Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Hari Purnomo: Dari Program Profesi Insinyur UMI, Kini Memimpin Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Lebih dari tiga dekade mengabdi di dunia Teknik Industri, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. memperkuat kompetensi profesinya melalui Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia. Kini, akademisi bidang ergonomi tersebut dipercaya memimpin Universitas Islam Indonesia periode 2026–2030.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebuah universitas tidak hanya membutuhkan orang yang memahami pendidikan. Ia membutuhkan pemimpin yang mampu membaca manusia, memahami sistem, mengelola organisasi, menjaga mutu, membangun masa depan. Dan memastikan seluruh bagian institusi bergerak menuju tujuan yang sama.
Di ruang itulah perjalanan Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. kini memasuki babak baru. Setelah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri sebagai akademisi Teknik Industri, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2026–2030.
Namun jauh sebelum sampai pada posisi tersebut, Hari Purnomo telah menjalani perjalanan panjang sebagai mahasiswa, dosen, peneliti, Ketua Jurusan, perencana universitas, Dekan, hingga pemimpin perguruan tinggi. Di tengah perjalanan tersebut, Universitas Muslim Indonesia juga menjadi bagian penting dari penguatan profesinya. Pada 2020, Prof. Hari menyelesaikan Program Profesi Insinyur Angkatan VII Fakultas Teknologi Industri UMI, Makassar.
Berawal dari Teknik Industri
Hari Purnomo memulai pendidikan tingginya di Universitas Islam Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Industri pada 1990 dengan bidang keahlian inventory control atau pengendalian persediaan.
Pendidikan tersebut membentuk dasar cara berpikir sistem. Dalam Teknik Industri, persoalan jarang berdiri sendiri — manusia, mesin, material, waktu, informasi, biaya, dan proses harus dilihat sebagai bagian dari satu kesatuan. Cara berpikir seperti itulah yang kelak menjadi relevan ketika tanggung jawabnya berkembang jauh melampaui ruang kelas.
Prof. Hari kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknik Industri di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dengan fokus ergonomi. Perjalanan akademiknya dilanjutkan melalui Program Doktor Ilmu Kedokteran Universitas Udayana dengan konsentrasi fisiologi dan ergonomi.
Dari Teknik Industri, ke ergonomi, kemudian fisiologi. Ada satu benang merah di dalamnya: manusia harus tetap menjadi pusat dari sistem yang dirancang.
Lebih dari Tiga Dekade Mendidik
Sejak 1991, Hari Purnomo mengabdikan diri sebagai dosen Teknik Industri UII. Dari sinilah perjalanan akademiknya bertumbuh. Ia tidak hanya mengajar — ia membimbing, meneliti, mengembangkan keilmuan, memimpin program studi, membangun perencanaan institusi, dan kemudian mengelola fakultas.
Perjalanan selama puluhan tahun tersebut memperlihatkan satu karakter penting dunia akademik: hasil pendidikan tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Seorang dosen mungkin mengajar hari ini, tetapi manfaat dari ilmu tersebut baru terlihat bertahun-tahun kemudian ketika mahasiswa memasuki dunia profesional. Karena itu: pendidikan bekerja melalui waktu, tetapi dampaknya dapat berjalan lintas generasi.
Ketika Teknik Berbicara tentang Manusia
Bidang keahlian Prof. Hari berada pada persimpangan antara teknologi dan manusia. Ia menekuni ergonomi, Teknik Industri, kesehatan dan keselamatan kerja, serta makroergonomi. Ergonomi memiliki pertanyaan yang sederhana tetapi penting: bagaimana membuat sistem bekerja sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan manusia?
Teknologi dapat semakin canggih, mesin dapat semakin cepat, produksi dapat semakin besar. Namun jika sistem tidak mempertimbangkan manusia yang bekerja di dalamnya, maka efisiensi dapat kehilangan maknanya. Karena itu, pendekatan ergonomi tidak hanya berbicara tentang kenyamanan — ia menyentuh produktivitas, keselamatan, kesehatan, efisiensi, dan kualitas kehidupan kerja.
