasiswa yang datang ke kampus untuk mempersiapkan profesi. Ada pula yang sejak masa kuliah mulai menemukan persoalan apa yang ingin ia bantu selesaikan. Selle KS Dalle berada dalam kelompok kedua. Ia belajar Teknik Mesin di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Namun kehidupan kampusnya tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Ia berorganisasi. Menulis. Berdiskusi. Turun ke masyarakat. Melihat persoalan sosial dari dekat. Dan perlahan memahami bahwa ilmu tidak harus selalu berjalan lurus menuju satu profesi. Kadang ilmu justru membawa seseorang menuju pertanyaan yang lebih besar: “Apa yang dapat saya lakukan untuk kehidupan orang lain?”. Dari sanalah perjalanan panjang itu dimulai.
Kampus sebagai Tempat Ilmu Bertemu Idealisme
Semasa mahasiswa, Selle aktif dalam berbagai ruang organisasi kemahasiswaan di UMI. Ia pernah terlibat dalam Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknik, pers mahasiswa, forum kajian isu strategis, serta gerakan mahasiswa yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan sosial. Di sinilah kampus menjadi lebih dari tempat memperoleh pengetahuan teknis.
Ruang organisasi mengajarkannya berdiskusi.
Pers mahasiswa mengajarkannya melihat persoalan secara kritis.
Gerakan mahasiswa membawanya bersentuhan dengan suara masyarakat.
Dan pengalaman itu membuat pendidikan teknik memperoleh dimensi yang lebih luas.
Teknik mengajarkan cara menyelesaikan persoalan. Kehidupan mengajarkan persoalan mana yang layak diperjuangkan.
Ketika Mahasiswa Memilih Turun ke Masyarakat
Salah satu sisi paling menarik dari perjalanan Selle adalah kedekatannya dengan penelitian sosial sejak usia muda. Ia terlibat dalam kajian mengenai kesejahteraan petani cengkeh. Penelitian tentang anak jalanan. Kondisi kesehatan dan pendidikan anak pemulung. Hingga persoalan kekerasan terhadap anak. Daftar tersebut bukan sekadar rekam kegiatan. Ada pola yang terlihat. Ia memilih mendekati persoalan dari tempat persoalan itu benar-benar terjadi.
Melihat.
Mendengar.
Mencatat.
Menganalisis.
Lalu mencoba memahami manusia di balik data.
Pada tahap ini, penelitian tidak lagi hanya berfungsi menghasilkan informasi. Penelitian menjadi cara untuk mendekat kepada kehidupan.
Dari Penelitian Menuju Pendampingan
Mengetahui persoalan adalah satu hal. Memilih tinggal cukup dekat dengan persoalan untuk ikut mencari solusi adalah hal lain. Perjalanan Selle kemudian bergerak dari penelitian menuju pendampingan masyarakat. Ia terlibat dalam kerja bersama masyarakat pemulung, perlindungan anak, pemberdayaan masyarakat sipil, advokasi, serta penguatan kapasitas masyarakat di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Ruang pengabdiannya semakin luas.
Anak jalanan.
Anak pemulung.
Masyarakat miskin.
Masyarakat desa.
Kelompok rentan.
Dan berbagai komunitas yang tidak selalu mempunyai akses besar untuk menyampaikan kepentingannya.
Di sinilah kepedulian memperoleh bentuk yang lebih konkret. Bukan hanya merasa prihatin.
Tetapi hadir.
Mendampingi.
Mendengar.
Dan ikut memperjuangkan ruang agar masyarakat dapat berdiri lebih kuat.
Dari Masyarakat Sipil menuju Tata Kelola
Pengalaman di masyarakat kemudian membawanya semakin dekat dengan persoalan pemerintahan. Ia terlibat dalam berbagai program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, otonomi daerah, pelayanan publik, dan tata kelola. Pengalaman ini penting karena ia mempertemukan dua dunia. Masyarakat yang membutuhkan solusi dan sistem pemerintahan yang mempunyai kewenangan menghasilkan solusi. Dari sana muncul pemahaman bahwa persoalan sosial tidak cukup hanya diselesaikan melalui pendampingan. Sebagian persoalan membutuhkan kebijakan.
