Dari Kampus, Menjadi Dampak - A. Tenri Ita Maharani, Alumni Teknik Informatika UMI yang Kini Menjadi Anggota DPRD Bulukumba dan Bertugas di Komisi III
MAKASSAR, umi.ac.id — Pendidikan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang kuliah. Ada ilmu yang kemudian digunakan dalam pekerjaan, ada pengalaman yang membentuk cara berpikir, dan ada nilai yang tetap dibawa ketika seorang alumni memasuki ruang kehidupan yang lebih luas.
Perjalanan itu tergambar pada A. Tenri Ita Maharani, S.Kom., MTA, alumni Program Studi Teknik Informatika Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 2017 yang menyelesaikan pendidikannya pada 2022. Setelah melewati pengalaman di dunia profesional, Tenri Ita kini menjalankan amanah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bulukumba periode 2024–2029. Ia bertugas sebagai anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bulukumba dan merupakan bagian dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal sederhana: pendidikan memang dimulai di kampus, tetapi manfaatnya diuji ketika ilmu, pengalaman, dan nilai yang diperoleh berhadapan dengan kehidupan nyata. Dari kampus membawa ilmu. Dari kehidupan memperoleh pengalaman. Dari tanggung jawab menghadirkan dampak.
Dari Teknik Informatika UMI
A. Tenri Ita Maharani lahir di Makassar, 31 Desember 1999. Sebelum menjadi mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, ia menempuh pendidikan di SDN 29 Bontomacinna, kemudian SMPN 13 Makassar, dan melanjutkan pendidikan di MAN 2 Bulukumba. Pada 2017, Tenri Ita memasuki Program Studi Teknik Informatika UMI.
Ia menyelesaikan pendidikannya pada 2022 dan memperoleh gelar Sarjana Komputer. Masa perkuliahan tersebut menjadi salah satu fase yang membentuk perjalanan berikutnya. Bagi Tenri Ita, pengalaman kuliah di UMI bukan hanya tentang materi yang diperoleh di ruang pembelajaran.
Ia mengingat proses belajar yang menyenangkan, baik ketika berlangsung secara daring maupun luring. Ia juga memiliki kesan terhadap lingkungan kampus yang teduh dan nyaman. Namun setelah meninggalkan kampus, justru ada hal lain yang semakin terasa manfaatnya: cara berpikir dan kebiasaan yang terbentuk selama menjalani pendidikan.
Empat Bekal yang Dibawa dari UMI
Ketika ditanya mengenai nilai yang masih dirasakan setelah menyelesaikan pendidikan, Tenri Ita menyebut beberapa hal yang sederhana tetapi penting. Kedisiplinan. Kemampuan berkomunikasi dengan berbagai karakter. Kemampuan berpikir kritis. Dan kemampuan mencari solusi ketika menghadapi masalah. Empat hal tersebut kemudian memperoleh ruang penerapan yang berbeda setelah ia meninggalkan kampus.
Disiplin dibutuhkan ketika memasuki dunia profesional. Komunikasi diperlukan ketika bekerja bersama orang dengan karakter dan kepentingan yang berbeda. Berpikir kritis diperlukan untuk memahami persoalan. Sementara kemampuan mencari solusi dibutuhkan hampir dalam setiap tanggung jawab. Di sinilah pendidikan menemukan makna yang lebih luas. Ilmu memberi pengetahuan. Pengalaman menguji pengetahuan. Persoalan kemudian mengubah pengetahuan menjadi kemampuan.
Memulai Pengalaman Profesional Sejak Kuliah
Perjalanan profesional Tenri Ita bahkan telah dimulai ketika masih berada dalam fase pendidikan. Pada 2021, ia tercatat menjalankan tanggung jawab sebagai Manager Keuangan CV Marsa Maiwa. Setahun kemudian, pada 2022, ia dipercaya menjadi Manager Keuangan CV Gemala Pembangunan.
Pengalaman tersebut membawanya berhadapan langsung dengan dunia kerja, khususnya tanggung jawab dalam bidang keuangan. Dunia profesional kemudian memperlihatkan bahwa kemampuan seseorang tidak cukup hanya diukur dari pengetahuan akademiknya. Pekerjaan membutuhkan ketelitian. Ada target yang harus dicapai. Ada komunikasi yang harus dibangun. Ada keputusan yang harus dipertanggungjawabkan. Dan hampir selalu ada persoalan yang membutuhkan penyelesaian. Pengalaman itulah yang mempertemukan pengetahuan yang diperoleh di kampus dengan realitas dunia kerja.