Di sinilah keilmuan Prof. Hari menemukan karakter yang khas. Sistem yang baik bukan hanya sistem yang bekerja. Sistem yang baik adalah sistem yang membuat manusia mampu bekerja dengan lebih baik.
Dari Dosen Menjadi Pengembang Institusi
Perjalanan Prof. Hari kemudian berkembang ke berbagai tanggung jawab kelembagaan. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Jurusan Teknik Industri UII, kemudian terlibat panjang dalam bidang perencanaan universitas. Selama sekitar satu dekade, ia juga mengemban amanah sebagai Kepala Badan Perencana UII.
Ruang tersebut memperluas perspektifnya. Jika dosen berhadapan dengan kelas dan mahasiswa, perencana universitas berhadapan dengan masa depan institusi. Pertanyaannya berubah: program apa yang harus dikembangkan? Sumber daya apa yang dibutuhkan? Ke mana universitas harus bergerak? Bagaimana mutu dijaga? Bagaimana pendidikan tetap relevan terhadap perubahan zaman?
Di sinilah kompetensi Teknik Industri kembali menemukan relevansinya. Sebab universitas juga merupakan sebuah sistem: ada manusia, proses, sumber daya, teknologi, tujuan. Dan semuanya harus bergerak secara terintegrasi.
Delapan Tahun Memimpin Fakultas Teknologi Industri
Pada 2018, Hari Purnomo dipercaya menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri UII. Ia kemudian kembali dipercaya untuk periode kedua pada 2022–2026.
Delapan tahun memimpin fakultas menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kepemimpinannya. Dalam periode tersebut, FTI UII mengalami pengembangan program akademik yang cukup luas. Dari tujuh program studi, ekosistem pendidikan FTI kemudian berkembang hingga mencapai 15 program studi pada 2026, mulai jenjang sarjana, magister, doktor, hingga Program Profesi Insinyur.
Pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa membangun fakultas tidak hanya berarti menambah program. Yang lebih penting adalah memastikan program tersebut relevan, memiliki mutu yang baik, serta menjawab kebutuhan masa depan. Prof. Hari juga menempatkan akreditasi sebagai bagian penting dari jaminan mutu pendidikan, bukan sekadar label institusi.
Ketika Pemimpin Fakultas Kembali Menjadi Mahasiswa
Di tengah perjalanan panjang sebagai akademisi dan pemimpin perguruan tinggi, terdapat satu fase yang menarik. Pada 2020, Hari Purnomo mengikuti Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia Angkatan VII.
Saat itu, ia bukan lagi akademisi muda. Ia telah menjadi guru besar, telah memimpin berbagai unit, dan sedang menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Industri UII. Namun ia kembali menjadi mahasiswa.
Bagian ini memberi pesan yang kuat: semakin tinggi pengalaman seseorang, bukan berarti semakin sedikit yang perlu dipelajari. Profesi keinsinyuran membutuhkan penguatan kompetensi, etika, tanggung jawab, dan profesionalisme. Karena itu, pendidikan profesi tetap memiliki makna bahkan bagi seorang akademisi senior. Di sinilah Program Profesi Insinyur UMI menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.
Dari Alumni PPI UMI, Kemudian Membangun PPI di Institusinya
Ada satu rangkaian yang menarik dalam perjalanan Prof. Hari. Setelah menyelesaikan Program Profesi Insinyur di UMI pada 2020, dalam perjalanan kepemimpinannya sebagai Dekan FTI UII ia kemudian ikut mengembangkan ekosistem Program Profesi Insinyur di institusinya sendiri.
FTI UII mempersiapkan Program Studi Program Profesi Insinyur dan pada 2025 memperoleh izin penyelenggaraan. Pada Juni 2026, PSPPI UII bahkan melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah profesi insinyur untuk angkatan pertamanya.