Membutuhkan anggaran.
Membutuhkan institusi.
Membutuhkan sistem yang bekerja.
Karena itu, perjalanan dari masyarakat sipil menuju ruang kebijakan bukan selalu perubahan arah. Kadang justru merupakan kelanjutan. Dari mendengar persoalan menuju ikut memperbaiki sistem yang melahirkan keputusan.
Dari Ruang Masyarakat menuju Ruang Representasi
Pada 2014, Selle memasuki DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Ia kemudian kembali memperoleh kepercayaan pada periode berikutnya. Pada 2019, ANTARA mendokumentasikan dirinya sebagai Ketua Komisi A DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Ruang pengabdian kembali berubah. Dahulu ia berada di luar sistem dan mendampingi masyarakat menyampaikan aspirasi. Kini ia berada di dalam lembaga yang mempunyai fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Tetapi pengalaman sebelumnya memberikan perspektif penting. Karena ketika seseorang pernah melihat persoalan dari bawah, angka dalam dokumen anggaran tidak lagi sekadar angka. Sebuah program bukan sekadar item dan kebijakan bukan sekadar keputusan administrasi. Di belakangnya ada manusia.
Dari Legislatif ke Pemerintahan Daerah
Perjalanan itu kemudian bergerak lagi. Selle maju dalam Pilkada Soppeng 2024 bersama H. Suwardi Haseng. Keduanya kemudian dipercaya memimpin Kabupaten Soppeng. Pemerintah Kabupaten Soppeng mencatat Ir. Selle KS Dalle sebagai Wakil Bupati Soppeng periode 2025–2030, setelah dilantik pada 20 Februari 2025. Sekali lagi, ruang berubah.
Di legislatif, ia mengawasi kebijakan.
Di pemerintahan, ia ikut menjalankannya.
Di legislatif, ia menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi.
Di pemerintahan, ia ikut bertanggung jawab menjawab aspirasi itu.
Perubahannya besar. Tetapi tujuan akhirnya seharusnya tetap sama: masyarakat.
Seorang Insinyur yang Jalan Hidupnya Dekat dengan Manusia
Ada sisi yang membuat kisah Selle terasa tidak biasa. Pendidikan dasarnya adalah teknik. Tetapi perjalanan pengabdiannya banyak bersentuhan dengan persoalan manusia.
Anak-anak.
Kelompok marginal.
Pemberdayaan.
Masyarakat sipil.
Pemerintahan.
Kebijakan publik.
Hal itu memberikan satu pelajaran penting tentang pendidikan tinggi. Kampus tidak harus menentukan satu-satunya jalan hidup seseorang. Kampus memberikan perangkat untuk membaca persoalan, berpikir sistematis, bekerja disiplin, belajar terus-menerus, dan mengambil tanggung jawab.
Ilmu teknik dapat menjadi fondasi. Organisasi membentuk kepemimpinan. Penelitian memperluas perspektif. Pendampingan masyarakat membentuk empati dan pengalaman kebijakan mengajarkan bahwa solusi harus dapat bekerja dalam sistem. Ilmu memberi kemampuan. Kepedulian menentukan ke mana kemampuan itu dibawa.
Kembali kepada Profesi, Kembali kepada Almamater
Hubungan Selle dengan dunia keinsinyuran juga tetap memiliki tempat dalam perjalanannya. UMI merupakan salah satu perguruan tinggi perintis penyelenggaraan Program Profesi Insinyur di Indonesia, dengan program yang berjalan sejak 2017. Keterhubungan alumni dengan profesi dan almamater memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu berhenti setelah gelar sarjana diperoleh. Profesional dapat kembali belajar. Pengalaman dapat bertemu ilmu baru dan perjalanan hidup dapat terus memperbarui kompetensi. Itulah salah satu makna pendidikan sepanjang hayat.