Dari Dunia Profesional ke DPRD Kabupaten Bulukumba
Perjalanan Tenri Ita kemudian berkembang ke ruang pengabdian publik. Pada Pemilu 2024, ia terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Bulukumba periode 2024–2029. Dalam dokumen penetapan hasil Pemilu DPRD Kabupaten Bulukumba, A. Tenri Ita Maharani tercatat memperoleh 2.044 suara dari Daerah Pemilihan Bulukumba 3.
Kini, ia menjalankan tugas sebagai anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bulukumba dan berada dalam Fraksi PKS. Posisi tersebut membawa Tenri Ita ke lingkungan yang berbeda dari ruang kuliah maupun perusahaan. Jika sebelumnya persoalan yang dihadapi lebih banyak berada dalam konteks pendidikan dan profesional, kini ia berhadapan dengan persoalan publik dan kebutuhan masyarakat.
Ruangnya berubah. Tanggung jawabnya juga berubah. Tetapi sejumlah kemampuan dasar yang dibutuhkan tetap sama: mendengar, memahami persoalan, membaca informasi, berkomunikasi dengan banyak pihak, serta mencari alternatif penyelesaian.
Ketika Cara Berpikir Teknik Bertemu Persoalan Publik
Latar belakang Teknik Informatika memiliki karakter pembelajaran yang dekat dengan logika, sistem, data, dan pemecahan masalah. Namun pendidikan tidak selalu harus berakhir pada profesi yang memiliki nama sama dengan program studi seseorang. Kompetensi yang diperoleh selama pendidikan dapat berkembang lintas bidang.
Seorang lulusan Teknik Informatika dapat bekerja di industri teknologi, membangun usaha, bergerak dalam manajemen, menjadi akademisi, maupun memasuki berbagai ruang profesi lainnya. Perjalanan Tenri Ita menunjukkan salah satu jalur tersebut. Ia memiliki latar pendidikan Teknik Informatika. Ia memperoleh pengalaman profesional dalam bidang pengelolaan keuangan. Kemudian ia memasuki ruang pengabdian publik. Ketiganya memang berbeda. Tetapi ada benang merah yang dapat mempertemukannya: kemampuan memahami persoalan dan mencari jalan penyelesaiannya.
Belajar Berhadapan dengan Persoalan Masyarakat
Menjadi bagian dari DPRD berarti memasuki ruang yang persoalannya tidak selalu sederhana. Ada kebutuhan masyarakat. Ada aspirasi yang berbeda. Ada keterbatasan sumber daya. Ada regulasi. Ada program pemerintah. Dan ada keputusan yang harus melalui proses kelembagaan.
Karena itu, ruang publik membutuhkan kemampuan mendengar sebelum berbicara dan memahami persoalan sebelum menawarkan penyelesaian. Aktivitas Tenri Ita di Komisi III juga mempertemukannya dengan berbagai persoalan yang bersentuhan dengan kepentingan masyarakat.
Pada Juni 2026, misalnya, ia tercatat mengikuti Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPRD Kabupaten Bulukumba terkait persoalan pengelolaan layanan air bersih Pamsimas di Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro. Contoh tersebut menunjukkan bagaimana ruang pengabdian publik membawa seorang alumni berhadapan langsung dengan persoalan yang dirasakan masyarakat. Pada titik seperti inilah kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan orientasi pada solusi menemukan konteks yang berbeda dari ketika masih berada di kampus.
Alumni Bukan Hanya Tentang Gelar
Universitas sering dinilai dari apa yang terlihat di dalam kampus. Gedungnya. Laboratoriumnya. Kurikulumnya. Dosennya. Penelitiannya. Prestasi mahasiswanya. Semua itu penting. Namun ada satu ukuran lain yang tidak kalah penting: apa yang dilakukan alumninya setelah meninggalkan kampus.
Karena pada akhirnya, alumni adalah salah satu ruang tempat masyarakat melihat hasil sebuah proses pendidikan. Bukan semata-mata dari jabatan yang diperoleh seseorang. Bukan pula dari seberapa tinggi posisi yang dicapai. Tetapi dari bagaimana pengetahuan, kompetensi, karakter, dan pengalaman pendidikan digunakan dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, perjalanan alumni UMI berada di banyak ruang.
