Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Andi Aulia Rahman, Alumni S1–S3 Hukum UMI, Raih Doktor dengan IPK 3,91 dan Kini Jadi Koordinator Kejati Sulawesi Tengah
Menempuh tiga jenjang pendidikan hukum di Universitas Muslim Indonesia, Andi Aulia Rahman membuktikan bahwa pengembangan keilmuan dapat berjalan beriringan dengan pengabdian profesional. Setelah meraih doktor pada September 2024, ia dipercaya menjadi Koordinator Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah pada Mei 2026.
MAKASSAR, umi.ac.id — Di tengah tanggung jawab sebagai aparatur penegak hukum, Dr. Andi Aulia Rahman, S.H., M.H., tetap melanjutkan pendidikannya hingga jenjang tertinggi. Bukan hanya sekali ia kembali ke kampus. Tiga jenjang pendidikan tinggi, mulai dari sarjana, magister, hingga doktor Ilmu Hukum, seluruhnya ditempuh di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Perjalanan akademik itu mencapai salah satu tonggak penting pada 3 September 2024, ketika Andi Aulia menyelesaikan pendidikan doktor Ilmu Hukum dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,91. Pada saat yang sama, perjalanan profesionalnya terus berkembang di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia. Setelah menjalani berbagai penugasan di bidang tindak pidana khusus, tindak pidana umum, pengelolaan barang bukti, hingga pengawasan, ia dipercaya menjadi Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah sejak 6 Mei 2026.
Kisah Andi Aulia memperlihatkan bahwa pendidikan tidak harus berhenti ketika seseorang telah memiliki pekerjaan dan tanggung jawab profesional. Sebaliknya, pengalaman kerja dan pengembangan ilmu pengetahuan dapat berjalan bersama sepanjang perjalanan karier.
Tiga Jenjang Pendidikan, Satu Kampus
Hubungan akademik Andi Aulia Rahman dengan Universitas Muslim Indonesia berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum UMI pada 2006. Setelah menjalani perjalanan profesional di lingkungan kejaksaan, ia kembali melanjutkan pendidikan pada jenjang Magister Hukum dengan bidang kajian Hukum Pidana. Pendidikan magister tersebut diselesaikannya pada 2020.
Namun, pencapaian itu bukan akhir perjalanan akademiknya. Andi Aulia kembali melanjutkan pendidikan pada Program Doktor Ilmu Hukum UMI hingga dinyatakan lulus pada 3 September 2024. Ia menyelesaikan pendidikan doktor dengan IPK 3,91. Dengan demikian, Andi Aulia telah menempuh tiga jenjang pendidikan hukum di kampus yang sama: sarjana pada 2006, magister pada 2020, dan doktor pada 2024. Perjalanan tersebut memperlihatkan kesinambungan pengembangan keilmuan yang berlangsung hampir dua dekade.
Bagi seorang profesional di bidang hukum, pendidikan lanjutan menyediakan ruang untuk memperdalam teori, mengembangkan kemampuan analisis, dan memperluas perspektif dalam memahami persoalan hukum. Sementara itu, pengalaman kerja menghadirkan persoalan nyata yang menuntut ketelitian, pemahaman prosedur, dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kewenangan. Keduanya menjadi bagian yang saling melengkapi dalam perjalanan Andi Aulia.
Memulai Pengabdian Sejak 2005
Perjalanan profesional Andi Aulia dimulai ketika ia menjadi pegawai negeri sipil pada 2005. Artinya, ia telah memasuki lingkungan pengabdian sebagai aparatur negara sebelum menyelesaikan pendidikan sarjananya di UMI pada 2006. Seiring waktu, perjalanan kariernya berkembang melalui sejumlah penugasan di berbagai wilayah.
Pada 2018, Andi Aulia dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus pada Kejaksaan Negeri Bulungan, Kalimantan Utara. Dua tahun kemudian, pada 2020, ia memperoleh penugasan sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Umum pada Kejaksaan Negeri Tarakan. Kedua jabatan tersebut memiliki ruang lingkup tugas yang berbeda. Bidang tindak pidana khusus dan tindak pidana umum masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan kewenangan kejaksaan dalam penanganan perkara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Perpindahan penugasan tersebut menjadi bagian dari pengembangan pengalaman profesional Andi Aulia dalam lingkungan penegakan hukum.
Pada periode yang sama, ia juga berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Hukum UMI pada 2020. Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana tanggung jawab pekerjaan dan pendidikan lanjutan berlangsung dalam satu fase kehidupan profesionalnya.
Dari Bulungan dan Tarakan, Melanjutkan Tugas ke Gowa
Setelah menjalankan penugasan di Kalimantan Utara, Andi Aulia melanjutkan perjalanan kariernya ke Sulawesi Selatan. Pada Agustus 2022, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Barang Bukti dan Barang Rampasan pada Kejaksaan Negeri Gowa. Penugasan ini memperluas pengalamannya ke bidang pengelolaan barang bukti dan barang rampasan.
Dalam pelaksanaan fungsi kejaksaan, bidang tersebut membutuhkan ketertiban administrasi, kepatuhan terhadap prosedur, serta pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengalaman di Gowa melengkapi penugasan sebelumnya di bidang tindak pidana khusus dan tindak pidana umum.
Dari Bulungan, Tarakan, hingga Gowa, perjalanan Andi Aulia menunjukkan pengalaman pada sejumlah fungsi kelembagaan yang berbeda. Setiap penugasan menghadirkan lingkungan kerja, tanggung jawab, dan kebutuhan koordinasi tersendiri.
