#4 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Sunarti Sain: Tiga Dekade Menjaga Suara Publik
Dari bangku Akuntansi UMI, Sunarti Sain menapaki hampir tiga dekade perjalanan di dunia pers: dari reporter, redaktur, pemimpin media, hingga ikut membentuk generasi jurnalis.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada pekerjaan yang manfaatnya hadir setiap hari tanpa selalu disadari. Ketika masyarakat memperoleh informasi yang benar, ketika persoalan daerah mendapat perhatian, dan ketika mereka yang jarang didengar memperoleh ruang untuk berbicara, di sana ada kerja jurnalistik.
Sunarti Sain, S.E., M.I.Kom. telah menjalani pekerjaan itu hampir tiga dekade.
Alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Muslim Indonesia (UMI) tersebut memulai karier sebagai reporter Harian Fajar pada 1996. Dari reporter, ia kemudian dipercaya menjadi redaktur, masuk Dewan Redaksi Harian Fajar, memimpin Radar Selatan, hingga menjadi Direktur PT Radar Bulukumba.
Perjalanannya kemudian berkembang lebih luas. Sunarti menjadi trainer, penguji kompetensi wartawan, aktif dalam organisasi profesi, terlibat dalam isu kebebasan pers, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, hingga produksi film. Dampaknya tidak lagi hanya hadir melalui berita yang ditulisnya, tetapi juga melalui wartawan, media, dan ruang publik yang ikut dibentuknya.
Dari Akuntansi UMI Memilih Jurnalistik
Sunarti menyelesaikan pendidikan S1 Akuntansi di Fakultas Ekonomi UMI. Namun setelah meninggalkan kampus, jalan hidup membawanya ke dunia jurnalistik. Pada 1996, ia bergabung sebagai reporter Harian Fajar. Ia menjalani pekerjaan dari dasar: mencari informasi, menemui narasumber, memahami persoalan, melakukan verifikasi, lalu menyajikannya kepada masyarakat.
Pengalaman itu membawanya menjadi redaktur pada 2000 hingga 2012. Sejak 2013, ia menjadi bagian dari Dewan Redaksi Harian Fajar. Sunarti mengalami langsung perubahan besar industri media: dari masa ketika surat kabar menjadi salah satu sumber utama informasi masyarakat hingga era digital ketika informasi bergerak dalam hitungan detik. Teknologinya berubah. Cara masyarakat mengonsumsi informasi berubah. Tetapi tanggung jawab jurnalistik tetap sama: informasi harus dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Reporter hingga Memimpin Media
Pada 2013, Sunarti dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Radar Selatan sekaligus Direktur PT Radar Bulukumba. Tanggung jawabnya pun berubah. Bukan lagi hanya bagaimana menghasilkan berita yang baik, tetapi bagaimana menjaga sebuah media, mengembangkan wartawan, memahami masyarakat yang dilayani, sekaligus mempertahankan kepercayaan publik. Bagi media daerah, pekerjaan itu sangat penting.
Tidak semua persoalan masyarakat memperoleh perhatian media nasional. Banyak persoalan justru membutuhkan jurnalis lokal yang memahami daerah, mengenal masyarakatnya, dan mampu membawa persoalan mereka ke ruang publik. Di situlah media lokal mengambil peran dan di ruang itulah Sunarti menjalani sebagian besar pengabdiannya.
Pengalaman yang Dibagikan kepada Generasi Berikutnya
Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai jurnalis dan pengelola media, Sunarti mulai membagikan pengalamannya kepada wartawan lain. Ia menjadi trainer Google News Initiative pada 2018–2025 dan terlibat dalam berbagai pelatihan cek fakta serta penguatan profesionalisme media. Pengalamannya juga dipercaya dalam proses pengujian kompetensi wartawan.
Pada 2022, ia tercatat sebagai penguji Dewan Pers dalam Uji Kompetensi Wartawan di 18 kota/kabupaten. Pada 2026, ia kembali menjalankan peran sebagai penguji Uji Kompetensi Jurnalis Aliansi Jurnalis Independen dan Dewan Pers. Sunarti menjadi anggota Badan Penguji AJI sejak 2018 dan kembali dipercaya sebagai Badan Penguji AJI Nasional sejak 2025.
Pada titik ini, dampak pekerjaannya menjadi lebih luas. Satu berita dapat memberi pengetahuan kepada pembacanya. Tetapi seorang trainer dan penguji dapat membantu banyak wartawan menghasilkan berita yang lebih baik bagi masyarakat. Pengalaman yang dahulu ia bangun sendiri kini ikut menjadi bekal bagi generasi jurnalis berikutnya.
Menjaga Kebebasan dan Kualitas Pers
Perjalanan Sunarti juga membawanya pada berbagai forum mengenai kualitas dan kebebasan pers. Ia pernah menjadi informan ahli Penelitian Indeks Kemerdekaan Pers Dewan Pers, terlibat dalam penelitian Press Freedom di Papua yang dilakukan WAN-IFRA, serta menjadi anggota Media Freedom Community WAN-IFRA. Pengalaman jurnalistiknya membawanya mengikuti berbagai kegiatan di Malaysia, Myanmar, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan berbagai daerah di Indonesia.
