#3 UMIConnection - Titipan Profesi: Mengapa Guru Tetap Penting di Era AI?
#seri3
#UMI Connection – #Titipan Profesi #3
Titipan Profesi UMI: Ketika AI semakin pintar dan informasi semakin mudah diperoleh, pendidikan justru semakin membutuhkan manusia yang mampu memberi arah, keteladanan, dan harapan.
MAKASSAR, umi.ac.id — Dahulu, ketika seorang anak ingin mengetahui sesuatu, ia mencari guru. Hari ini, ia cukup mengetik sebuah pertanyaan.
Jawaban datang dalam hitungan detik.
Artificial Intelligence (AI) dapat menjelaskan teori, menerjemahkan bahasa, menyusun materi, menganalisis data, membuat simulasi pembelajaran, bahkan membantu seseorang memahami persoalan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.
Lalu muncul pertanyaan besar bagi dunia pendidikan: Jika AI semakin pintar, apakah guru masih dibutuhkan?
Universitas Muslim Indonesia (UMI) melihat perkembangan tersebut bukan sebagai akhir profesi guru, melainkan sebagai momentum untuk mendefinisikan kembali nilai seorang pendidik.
Semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan informasi mana yang benar, bagaimana memahaminya, dan untuk tujuan apa pengetahuan tersebut digunakan.
Sebab pendidikan tidak pernah hanya tentang menemukan jawaban.
Pendidikan adalah proses belajar mengajukan pertanyaan yang benar, membedakan kebenaran dari kekeliruan, memahami konsekuensi sebuah pilihan, membangun karakter, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadirkan kebaikan.
AI dapat memberikan informasi. Guru memberi arah.
AI dapat membantu menjawab pertanyaan. Guru mengajarkan cara berpikir.
AI dapat mengenali pola. Guru dapat melihat potensi seorang anak yang bahkan belum disadari anak itu sendiri.
Dan AI dapat membantu seseorang belajar, tetapi seorang guru dapat membuat murid percaya bahwa dirinya mampu belajar.
Di situlah kemanusiaan tetap menjadi jantung pendidikan.
Rektor UMI: Guru Bukan Sekadar Penyampai Ilmu
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pendidik yang mampu membentuk karakter dan menghadirkan keteladanan.
“Guru bukan sekadar penyampai ilmu. Guru adalah pembangun karakter, penumbuh harapan, dan penuntun ketika seorang anak mulai kehilangan keyakinan terhadap dirinya.”
Menurut Rektor UMI, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengarahkan teknologi tersebut.
AI dapat memperluas kemampuan seorang pendidik. Namun empati, integritas, keteladanan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap membutuhkan dimensi manusia.
Ketika Informasi Melimpah, Guru Memberi Arah
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ilmu memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Namun dalam perjalanan pendidikan, ilmu tidak tumbuh hanya melalui akses terhadap informasi.
Ada guru yang mengajarkan.
Ada guru yang membimbing.
Ada guru yang mengoreksi ketika muridnya salah.
Dan terkadang ada guru yang tetap percaya ketika seorang murid mulai kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Rasulullah SAW pun memberikan teladan bahwa pendidikan memiliki kedudukan penting dalam membangun manusia. Karena itu, pendidikan tidak dapat direduksi menjadi proses memindahkan informasi dari satu sumber menuju pikiran seorang peserta didik. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
Guru Masa Depan Harus Memahami AI
Wakil Rektor III Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. Kamal Hijaz, S.H., M.H., menjelaskan bahwa perkembangan AI justru menuntut calon pendidik memiliki kompetensi baru.
Guru masa depan perlu memahami teknologi, mampu menggunakannya secara etis dan produktif, serta kreatif mengembangkan pembelajaran tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai pendidik.
“Guru masa depan harus menguasai teknologi, memahami Artificial Intelligence, mampu berinovasi dalam pembelajaran, sekaligus tetap menjadi teladan. Karena yang paling lama diingat oleh seorang murid bukan hanya apa yang diajarkan gurunya, tetapi bagaimana gurunya memperlakukan dirinya.”
Dengan perspektif tersebut, pertanyaannya bukan lagi “AI atau guru?”. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Bagaimana guru menggunakan AI untuk membuat pendidikan semakin manusiawi, bermutu, dan berdampak?”
Teknologi Memperbesar Kemampuan, Karakter Menentukan Arah
Di UMI, pembentukan calon pendidik tidak ditempatkan hanya pada penguasaan teknologi. Melalui Program Pencerahan Qalbu, mahasiswa diperkenalkan pada pemahaman bahwa ilmu merupakan amanah. Melalui budaya Kampus Ilmu dan Ibadah, mahasiswa dibiasakan melihat bahwa keteladanan harus dimulai dari dirinya sendiri. Melalui penguatan integritas, mahasiswa diajak memahami bahwa seorang pendidik tidak dapat mengajarkan kejujuran sementara kehilangan kejujuran dalam perilakunya sendiri. Pada saat yang sama, transformasi digital memberikan ruang baru untuk memperluas kualitas pembelajaran.