Ada yang bekerja di perusahaan. Ada yang menjadi profesional. Ada yang membangun usaha. Ada yang menjadi akademisi. Ada yang bekerja di pemerintahan. Ada yang mengabdikan diri di tengah masyarakat. Dan ada pula yang menjalankan amanah melalui lembaga perwakilan publik.
Masing-masing memiliki jalur yang berbeda. Yang penting adalah nilai manfaat yang dihasilkan dari perjalanan tersebut.
Membawa Nilai UMI ke Ruang Pengabdian
Bagi Tenri Ita, sejumlah nilai yang diperolehnya selama menjadi mahasiswa UMI tetap relevan ketika ruang aktivitasnya berubah. Kedisiplinan menjadi bagian dari cara menjalankan pekerjaan. Kemampuan berkomunikasi menjadi bekal ketika bertemu orang dengan karakter yang berbeda. Berpikir kritis membantu melihat persoalan dari berbagai sisi. Sementara kemampuan mencari solusi menjadi penting ketika menghadapi masalah.
Nilai-nilai tersebut tidak berhenti ketika ijazah diterima. Justru setelah lulus, nilai itu mulai diuji dalam kehidupan nyata. Kampus memberi ruang untuk belajar. Kehidupan memberi ruang untuk membuktikan.
Teknik Informatika Tidak Membatasi Masa Depan
Perjalanan Tenri Ita juga menyampaikan pesan penting bagi mahasiswa hari ini, khususnya generasi muda yang sedang menentukan masa depannya. Program studi bukanlah pagar yang membatasi seseorang hanya pada satu pekerjaan. Pendidikan memberikan fondasi. Dunia kemudian menyediakan banyak kemungkinan. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, kemampuan yang semakin penting bukan hanya menguasai satu perangkat atau aplikasi, tetapi juga kemampuan untuk belajar kembali, beradaptasi, membaca data, berpikir logis, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah.
Karena teknologi berubah. Jenis pekerjaan berubah. Persoalan masyarakat pun berubah. Tetapi manusia yang memiliki kemampuan belajar dan beradaptasi akan mempunyai ruang untuk terus berkembang. Perjalanan seorang alumni Teknik Informatika yang kemudian memiliki pengalaman dalam pengelolaan keuangan dan kini berada di ruang pengabdian publik merupakan salah satu gambaran tentang luasnya kemungkinan tersebut.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
A. Tenri Ita Maharani masih berada pada fase awal perjalanan profesional dan pengabdiannya.
Masih banyak perjalanan yang akan dilalui. Masih banyak pengalaman yang akan membentuknya. Dan masih banyak tanggung jawab yang akan menguji ilmu serta nilai yang pernah diperoleh.
Namun perjalanan sejauh ini telah membentuk satu rangkaian yang menarik.
Dari mahasiswa Teknik Informatika UMI. Memasuki dunia profesional. Memperoleh pengalaman dalam pengelolaan keuangan. Kemudian menjalankan amanah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bulukumba periode 2024–2029 dan bertugas di Komisi III. Bagi Universitas Muslim Indonesia, cerita seperti ini bukan tentang menjadikan jabatan seorang alumni sebagai ukuran keberhasilan pendidikan. Maknanya justru lebih mendasar.
Apakah ilmu yang diperoleh masih digunakan? Apakah karakter yang dibentuk masih bekerja? Apakah kemampuan berpikir berkembang ketika menghadapi persoalan nyata? Dan yang terpenting: apakah kehadiran seorang alumni memberi manfaat di ruang tempat ia menjalankan tanggung jawab?
Karena pendidikan yang berdampak tidak selesai pada hari wisuda. Wisuda justru menjadi titik ketika ilmu mulai memasuki kehidupan sebenarnya.
Dari UMI, Tenri Ita membawa ilmu. Dari dunia profesional, ia memperoleh pengalaman. Dari ruang pengabdian publik, ia menjalankan tanggung jawab. Dan dari perjalanan itulah dampak mulai dibangun. Sebab kampus yang baik tidak hanya menghasilkan orang yang selesai belajar. Kampus harus melahirkan manusia yang tidak pernah selesai memberi manfaat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