Ia pernah meliput Piala AFF di Yokohama, Jepang, melakukan liputan kesehatan ibu dan anak di Singapura, hingga liputan khusus umrah di Makkah bersama Wakil Presiden Republik Indonesia. Pengalaman tersebut semakin menegaskan satu prinsip penting dalam jurnalistik. Kecepatan memang diperlukan. Tetapi berita juga membutuhkan verifikasi, etika, independensi, keberanian, dan tanggung jawab kepada publik.
Memberi Ruang bagi Perempuan dan Anak
Perjalanan pengabdian Sunarti tidak berhenti di ruang redaksi. Ia juga terlibat dalam sejumlah organisasi yang bergerak pada persoalan perempuan dan anak. Sunarti menjadi anggota Forum Pemerhati Masalah Perempuan Sulsel, Sekretaris Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia Bulukumba, anggota Koalisi Perempuan Indonesia, serta Ketua Lembaga Perlindungan Anak Bulukumba. Keterlibatan tersebut mempertemukan pekerjaan jurnalistiknya dengan persoalan manusia yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab di balik sebuah berita tentang kekerasan, kemiskinan, ketidakadilan, perempuan ataupun anak, selalu ada manusia yang kehidupannya benar-benar terdampak. Mereka membutuhkan pemberitaan yang tidak sekadar menarik perhatian, tetapi juga bertanggung jawab.
Ketika Cerita Berpindah ke Layar Film
Perjalanan Sunarti kemudian berkembang ke dunia film. Ia terlibat sebagai eksekutif produser dan co-produser sejumlah film, antara lain Sumiati (2015), Uang Panai (2016), Silariang (2017), Maipa Deapati dan Datuk Museng (2018), Halo Makassar (2018), Cinta Sama dengan Cindolo Na Tape (2018), Anak Muda Palsu (2019), Ambo Nai Sopir Andalan (2020), Between Us (2022), Suhu Beku (2023), Mappacci (2025), Uang Panai 2 (2025), hingga Cyberbullying (2026).
Medianya berbeda, tetapi pekerjaannya tetap berhubungan dengan cerita dan manusia. Jika jurnalistik menghadirkan fakta kepada publik melalui berita, film memberikan ruang lain untuk membawa pengalaman manusia kepada masyarakat yang lebih luas.
Pengalaman yang Melahirkan Kepercayaan
Perjalanan panjang tersebut menghasilkan berbagai penghargaan dan kepercayaan. Sunarti meraih Juara I Anugerah Jurnalistik Pertamina tingkat nasional pada 2016, Juara II Lomba Penulisan Telkomsel pada 2006, Juara II Lomba Penulisan Perbankan Syariah pada 2007, serta Juara III Lomba Penulisan Semen Tonasa pada 2012. Ia juga dipercaya menjadi panelis debat publik Pilgub Sulsel 2018 dan Pilkada Kabupaten Bulukumba 2024, narasumber program Cakap Digital Kominfo di 10 kota, Festival Generasi Makassar, Local Media Summit, hingga trainer bagi Polwan Bhabinkamtibmas se-Sulawesi Selatan.
Kepercayaan tersebut tidak datang dalam satu waktu. Ia tumbuh dari pekerjaan yang dijalani selama puluhan tahun.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Sunarti Sain memulai perjalanan akademiknya dari Akuntansi UMI. Hidup kemudian membawanya menjadi reporter.
Reporter menjadi redaktur.
Redaktur kemudian memimpin media.
Pengalaman di ruang redaksi membawanya menjadi trainer dan penguji kompetensi wartawan. Perhatiannya kepada masyarakat membawanya terlibat dalam isu perempuan, anak, kebebasan pers, literasi digital, hingga produksi film. Ruang pengabdiannya terus bertambah.
Namun ada satu hal yang tetap sama: bekerja dengan informasi, manusia, dan kepentingan publik. Kisah Sunarti Sain menunjukkan bahwa dampak seorang alumni tidak selalu diukur dari seberapa tinggi jabatan yang pernah dicapai. Dampak juga dapat tumbuh dari pekerjaan yang dilakukan secara konsisten.
Dari berita yang membantu masyarakat memahami persoalan.
Dari media lokal yang memberi ruang kepada daerah.
Dari wartawan muda yang dilatih.
Dari profesionalisme yang dijaga.
Dari perempuan dan anak yang memperoleh perhatian.
Dan dari pengalaman yang dibagikan kepada generasi berikutnya.
Hampir tiga dekade setelah memulai karier sebagai reporter, Sunarti masih berada dalam perjalanan itu. Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan seperti inilah yang membuat pendidikan terus hidup setelah seseorang meninggalkan kampus. Karena alumni bukan hanya membawa nama almamater. Mereka membawa ilmu, pengalaman, nilai, dan tanggung jawabnya ke tengah masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Dari Akuntansi UMI menuju dunia pers. Dari reporter menjadi pemimpin media. Dari pengalaman menjadi bekal bagi generasi berikutnya. Dan dari perjalanan panjang itu, Sunarti Sain terus menjalankan satu tanggung jawab yang sama: menjaga agar publik memperoleh informasi yang layak dipercaya dan suara masyarakat tetap mendapat ruang. (Bersambung)























































































































