#5 Dari Kampus, Menjadi Dampak - Irfan Yahya: Dari Teknik Kimia UMI, Menggerakkan Pendidikan dan Dakwah di Makassar
Alumni Teknik Kimia UMI yang memperluas jalan pengabdiannya melalui pendidikan, riset, pemikiran sosial, dan gerakan keumatan.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua alumni menjalani profesi yang sama dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah. Ada yang justru menemukan ruang pengabdian yang lebih luas setelah melewati berbagai pengalaman akademik, organisasi, dan kehidupan sosial.
Dr. Irfan Yahya, S.T., M.Si. adalah salah satunya.
Lulusan Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini kemudian berkembang menjadi akademisi, sosiolog, peneliti, serta penggerak pendidikan dan dakwah. Kini, ia dipercaya memimpin Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Makassar periode 2026–2030. Perjalanan Irfan memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat berkembang melampaui profesi: ilmu menjadi cara memahami persoalan, lalu digunakan untuk memberi manfaat kepada masyarakat.
Dari Teknik Kimia, Belajar Memahami Masyarakat
Irfan menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Kimia UMI. Namun kehidupan kampusnya tidak hanya diisi kegiatan akademik. Ia aktif dalam organisasi mahasiswa, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pers mahasiswa UPPM UMI. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan banyak persoalan sosial sekaligus membangun ketertarikannya terhadap masyarakat, organisasi, pendidikan, dan perubahan sosial. Dari lingkungan pendidikan teknik, perhatian Irfan kemudian berkembang ke ilmu sosial. Ia melanjutkan pendidikan magister dan doktoral bidang Sosiologi di Universitas Hasanuddin.
Pada 2021, Irfan menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan disertasi mengenai konstruksi sosial miniatur peradaban Islam dalam perspektif Sistematika Wahyu Hidayatullah dan meraih predikat cum laude. Perjalanan akademiknya pun memasuki ruang yang berbeda dari pendidikan sarjananya. Teknik Kimia mengajarkannya berpikir sistematis. Organisasi mempertemukannya dengan manusia dan persoalan sosial. Sosiologi kemudian memberinya perangkat akademik untuk membaca masyarakat.
Membangun Pendidikan, Menyiapkan Generasi
Salah satu jejak penting perjalanan Irfan berada di dunia pendidikan. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar. Keterlibatannya bahkan dimulai sejak proses awal pendirian perguruan tinggi tersebut. Irfan menjadi bagian dari kelompok kerja yang mempersiapkannya hingga kemudian dipercaya memimpin setelah STAI Al Bayan memperoleh izin penyelenggaraan.
Bagi Irfan, membangun pendidikan tidak berhenti pada berdirinya sebuah institusi. Yang lebih penting adalah manusia yang tumbuh di dalamnya. Mahasiswa harus memperoleh ilmu. Generasi muda membutuhkan pembinaan. Dan lembaga pendidikan harus mampu memahami perubahan masyarakat yang terus berlangsung. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu ruang pengabdian yang konsisten dijalaninya.
Membawa Pengalaman Lapangan ke Dunia Akademik
Pengalaman Irfan dalam organisasi dan gerakan sosial kemudian bertemu dengan dunia penelitian. Sebagai sosiolog, ia mengkaji hubungan antara agama, masyarakat, pendidikan, organisasi, dan perubahan sosial. Disertasinya menjadikan Hidayatullah sebagai objek kajian akademik untuk memahami bagaimana nilai, sistem sosial, dan gagasan membentuk kehidupan sebuah komunitas. Pemikirannya kemudian berkembang melalui berbagai tulisan.
Ia antara lain menulis mengenai arah Hidayatullah menghadapi perubahan zaman serta kontribusi gerakan tersebut terhadap kehidupan bangsa. Pada 2025, ia juga menulis mengenai posisi Hidayatullah dalam membaca perjalanan Indonesia menuju 2045. Pengalaman lapangan memberinya persoalan untuk dipikirkan. Dunia akademik memberinya metode untuk membaca persoalan tersebut secara lebih sistematis. Hasilnya kemudian kembali dibawa ke ruang pendidikan dan pengabdian.
Dipercaya Memimpin Hidayatullah Makassar
Perjalanan tersebut kini memasuki tanggung jawab baru. Hasil Musyawarah Daerah Gabungan Hidayatullah Sulawesi Selatan menetapkan Irfan Yahya sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kota Makassar periode 2026–2030. Amanah itu mempertemukan berbagai pengalaman yang telah dijalaninya.
Ia pernah menjadi aktivis mahasiswa.
Ia terlibat membangun dan memimpin lembaga pendidikan.
Ia menjadi akademisi dan sosiolog.
Dan ia telah lama berada dalam lingkungan gerakan Hidayatullah.
Kini pengalaman tersebut dibutuhkan untuk menjawab persoalan yang semakin kompleks. Bagaimana pendidikan tetap relevan. Bagaimana generasi muda dibina. Bagaimana dakwah disampaikan di tengah perubahan sosial dan teknologi. Bagaimana pelayanan kepada umat diperkuat dan bagaimana organisasi keagamaan tetap mampu bekerja bersama masyarakat yang semakin beragam. Tantangannya bukan sekadar menjalankan organisasi. Yang lebih penting adalah memastikan keberadaan organisasi memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari Alumni Menjadi Dampak
Perjalanan Irfan Yahya menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak membatasi seseorang pada satu profesi. Teknik Kimia menjadi fondasi awalnya. Organisasi mahasiswa memperluas cara pandangnya. Sosiologi membantunya memahami masyarakat. Pendidikan menjadi ruang membangun generasi. Dan Hidayatullah menjadi salah satu ruang pengabdiannya.
Kini seluruh pengalaman tersebut bertemu dalam satu tanggung jawab: menggunakan ilmu, pengalaman, dan kepemimpinan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Di situlah kisah Irfan Yahya menjadi bagian dari Dari Kampus, Menjadi Dampak. Sebab dampak alumni tidak selalu ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang dicapai atau seberapa dekat profesinya dengan jurusan ketika kuliah. Dampak terlihat dari apa yang dilakukan setelah ilmu diperoleh.
Apakah ilmu membantu memahami persoalan.
Apakah pengalaman dibagikan.
Apakah lembaga yang dipimpin berkembang.
Apakah generasi berikutnya memperoleh kesempatan lebih baik.
Dan apakah keberadaan seseorang memberi manfaat bagi masyarakat.
Irfan memulai perjalanan itu dari ruang kuliah Teknik Kimia UMI. Hari ini, ruang pengabdiannya telah berkembang ke pendidikan, penelitian, pemikiran sosial, dakwah, dan kepemimpinan masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Dari Teknik Kimia, belajar berpikir sistematis. Dari organisasi, belajar memahami manusia. Dari Sosiologi, belajar membaca masyarakat. Dari pendidikan dan dakwah, ilmu itu dikembalikan kepada masyarakat.
Sebab pada akhirnya, ukuran pendidikan bukan hanya gelar yang diperoleh, tetapi manfaat yang dapat diberikan setelah meninggalkan kampus. (Bersambung)























































































































