#8 UMIConnection - Titipan Profesi: Apa Peran Akuntan di Era AI?
Titipan Profesi UMI: AI dapat mengolah jutaan transaksi dan menemukan pola, tetapi integritas, pertimbangan profesional, dan tanggung jawab atas informasi tetap membutuhkan manusia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebuah laporan keuangan sering terlihat sebagai kumpulan angka. Pendapatan. Biaya. Aset. Liabilitas. Laba. Arus kas.
Namun di balik angka-angka tersebut terdapat cerita tentang aktivitas sebuah organisasi. Ada hasil kerja banyak orang. Ada kepercayaan pemilik dan pemangku kepentingan. Ada keputusan investasi. Ada keberlangsungan usaha. Ada kewajiban kepada masyarakat dan negara. Karena itu, akuntansi tidak pernah hanya berbicara tentang menghitung angka. Akuntansi berbicara tentang bagaimana informasi dapat dipercaya.
Kini Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah berbagai proses dalam akuntansi. Teknologi dapat membantu memproses transaksi dalam jumlah besar, melakukan analisis data, mengidentifikasi pola dan anomali, mengotomasi sebagian pekerjaan rutin, serta membantu profesional memperoleh informasi lebih cepat.
Pekerjaan dapat menjadi lebih efisien.
Analisis dapat menjadi lebih luas.
Tetapi semakin besar kemampuan teknologi mengolah data, semakin penting satu pertanyaan: Siapa yang bertanggung jawab memastikan bahwa informasi tersebut benar, objektif, dan dapat dipercaya? Universitas Muslim Indonesia (UMI) memandang bahwa akuntan masa depan perlu menguasai teknologi, analitik data, sistem informasi, dan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Namun seluruh kemampuan tersebut harus berdiri di atas satu fondasi: Integritas.
Rektor UMI: AI Mengolah Data, Akuntan Menjaga Kepercayaan
Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa kepercayaan merupakan salah satu fondasi utama profesi akuntansi. Teknologi dapat mempercepat proses pengolahan informasi. Namun kualitas informasi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan sistem.
“Artificial Intelligence dapat membantu mengolah data, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab profesional untuk menjaga kejujuran informasi. Karena itu, UMI ingin melahirkan akuntan yang kompeten, transparan, berintegritas, dan dapat dipercaya.”
Di era AI, menurut Rektor UMI, kemampuan teknis tetap penting. Namun semakin canggih alat yang digunakan, semakin besar kebutuhan terhadap manusia yang mampu memverifikasi, mempertanyakan, menilai konteks, menjaga objektivitas, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. AI dapat mempercepat pengolahan angka. Integritas menentukan apakah angka itu layak dipercaya.
Di Balik Angka Ada Amanah
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8 tentang kewajiban berlaku adil dan menegakkan kebenaran. Nilai tersebut relevan dengan profesi yang memperoleh kepercayaan untuk mengelola, memeriksa, menganalisis, atau menyajikan informasi yang menjadi dasar keputusan orang lain. Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras terhadap tindakan menipu sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Muslim. Dalam konteks profesi, pesan tersebut memberikan satu prinsip yang sederhana tetapi mendasar: Kejujuran bukan tambahan bagi kompetensi. Kejujuran adalah bagian dari kompetensi itu sendiri. Sebab informasi yang sangat presisi secara teknis tetap dapat menyesatkan apabila manusia yang mengelolanya kehilangan integritas.
AI Mengubah Pekerjaan Akuntan, Bukan Menghapus Tanggung Jawabnya
Wakil Rektor III Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. Kamal Hijaz, S.H., M.H., menjelaskan bahwa pendidikan akuntansi perlu mempersiapkan mahasiswa menghadapi transformasi profesi. Mahasiswa perlu memahami sistem informasi akuntansi, analitik data, audit digital, teknologi finansial, dan pemanfaatan AI yang relevan dengan bidang profesinya. Namun transformasi tersebut harus berjalan bersama penguatan karakter.
“Mahasiswa perlu menguasai teknologi, tetapi mereka juga harus memahami bahwa kualitas seorang akuntan ditentukan oleh kejujuran, objektivitas, kompetensi, dan keberaniannya menjaga kebenaran ketika menghadapi tekanan.”
Karena itu, pertanyaan masa depan bukan sekadar: “Apakah AI akan menggantikan akuntan?”. Pertanyaan yang lebih produktif adalah: “Pekerjaan apa yang dapat dibantu AI, dan nilai profesional apa yang justru semakin penting ketika teknologi mengambil alih pekerjaan rutin?”. Di sinilah profesi akuntan bergerak dari sekadar pengolah angka menuju peran yang semakin kuat dalam analisis, assurance, interpretasi, pengendalian, pertimbangan profesional, dan pengambilan keputusan berbasis informasi.
Ketika Mesin Menghasilkan Jawaban, Akuntan Harus Berani Bertanya
Ada satu kompetensi yang menjadi semakin penting di era AI: professional skepticism — sikap kritis profesional. Ketika sistem menghasilkan angka, seorang akuntan tidak cukup hanya menerima hasilnya. Ia perlu bertanya: Apakah datanya benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah ada informasi yang tidak lengkap? Apakah terdapat anomali? Apakah asumsi yang digunakan tepat? Apakah hasil tersebut sesuai konteks? Dan apakah informasi yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan?