Rangkaian ini memberikan perspektif yang menarik. Ia pernah datang ke UMI untuk mengikuti pendidikan profesi insinyur. Kemudian dalam perjalanan kepemimpinannya, ia ikut membangun ekosistem pendidikan profesi insinyur di universitas yang dipimpinnya. Dari mengikuti pendidikan profesi, kemudian ikut memperluas akses pendidikan profesi bagi orang lain. Inilah bentuk dampak yang bergerak melalui institusi.
Dari Dekan Menuju Rektor
Pada 6 Maret 2026, perjalanan kepemimpinan Prof. Hari memasuki babak baru. Pengurus Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia menetapkannya sebagai Rektor UII periode 2026–2030.
Tanggung jawabnya pun berubah. Jika sebelumnya ia memimpin satu fakultas, kini ia harus melihat universitas secara keseluruhan — ilmu sosial, teknik, kedokteran, ekonomi, hukum, agama, teknologi, mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, riset, kerja sama, inovasi. Dan berbagai unsur lain harus dipertemukan dalam satu arah institusi.
Pada tingkat ini, kepemimpinan bukan lagi tentang menguasai satu bidang ilmu. Ia adalah kemampuan membuat banyak bidang ilmu dapat tumbuh bersama.
Insinyur yang Memimpin Universitas
Di sinilah latar Teknik Industri dan keinsinyuran Prof. Hari memperoleh konteks baru. Seorang insinyur terbiasa melihat sistem, mengenali persoalan, menganalisis keterhubungan, mengoptimalkan sumber daya, mengendalikan risiko, dan mencari perbaikan. Universitas juga membutuhkan cara berpikir seperti itu.
Tetapi universitas tidak sama dengan mesin atau fasilitas produksi. Ia dihuni manusia, memiliki nilai, tradisi, budaya akademik, kebebasan berpikir, dan misi pendidikan. Karena itu, kepemimpinan perguruan tinggi membutuhkan kemampuan menggabungkan dua hal: ketepatan sistem dan kepekaan terhadap manusia. Bagi seorang pakar ergonomi, pertemuan antara manusia dan sistem bukan hal asing.
Dari Human-Centered Design ke Human-Centered University
Ada satu cara menarik untuk membaca perjalanan Prof. Hari. Dalam ergonomi, sistem dirancang agar sesuai dengan manusia. Dalam kepemimpinan universitas, prinsip tersebut dapat berkembang lebih luas: bagaimana kebijakan pendidikan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh? Bagaimana teknologi membantu dosen, bukan membebani? Bagaimana tata kelola membuat pekerjaan lebih efektif? Bagaimana institusi menghasilkan lingkungan yang sehat untuk belajar, mengajar, meneliti dan berinovasi?
Dengan demikian, prinsip human-centered design dapat berkembang menjadi gagasan yang lebih besar: human-centered university — universitas yang sistemnya dibangun untuk menumbuhkan manusia. Teknologi penting, akreditasi penting, peringkat penting, infrastruktur penting. Namun semuanya harus kembali kepada manusia. Karena universitas pada akhirnya tidak hanya menghasilkan dokumen, gedung atau angka. Universitas menghasilkan manusia.
Kepemimpinan Akademik Bukan Sekadar Jabatan
Menjadi Rektor bukanlah garis akhir dari perjalanan akademik. Justru pada titik tersebut, tanggung jawabnya menjadi semakin luas. Seorang rektor tidak hanya mengelola organisasi — ia harus menjaga nilai akademik, menyiapkan generasi baru, menumbuhkan riset, mengembangkan inovasi, menjaga kualitas, membangun jejaring, dan memastikan universitas tetap relevan menghadapi perubahan.
Dalam era kecerdasan artifisial, transformasi digital, perubahan dunia kerja, dan kompetisi global, perguruan tinggi menghadapi pertanyaan yang semakin kompleks. Apa yang harus dipelajari mahasiswa? Kompetensi apa yang akan tetap relevan? Bagaimana AI digunakan secara etis? Bagaimana riset menghasilkan dampak? Dan bagaimana universitas tetap menjadi tempat manusia tumbuh, bukan sekadar tempat memperoleh gelar? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pekerjaan kepemimpinan akademik masa depan.
