Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Saharuddin: Dari Keperawatan UMI, Mengembangkan Model SAHAR hingga Riset Virtual Reality
Berangkat dari pendidikan Keperawatan Universitas Muslim Indonesia, Dr. Saharuddin, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.MB. mengembangkan perjalanan dari praktik keperawatan menuju pendidikan, penelitian dan inovasi. Kini dipercaya sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi Universitas Graha Edukasi Makassar, ia juga mengembangkan Model Pengambilan Keputusan Klinis SAHAR yang bergerak dari riset doktoral menuju platform digital dan teknologi Virtual Reality untuk pendidikan keperawatan.
MAKASSAR, umi.ac.id — Dalam kondisi kegawatdaruratan, seorang perawat terkadang hanya memiliki waktu singkat untuk mengambil keputusan. Apa yang harus dilakukan lebih dahulu? Gejala mana yang paling berbahaya? Pasien mana yang harus diprioritaskan? Informasi apa yang harus segera dianalisis?
Keputusan seperti itu tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan. Ia membutuhkan pengetahuan, pengalaman, kemampuan membaca kondisi klinis, dan proses berpikir yang sistematis. Persoalan inilah yang kemudian menjadi salah satu pusat perjalanan akademik Dr. Saharuddin, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.MB. Dari pendidikan Keperawatan Universitas Muslim Indonesia, ia bergerak menjadi perawat, dosen, peneliti, inovator, hingga pimpinan perguruan tinggi. Namun ada satu benang merah yang membuat perjalanan tersebut menarik: bagaimana membantu perawat mengambil keputusan klinis dengan lebih baik.
Berawal dari Keperawatan UMI
Saharuddin merupakan alumni Program Studi Keperawatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) yang menyelesaikan pendidikan pada 2014. Keperawatan menjadi fondasi perjalanan profesionalnya. Di ruang pendidikan keperawatan, mahasiswa tidak hanya belajar tentang penyakit. Mereka belajar tentang manusia.
Mengamati perubahan kondisi pasien.
Memberikan intervensi.
Berkomunikasi.
Menentukan prioritas.
Dan mengambil keputusan dalam situasi yang terkadang berubah sangat cepat.
Di sinilah salah satu karakter utama profesi keperawatan dibentuk: caring harus berjalan bersama clinical reasoning—kepedulian harus berjalan bersama kemampuan berpikir klinis.
Dari Pelayanan menuju Pertanyaan Penelitian
Pengalaman di dunia keperawatan kemudian berkembang menjadi pertanyaan akademik. Bagaimana sebenarnya perawat mengambil keputusan? Apa yang membuat keputusan klinis menjadi tepat? Mengapa dalam situasi tertentu keputusan masih terlalu bergantung pada intuisi? Bagaimana kemampuan tersebut dapat dilatih? Pertanyaan seperti ini membawa Saharuddin semakin jauh ke dunia penelitian. Ia melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI). Fokus penelitiannya mengarah pada pengambilan keputusan klinis perawat di instalasi gawat darurat, terutama dalam penanganan pasien trauma. Di sinilah pengalaman profesi bertemu dengan metode ilmiah. Masalah yang ditemukan dalam pelayanan berubah menjadi pertanyaan penelitian.
Membaca Cara Perawat Mengambil Keputusan
Pada 2025, Saharuddin bersama tim mempublikasikan penelitian internasional mengenai kompetensi pengambilan keputusan klinis perawat gawat darurat dalam penanganan trauma di Indonesia. Penelitian tersebut tidak sekadar bertanya apakah seorang perawat mampu mengambil keputusan. Yang dipelajari adalah bagaimana proses itu terjadi. Bagaimana perawat mengenali situasi. Bagaimana informasi klinis dianalisis. Bagaimana prioritas ditentukan. Dan bagaimana keputusan akhirnya dibuat. Ini penting karena dalam kondisi gawat darurat, keputusan klinis memiliki konsekuensi langsung terhadap pelayanan pasien. Kecepatan penting dalam keadaan darurat. Tetapi keputusan yang cepat tetap membutuhkan cara berpikir yang tepat.