Karena itu, AI tidak membuat kemampuan berpikir manusia menjadi kurang penting. Justru sebaliknya. Ketika mesin semakin cepat memberi jawaban, manusia harus semakin cerdas mengajukan pertanyaan.
Membangun Integritas Sebelum Mengelola Angka
Di UMI, pembentukan tersebut tidak hanya ditempatkan pada penguasaan kompetensi akademik. Melalui Program Pencerahan Qalbu, mahasiswa diperkenalkan pada pemahaman bahwa setiap amanah pada akhirnya membawa pertanggungjawaban. Melalui budaya Kampus Ilmu dan Ibadah, profesionalisme dipertemukan dengan nilai spiritual dan akhlak. Melalui gerakan kampus berintegritas dan budaya antigratifikasi, mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya menjaga kejujuran ketika berhadapan dengan kepentingan dan tekanan. Sebab ujian terbesar integritas sering kali bukan ketika seseorang tidak mengetahui mana yang benar. Ujian integritas datang ketika seseorang mengetahui yang benar, tetapi mempunyai kesempatan atau tekanan untuk memilih sebaliknya.
UMI Connection: Dari Data Menuju Keputusan yang Dapat Dipercaya
Profesi akuntansi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan transformasi berbasis data.
Data yang terfragmentasi dapat menghasilkan gambaran yang tidak utuh.
Data yang tidak akurat dapat menghasilkan keputusan yang keliru.
Dan data yang tidak memiliki akuntabilitas dapat melemahkan kepercayaan.
Karena itu, transformasi digital bukan hanya persoalan memindahkan pekerjaan ke sistem elektronik. Dalam konteks inilah: Universitas Muslim Indonesia (UMI) menuju Smart Islamic Digitally-Empowered University melalui UMI Connection. UMI Connection dikembangkan dengan prinsip Satu Data, Satu Arah, Satu Kecepatan, Satu Peradaban, termasuk membangun budaya tata kelola yang semakin berbasis data, terintegrasi, transparan, dan akuntabel.
Bagi calon profesional akuntansi, transformasi tersebut membawa pelajaran penting:
Data bertemu kejujuran.
Teknologi bertemu akuntabilitas.
Efisiensi bertemu transparansi.
Profesionalisme bertemu amanah.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan semakin banyak data. Tujuannya adalah menghasilkan informasi yang semakin layak dipercaya untuk mengambil keputusan.
Akuntan sebagai Penjaga Kepercayaan Informasi
Pembentukan tersebut berjalan dalam kerangka Catur Dharma UMI, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter. Dengan perspektif tersebut, pendidikan akuntansi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengelola angka. UMI ingin membentuk profesional yang mampu memahami bahwa setiap angka memiliki konteks, setiap laporan dapat memengaruhi keputusan, dan setiap informasi membawa tanggung jawab. Di sinilah terdapat pergeseran penting profesi akuntan di era AI:
Dari pencatat menuju analis.
Dari pengolah menuju penafsir.
Dari pekerjaan rutin menuju pertimbangan profesional.
Dari sekadar menghasilkan laporan menuju menjaga kepercayaan terhadap informasi.
Kelak, Ketika Angka Berada di Tanganmu
Kepada mahasiswa yang bercita-cita menjadi akuntan, auditor, konsultan, profesional keuangan, entrepreneur, maupun pemimpin organisasi, Universitas Muslim Indonesia menitipkan sebuah pesan.
Kelak…
Ketika engkau menyusun sebuah laporan, ingatlah bahwa seseorang mungkin mengambil keputusan berdasarkan informasi yang engkau sajikan.
Ketika menemukan kesalahan, jangan menyembunyikannya.
Ketika menemukan sesuatu yang tidak wajar, jangan takut bertanya.
Ketika menghadapi tekanan, jangan menjual kebenaran untuk kenyamanan sesaat.
Gunakan teknologi. Pelajari AI. Kuasai analitik data. Pahami sistem digital. Tetapi ketika angka berbicara, pastikan ia berbicara dengan jujur. Sebab angka dapat berubah. Keuntungan dapat naik dan turun. Standar akan berkembang. Teknologi akan berganti. Tetapi ketika kepercayaan hilang, membangunnya kembali membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang daripada menghancurkannya.
Itulah Titipan Profesi dari Universitas Muslim Indonesia. Akuntan terbaik bukan hanya mereka yang paling cepat menghitung atau paling mahir menggunakan teknologi. Akuntan terbaik adalah mereka yang mampu mempertemukan kompetensi, teknologi, ketelitian, objektivitas, keberanian profesional, dan integritas untuk menghasilkan informasi yang dapat dipercaya.
Karena di balik angka selalu ada manusia.
Di balik informasi ada keputusan.
Dan di balik setiap amanah, ada pertanggungjawaban.
AI dapat mengolah miliaran angka.
Integritas menentukan apakah angka-angka itu layak dipercaya.
UMI Connection — Menghubungkan Data. Menguatkan Manusia. Membangun Masa Depan. (Bersambung)























































































