Membangun Institusi Berarti Membangun Banyak Manusia Sekaligus
Ada satu perbedaan antara seorang pendidik dan seorang pemimpin institusi. Seorang dosen dapat memberi dampak kepada mahasiswa yang berada di kelasnya. Seorang pemimpin fakultas dapat memperbaiki sistem yang melayani ribuan mahasiswa. Dan seorang rektor memiliki ruang untuk membangun ekosistem yang memengaruhi seluruh universitas.
Di sinilah skala dampak berubah. Bukan berarti satu peran lebih penting daripada yang lain. Tetapi sistem yang baik memungkinkan semakin banyak orang bekerja dengan lebih baik. Seorang dosen mendidik mahasiswa. Seorang pemimpin akademik membangun ekosistem agar lebih banyak dosen dapat mendidik lebih banyak mahasiswa dengan lebih baik. Itulah mekanisme dampak yang terlihat dari perjalanan Prof. Hari.
UMI Menjadi Bagian dari Perjalanan Itu
Bagi Universitas Muslim Indonesia, kisah Prof. Hari Purnomo memiliki nilai tersendiri. Ia bukan lulusan sarjana UMI. Hubungannya dengan UMI hadir melalui Program Profesi Insinyur FTI UMI. Ia mengikuti pendidikan tersebut ketika karier akademiknya telah matang. Kemudian beberapa tahun berikutnya, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia.
Hal tersebut memperlihatkan satu bentuk lain dari jaringan alumni. Alumni tidak selalu berarti seseorang yang memulai perjalanan pendidikan tingginya di sebuah universitas. Ada profesional dan akademisi yang datang pada fase berbeda dalam kehidupannya untuk memperkuat kompetensi. Kemudian kembali membawa pengalaman tersebut ke institusi dan masyarakat.
Inilah salah satu kekuatan pendidikan profesi. Ia mempertemukan kampus dengan orang-orang yang telah memiliki pengalaman nyata. Dan dari pertemuan itu, lahir jejaring keilmuan dan profesi yang dampaknya dapat bergerak jauh melampaui kampus.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. telah menjalani perjalanan lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan tinggi: dari mahasiswa Teknik Industri menjadi dosen, dari dosen menjadi Ketua Jurusan, dari akademisi menjadi perencana universitas, dari perencana menjadi Dekan. Di tengah perjalanan tersebut, ia kembali belajar melalui Program Profesi Insinyur UMI, kemudian ikut mengembangkan ekosistem pendidikan profesi insinyur di institusinya. Dan kini dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia periode 2026–2030.
Perjalanan itu memperlihatkan satu pelajaran penting: pendidikan tidak hanya membangun kompetensi seseorang. Pada titik tertentu, kompetensi itu harus digunakan untuk membangun lingkungan tempat orang lain dapat tumbuh.
Dari Teknik Industri ia belajar memahami sistem. Dari ergonomi ia belajar menempatkan manusia di dalam sistem. Dari keinsinyuran ia memperkuat profesionalisme. Dari kepemimpinan fakultas ia belajar membangun institusi. Dan sebagai Rektor, semua pengalaman tersebut kini bertemu dalam satu amanah yang lebih luas: membangun universitas yang membangun manusia.
Karena pada akhirnya, universitas yang besar bukan hanya universitas yang memiliki banyak gedung, program studi, atau prestasi. Universitas menjadi besar ketika sistemnya mampu membantu manusia tumbuh menjadi lebih berilmu, berkarakter, profesional, dan bermanfaat.
Dari ilmu menjadi kepemimpinan. Dari profesi menjadi institusi. Dari membangun sistem menjadi membangun manusia. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