Lahirnya Model SAHAR
Dari perjalanan riset tersebut kemudian berkembang Model Pengambilan Keputusan Klinis SAHAR. Model ini diarahkan untuk membantu membangun proses berpikir klinis yang lebih sistematis dalam pendidikan dan praktik keperawatan. Di sinilah penelitian mulai bergerak dari tahap memahami masalah menuju tahap merancang solusi. Bukan hanya: "Bagaimana perawat mengambil keputusan?" Tetapi kemudian: "Bagaimana kemampuan mengambil keputusan itu dapat diperkuat?" Perubahan pertanyaan tersebut penting. Sebab penelitian memperoleh nilai tambah ketika temuan tidak hanya menjelaskan masalah, tetapi membuka jalan untuk memperbaikinya.
Dari Model menuju Platform Digital
Model SAHAR kemudian tidak berhenti sebagai kerangka konseptual. Pada 2025, Saharuddin bersama tim mempublikasikan pengembangan SAHAR-Web, sebuah platform digital yang divalidasi untuk membantu meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan klinis perawat gawat darurat.
Ini merupakan lompatan penting. Model berubah menjadi alat. Konsep berubah menjadi platform. Pengetahuan mulai diterjemahkan ke teknologi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Riset menjelaskan masalah. Inovasi membuat hasil riset mulai dapat digunakan.
Ketika Keperawatan Bertemu Teknologi
Perjalanan SAHAR kemudian memasuki tahap berikutnya. Virtual Reality. Pada 2026, Saharuddin menjalani riset pascadoktoral di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dengan fokus mengintegrasikan Model SAHAR dengan teknologi Virtual Reality (VR). Gagasannya sederhana tetapi penting. Mahasiswa keperawatan membutuhkan pengalaman menghadapi situasi klinis. Namun pembelajaran tidak boleh menempatkan pasien pada risiko hanya agar mahasiswa dapat berlatih. Virtual Reality membuka kemungkinan lain. Mahasiswa dapat memasuki lingkungan klinis virtual.
Mengamati kondisi pasien.
Mengenali tanda klinis.
Menganalisis situasi.
Menentukan prioritas.
Mengambil keputusan.
Kemudian memperoleh umpan balik.
Semua berlangsung dalam lingkungan simulasi.
Belajar dari Kesalahan Tanpa Membahayakan Pasien
Inilah salah satu nilai terbesar teknologi simulasi dalam pendidikan kesehatan. Mahasiswa harus belajar mengambil keputusan. Tetapi proses belajar pasti mengandung kemungkinan kesalahan. Di dunia nyata, kesalahan klinis dapat memiliki konsekuensi terhadap pasien. Di lingkungan simulasi, kesalahan dapat berubah menjadi bahan pembelajaran. Mahasiswa dapat mencoba.
Keliru.
Mengevaluasi.
Mengulang.
Kemudian memperbaiki cara berpikir.
Karena itu, SAHAR-VR memiliki gagasan yang sangat dekat dengan tujuan pendidikan kesehatan: membuat ruang belajar semakin realistis tanpa membuat pasien menjadi tempat mencoba.
Dari Inovasi menuju Keselamatan Pasien
Pada akhirnya, teknologi bukan tujuan. Virtual Reality bukan tujuan. Platform digital juga bukan tujuan. Tujuan akhirnya tetap manusia. Pasien.
Jika mahasiswa dapat berlatih mengambil keputusan klinis dengan lebih baik, kompetensinya diharapkan meningkat. Jika kemampuan klinis meningkat, pelayanan dapat menjadi lebih baik. Dan ketika pelayanan semakin baik, keselamatan pasien memperoleh perlindungan yang lebih kuat.
Mekanismenya menjadi jelas: Education → Clinical Reasoning → Better Decisions → Better Care → Patient Safety. Di sinilah teknologi kembali kepada hakikat keperawatan: merawat manusia.