Universitas Muslim Indonesia (UMI) menuju Smart Islamic Digitally-Empowered University melalui UMI Connection. Dalam konteks pendidikan, UMI Connection diarahkan untuk menghubungkan manusia, data, layanan, dan teknologi agar proses pendidikan semakin adaptif terhadap perubahan. Namun prinsipnya tetap sama: Teknologi adalah alat. Manusia tetap menjadi tujuan pendidikan.
AI Mengubah Cara Mengajar, Bukan Menghapus Makna Guru
Perkembangan AI memungkinkan sebagian pekerjaan guru berubah. Pencarian bahan pembelajaran dapat menjadi lebih cepat. Penyusunan materi dapat dibantu teknologi. Data pembelajaran dapat dianalisis lebih luas. Model belajar bahkan dapat semakin personal.
Karena itu, nilai seorang guru masa depan semakin bergeser dari sekadar sumber informasi menjadi arsitek pembelajaran, pembimbing karakter, fasilitator berpikir, penjaga integritas, dan pemberi arah. Inilah salah satu tantangan penting pendidikan di era AI.
Ketika informasi semakin melimpah, manusia membutuhkan kemampuan memilah.
Ketika teknologi semakin pintar, manusia membutuhkan kebijaksanaan.
Dan ketika jawaban semakin mudah ditemukan, peserta didik membutuhkan pendidik yang mampu membantu mereka memahami pertanyaan mana yang penting untuk diperjuangkan jawabannya.
Ilmu Bertemu Keteladanan
Pendidikan di Universitas Muslim Indonesia berjalan dalam kerangka Catur Dharma UMI, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter. Kerangka tersebut penting karena seorang guru tidak hanya mengajar generasi hari ini.
Seorang guru ikut menentukan seperti apa generasi berikutnya. Karena itu, dalam profesi pendidikan: ilmu harus bertemu hikmah, teknologi harus bertemu keteladanan, kecerdasan harus bertemu karakter, dan pembelajaran harus berakhir pada kemanusiaan. Kelak, murid mungkin lupa pelajaran—tetapi mengingat gurunya.
Kepada mahasiswa yang bercita-cita menjadi pendidik, UMI menitipkan sebuah pesan. Kelak, murid-murid mungkin lupa rumus yang pernah diajarkan. Mereka mungkin lupa tanggal ujian. Mereka bahkan mungkin lupa sebagian isi buku yang pernah diminta untuk dibaca. Tetapi mereka dapat mengingat bagaimana seorang guru membuat mereka merasa dihargai. Mereka mengingat guru yang tetap percaya ketika mereka gagal.
Guru yang mengoreksi tanpa mempermalukan.
Guru yang membuka jalan ketika mereka merasa tidak mempunyai masa depan.
Dan mungkin bertahun-tahun kemudian, ketika seorang murid telah menjadi dokter, insinyur, pengusaha, akademisi, pemimpin, atau bahkan menjadi guru seperti pendidiknya dahulu, ia tidak lagi mengingat seluruh materi pelajaran.
Namun sebagian keberaniannya mungkin tumbuh dari satu kalimat sederhana yang pernah diucapkan seorang guru kepadanya. Karena pada akhirnya: “Guru tidak hanya dikenang karena berapa banyak pelajaran yang disampaikan, tetapi karena berapa banyak kehidupan yang berhasil dinyalakan.”
Itulah Titipan Profesi dari Universitas Muslim Indonesia. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi mesin pintar, pendidikan tetap membutuhkan manusia yang memiliki ilmu, akhlak, integritas, keteladanan, dan hati yang mampu melihat manusia di balik angka dan prestasi.
AI mungkin dapat membantu seseorang mengetahui apa yang perlu dipelajari. Tetapi guru mempunyai peran yang jauh lebih manusiawi: membantu seorang anak menemukan mengapa ia harus belajar dan untuk apa ilmunya kelak digunakan. AI dapat memperluas pengetahuan. Guru membantu memberi arah pada kehidupan.
UMI Connection — Menghubungkan Data. Menguatkan Manusia. Membangun Masa Depan. (Bersambung)























































































