Mengembangkan Pengalaman Pengawasan di Sulawesi Tengah
Perjalanan karier Andi Aulia kemudian berlanjut ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Pada April 2024, ia tercatat menjalankan tugas sebagai Pemeriksa Tindak Pidana Umum pada Asisten Bidang Pengawasan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Penugasan tersebut menempatkannya dalam lingkungan kerja yang berkaitan dengan fungsi pengawasan internal kejaksaan.
Menariknya, pada tahun yang sama, Andi Aulia juga berada pada tahap akhir pendidikan doktor Ilmu Hukum di UMI. Ia menyelesaikan pendidikan doktor pada 3 September 2024 dengan IPK 3,91. Dua bulan kemudian, pada November 2024, nomenklatur jabatan yang diembannya tercatat berubah menjadi Pemeriksa Tindak Pidana Umum dan Pemulihan Aset pada Asisten Bidang Pengawasan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah.
Perjalanan pada 2024 tersebut menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan akademik dan profesionalnya. Di satu sisi, ia menuntaskan pendidikan doktor. Di sisi lain, ia terus menjalankan tugas dalam lingkungan pengawasan kejaksaan tingkat provinsi. Pencapaian akademik dan penugasan profesional tersebut merupakan dua bagian dari rekam jejaknya, dengan mekanisme dan tanggung jawab masing-masing.
Mei 2026, Dipercaya Menjadi Koordinator Kejati Sulawesi Tengah
Tonggak terbaru perjalanan profesional Andi Aulia tercatat pada 6 Mei 2026. Pada tanggal tersebut, ia memperoleh penugasan sebagai Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Jabatan ini menjadi kelanjutan perjalanan kariernya setelah menjalani berbagai penugasan pada tingkat kejaksaan negeri dan kejaksaan tinggi.
Sejak memulai pengabdian pada 2005, Andi Aulia telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam lingkungan aparatur negara. Ia pernah menjalankan tanggung jawab di bidang tindak pidana khusus, tindak pidana umum, pengelolaan barang bukti dan barang rampasan, serta pengawasan. Penugasan sebagai Koordinator Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah menjadi bagian terbaru dari perkembangan tanggung jawab profesionalnya.
Dalam organisasi penegakan hukum, kemampuan memahami ketentuan, bekerja secara terkoordinasi, serta menjaga integritas merupakan bagian penting dari pelaksanaan tugas. Karena itu, pengembangan kompetensi tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik atau perubahan jabatan, tetapi juga dengan kemampuan menjalankan kewenangan secara bertanggung jawab.
Ketika Pendidikan Tidak Berhenti pada Gelar
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Andi Aulia Rahman. Ia tidak menempuh seluruh pendidikan tinggi sebelum memasuki dunia kerja. Sebaliknya, pendidikan dan pengabdian profesionalnya berlangsung secara beriringan. Ia memulai pengabdian sebagai pegawai negeri sipil pada 2005, menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2006, meraih gelar magister pada 2020, dan menuntaskan pendidikan doktor pada 2024. Dalam rentang waktu tersebut, ia juga menjalani berbagai penugasan di lingkungan kejaksaan.
Perjalanan ini menghadirkan pesan penting bagi mahasiswa, alumni, dan para profesional. Pendidikan tinggi tidak semata-mata menjadi persyaratan awal untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sepanjang hayat, ketika seseorang terus memperbarui pengetahuan dan memperluas cara pandangnya terhadap profesi yang dijalani.
Gelar akademik tentu bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang profesional. Dalam bidang penegakan hukum, penguasaan ilmu perlu berjalan bersama integritas, ketelitian, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hukum dan hak masyarakat. Namun, kesediaan untuk terus belajar menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Alumni UMI dan Pengabdian dalam Penegakan Hukum
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Andi Aulia Rahman menjadi bagian dari rekam jejak alumni yang mengembangkan kompetensi akademik sekaligus menjalankan tanggung jawab profesional. Sebagai alumni tiga jenjang pendidikan hukum UMI, ia memiliki hubungan akademik yang panjang dengan institusi.
UMI dikenal sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah serta Kampus Perjuangan dan Pengabdian. Identitas tersebut menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. Semangat ini sejalan dengan Catur Dharma UMI, yang mencakup Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Dalam pendidikan hukum, pembentukan karakter memiliki hubungan erat dengan tanggung jawab profesional. Pengetahuan mengenai hukum harus disertai kesadaran bahwa setiap kewenangan memiliki batas, setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap amanah harus dijalankan sesuai ketentuan. Perjalanan alumni dalam lingkungan penegakan hukum menjadi salah satu ruang untuk melihat bagaimana pendidikan akademik bertemu dengan tanggung jawab profesi.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Dr. Andi Aulia Rahman, S.H., M.H., menghadirkan kisah tentang kesinambungan pendidikan dan pengabdian. Ia menyelesaikan Sarjana Ilmu Hukum UMI pada 2006, Magister Hukum dengan bidang kajian Hukum Pidana pada 2020, serta Doktor Ilmu Hukum pada 3 September 2024 dengan IPK 3,91. Dalam perjalanan profesional, ia telah menjalankan berbagai penugasan di Kejaksaan Negeri Bulungan, Kejaksaan Negeri Tarakan, Kejaksaan Negeri Gowa, dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Sejak 6 Mei 2026, ia dipercaya menjadi Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu berakhir ketika seseorang menerima ijazah dan memasuki dunia kerja. Ada kesempatan untuk terus belajar, memperdalam pengetahuan, dan mengembangkan kompetensi di tengah tanggung jawab profesional.
Dari sarjana hingga doktor di Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Andi Aulia Rahman menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi proses panjang yang menyertai pengabdian sepanjang karier.
TIGA JENJANG PENDIDIKAN HUKUM DI UMI, SATU KOMITMEN UNTUK TERUS BELAJAR DAN MENGABDI. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