Inovasi yang Berangkat dari Caring
Ada hal menarik dalam perjalanan Saharuddin. Teknologi sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang jauh dari nilai kemanusiaan. Padahal dalam kesehatan, teknologi seharusnya melakukan hal sebaliknya. Membantu tenaga kesehatan memahami pasien lebih baik.
Mengurangi risiko.
Meningkatkan ketepatan keputusan.
Dan memperkuat keselamatan.
Karena itu, perkembangan dari keperawatan menuju platform digital dan Virtual Reality tidak berarti meninggalkan akar profesinya. Justru teknologi digunakan untuk memperkuatnya. Teknologi kesehatan memperoleh makna ketika kecanggihannya membuat pelayanan semakin manusiawi.
Dari Kompetisi menuju Ruang Inovasi
Perjalanan Saharuddin juga bersentuhan dengan berbagai kompetisi. Pada 2024, ketika masih menjadi mahasiswa Program Doktor Ilmu Keperawatan FIK UI, ia meraih Juara 1 Sayembara Desain Logo Riset Inovatif Produktif (RISPRO) untuk program Indonesia–Nanyang Technological University Singapore Institute of Research for Sustainability and Innovation (INSPIRASI). Kompetisi tersebut merupakan bagian dari kolaborasi riset Indonesia–Singapura yang membawa tema keberlanjutan dan inovasi. Logo yang dikembangkannya mengintegrasikan gagasan smart city, circular economy, dan energi. Menariknya, Saharuddin saat itu juga membawa unsur caring dari profesi keperawatan ke dalam gagasan desainnya. Capaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dalam batas satu disiplin. Seorang perawat dapat masuk ke desain. Seorang akademisi kesehatan dapat masuk ke teknologi. Dan seorang peneliti dapat belajar mengkomunikasikan gagasan melalui berbagai medium.
Dari Publikasi menuju Percakapan Internasional
Perjalanan akademiknya kemudian berkembang melalui publikasi internasional. Pada 2025, riset mengenai kompetensi pengambilan keputusan klinis perawat gawat darurat dalam penanganan trauma di Indonesia dipublikasikan dalam Asian/Pacific Island Nursing Journal. Riset tersebut melibatkan kolaborator dari Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, dan International Islamic University Malaysia. Pada tahun yang sama, pengembangan SAHAR-Web juga dipublikasikan sebagai platform digital tervalidasi untuk meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan klinis perawat gawat darurat.
Artinya, persoalan yang berangkat dari konteks pelayanan keperawatan Indonesia mulai masuk ke ruang pengetahuan internasional. Menjadi peneliti global tidak selalu berarti mencari masalah di luar negeri. Kita dapat membawa persoalan Indonesia ke percakapan ilmiah dunia.
Dari Doktor menuju Pascadoktoral
Menyelesaikan pendidikan doktor bukan akhir perjalanan Saharuddin. Pada 2026, ia kembali ke FIK UI dalam kapasitas baru sebagai Postdoctoral Researcher. Fokusnya tetap memiliki hubungan kuat dengan penelitian sebelumnya. Model SAHAR yang dibangun pada jenjang doktor tidak ditinggalkan. Ia justru dikembangkan. Dari model. Menjadi SAHAR-Web. Kemudian menuju SAHAR-VR. Ini menunjukkan satu karakter penting penelitian yang berkelanjutan. Riset yang kuat tidak selalu selesai ketika disertasi selesai. Kadang disertasi justru menjadi pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih besar.
Membawa Riset ke Jejaring Internasional
Pada 2026, perjalanan pengembangan kapasitas riset Saharuddin juga bergerak menuju jejaring internasional. Ia dinyatakan lolos untuk mengikuti Program Postdoctoral di Chulalongkorn University, Thailand. Perjalanan tersebut membuka ruang baru bagi pengembangan kolaborasi, publikasi, pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring penelitian keperawatan. FIK UI juga menyebut adanya rencana kolaborasi internasional dengan Peking University dalam pengembangan dan validasi Model SAHAR. Dengan demikian, perjalanan inovasinya bergerak dari persoalan klinis di Indonesia menuju jejaring riset lintas institusi dan lintas negara.