Dari Aktivisme menuju Amanah Pemerintahan
Hari ini Selle berada dalam ruang pemerintahan. Bukan lagi hanya membawa aspirasi dari luar. Ia ikut berada pada posisi yang harus menjawab kebutuhan masyarakat melalui program, pelayanan, dan kebijakan. Pada 2025, ia bahkan dipercaya menjalankan sejumlah tugas pemerintahan sebagai Wakil Bupati Soppeng, termasuk melantik Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Soppeng. Setahun setelah pemerintahan baru berjalan, Pemkab Soppeng juga mempublikasikan refleksi capaian pemerintahan Bupati H. Suwardi Haseng bersama Wakil Bupati Ir. Selle KS Dalle. Perjalanan tersebut memperlihatkan satu perubahan penting. Dahulu, ia berada di tengah masyarakat untuk melihat apa yang salah. Kini, ia berada dalam pemerintahan yang harus ikut memastikan sesuatu menjadi lebih baik. Kepedulian diuji ketika seseorang akhirnya memperoleh kewenangan untuk bertindak.
Alumni sebagai Ilmu yang Bergerak
Bagi Universitas Muslim Indonesia, kisah Selle KS Dalle bukan sekadar profil seorang pejabat publik. Yang jauh lebih penting adalah pola perjalanannya. Dari Teknik Mesin.
Ke organisasi mahasiswa.
Ke penelitian sosial.
Ke masyarakat marginal.
Ke pemberdayaan masyarakat sipil.
Ke legislatif.
Dan akhirnya ke pemerintahan.
Ilmu bergerak melalui ruang yang berbeda. Pengalaman menambah cara pandang. Dan setiap tahap membentuk kemampuan untuk mengambil peran yang baru. Inilah salah satu bentuk dampak alumni. Bukan sekadar seberapa tinggi jabatan yang dicapai. Tetapi: seberapa luas pengalaman itu kembali digunakan untuk masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Serial “Dari Kampus, Menjadi Dampak” tidak dimaksudkan untuk membuat daftar alumni terkenal. Tujuannya adalah membaca perjalanan pendidikan melalui kehidupan para alumninya. Bagaimana ilmu berkembang setelah keluar dari kampus. Bagaimana idealisme diuji oleh realitas. Bagaimana kepedulian berubah menjadi tindakan. Dan bagaimana pengalaman yang panjang akhirnya memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Kisah Selle KS Dalle menawarkan satu pelajaran yang sangat kuat. Pengabdian tidak selalu dimulai ketika seseorang mempunyai jabatan.
Kadang pengabdian dimulai dari kegelisahan seorang mahasiswa.
Dari pertanyaan.
Dari penelitian kecil.
Dari keberanian mendekati masyarakat yang jarang dilihat.
Dari kesediaan mendengar.
Kemudian perjalanan itu berkembang. Hingga suatu hari seseorang memperoleh kewenangan yang jauh lebih besar dan pada saat itulah pertanyaannya berubah: Apakah kepedulian yang dahulu hidup ketika belum mempunyai kekuasaan tetap hidup ketika akhirnya memperoleh kekuasaan?. Di situlah amanah diuji.
Kampus Tidak Berhenti di Gerbang Wisuda
Pada akhirnya, mahasiswa memang akan meninggalkan kampus. Tetapi ilmu ikut berjalan. Pengalaman ikut membentuk. Nilai ikut menentukan pilihan dan semuanya akan diuji oleh kehidupan.
Apakah ilmu menjadi manfaat?
Apakah kepedulian bertahan?
Apakah profesi menjadi jalan pengabdian?
Apakah kewenangan tetap diperlakukan sebagai amanah?
Dan apakah kehadiran seorang alumni membuat kehidupan masyarakat sedikit lebih baik?
Di situlah pendidikan menemukan maknanya. Dari pengetahuan menuju kepedulian. Dari kepedulian menuju pengabdian. Dari pengabdian menuju kebijakan. Dan dari kebijakan—kembali kepada masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Karena kisah Universitas Muslim Indonesia tidak hanya ditulis di ruang kuliah. Ia juga ditulis oleh alumninya setiap kali ilmu digunakan untuk kehidupan. (Bersambung)























































































