Dari Perawat menuju Pemimpin Akademik
Di tengah perjalanan penelitian tersebut, Saharuddin juga menjalankan tanggung jawab kelembagaan. Kini ia dipercaya sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi Universitas Graha Edukasi Makassar. Posisi ini mempertemukan berbagai pengalaman yang telah dibangunnya. Keperawatan memberinya perspektif pelayanan. Pendidikan memberinya perspektif pembelajaran. Penelitian memberinya perspektif evidence. Inovasi memberinya perspektif perubahan. Dan kepemimpinan akademik memberinya ruang untuk mempertemukan semuanya pada tingkat institusi. Dampak seorang akademisi kemudian tidak lagi hanya melalui penelitian pribadinya. Ia dapat membantu membangun sistem agar dosen dan mahasiswa lain juga mampu meneliti dan berinovasi.
Dari Inovator menuju Pembangun Ekosistem
Inilah tahap berikutnya yang penting. Seorang peneliti menghasilkan penelitian. Seorang inovator menghasilkan solusi. Tetapi seorang pemimpin akademik memiliki tanggung jawab yang lebih luas: membangun lingkungan agar lebih banyak penelitian dan inovasi dapat lahir.
Budaya akademik.
Kurikulum.
Riset.
Kolaborasi.
Teknologi pembelajaran.
Pengembangan dosen.
Dan kesempatan mahasiswa untuk bereksperimen.
Jika seluruhnya dapat dipertemukan, inovasi tidak lagi bergantung kepada satu orang. Ia menjadi budaya institusi.
UMI dalam Perjalanan Saharuddin
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Saharuddin memiliki makna yang khas. Keperawatan UMI menjadi salah satu fondasi awal perjalanan profesionalnya. Dari sana, ia berkembang melalui profesi keperawatan. Pendidikan lanjutan. Penelitian. Kompetisi. Publikasi internasional. Pengembangan teknologi. Hingga riset pascadoktoral. Bidangnya berkembang. Ruang pengabdiannya meluas. Teknologinya berubah. Tetapi satu hal tetap berada di pusat perjalanan tersebut: manusia yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Inilah hubungan penting antara pendidikan dan dampak. Kampus memberikan fondasi. Pengalaman menghadirkan masalah. Penelitian membantu memahami masalah. Inovasi mencoba menyelesaikannya. Dan teknologi membantu solusi tersebut menjangkau ruang yang lebih luas.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Saharuddin memulai salah satu fondasi perjalanan profesionalnya dari Keperawatan Universitas Muslim Indonesia. Dari keperawatan menuju pendidikan. Dari pelayanan menuju penelitian. Dari penelitian menuju Model SAHAR. Dari model menuju SAHAR-Web. Dari platform digital menuju SAHAR-VR. Dan dari persoalan klinis Indonesia menuju jejaring penelitian internasional. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa masa depan keperawatan tidak hanya berada di samping tempat tidur pasien. Ia juga berada di laboratorium. Di ruang penelitian. Di data. Di simulasi. Di Virtual Reality. Dan di ruang-ruang inovasi yang membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan dengan lebih baik.
Namun sejauh apa pun teknologi berkembang, pusatnya tidak boleh berubah. Pasien. Karena masa depan keperawatan bukan tentang menggantikan manusia dengan teknologi. Masa depan keperawatan adalah menggunakan teknologi agar manusia dapat merawat manusia dengan lebih baik.
Dari caring menuju clinical reasoning. Dari riset menuju inovasi. Dari teknologi kembali kepada keselamatan pasien. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































