Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dwi Wahyuni, Alumni FKM UMI, Perkuat Kader Posyandu di Seram Bagian Timur melalui Pelatihan 25 Kompetensi Dasar
Berkarier di Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, Dwi Wahyuni, S.KM., M.Kes., mengembangkan pengabdian melalui promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kader Posyandu di tingkat desa.
MAKASSAR, umi.ac.id — Pelayanan kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari ruang pemeriksaan dokter atau fasilitas kesehatan yang besar. Di banyak desa, upaya menjaga kesehatan keluarga justru dimulai dari kegiatan Posyandu, ketika kader membantu mengajak warga datang, memberikan informasi, dan mendukung pelayanan bersama tenaga kesehatan. Di balik kegiatan tersebut, ada kebutuhan untuk terus meningkatkan kemampuan kader agar pelayanan dapat berlangsung dengan baik.
Inilah salah satu bidang pengabdian Dwi Wahyuni, S.KM., M.Kes., alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) Makassar yang berkarier di Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Sebagai Subkoordinator Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat sekaligus penanggung jawab program Posyandu, Dwi menjalankan tugas yang berkaitan dengan penguatan kapasitas kader dan koordinasi pelayanan kesehatan masyarakat.
Sejak 2024, ia terlibat sebagai fasilitator Posyandu bidang kesehatan serta menjadi narasumber dalam pelatihan 25 kompetensi dasar kader Posyandu yang mencakup 22 puskesmas dan kegiatan di desa-desa Kecamatan Bula. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan kesehatan masyarakat dapat diterapkan melalui pekerjaan yang dekat dengan kebutuhan warga.
Dari Masohi, Menempuh Pendidikan di FKM UMI
Dwi Wahyuni lahir di Masohi, Maluku, pada 28 April 1985. Ia menempuh pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia pada 2003–2007. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari dasar akademiknya sebelum menjalankan pengabdian dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat.
Berbeda dari pelayanan klinis yang berfokus pada pemeriksaan dan penanganan pasien secara individual, kesehatan masyarakat juga menaruh perhatian pada pencegahan penyakit, promosi kesehatan, pengelolaan program, dan pemberdayaan warga. Bidang ini membutuhkan kemampuan memahami persoalan kesehatan dalam konteks kehidupan masyarakat. Pengetahuan tentang kesehatan perlu disampaikan melalui pendekatan yang dapat dipahami dan diterapkan oleh warga.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Dwi mengembangkan pengalaman profesional di lingkungan pelayanan kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur. Ia kemudian kembali melanjutkan pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat di UMI pada periode 2024–2026. Perjalanan akademik tersebut menunjukkan kesinambungan pengembangan keilmuannya dalam bidang kesehatan masyarakat.
Mengenal Pelayanan Kesehatan dari Puskesmas
Salah satu pengalaman awal Dwi dalam lingkungan pelayanan kesehatan tercatat pada 2011–2012. Pada periode tersebut, ia menjabat Kepala Tata Usaha Puskesmas Banggoi di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur. Penugasan itu menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum mengemban tanggung jawab yang berkaitan dengan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Puskesmas memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan tingkat pertama, termasuk pelaksanaan berbagai program kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Dalam penyelenggaraan pelayanan tersebut, administrasi dan koordinasi menjadi bagian yang mendukung kelancaran kegiatan. Pengalaman Dwi di Puskesmas Banggoi menjadi salah satu tahap dalam perjalanan pengabdiannya di lingkungan kesehatan daerah. Seiring waktu, tanggung jawabnya berkembang ke bidang promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat pada tingkat kabupaten.
Menguatkan Posyandu melalui 25 Kompetensi Dasar Kader
Salah satu fokus pekerjaan Dwi adalah penguatan kapasitas kader Posyandu. Sejak 2024, ia terlibat sebagai fasilitator Posyandu bidang kesehatan di Kabupaten Seram Bagian Timur. Ia juga menjadi narasumber dalam kegiatan pelatihan 25 kompetensi dasar kader Posyandu yang mencakup 22 puskesmas serta kegiatan di desa-desa Kecamatan Bula. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari rekam jejak pengabdiannya.
Kader Posyandu merupakan unsur masyarakat yang berperan mendukung penyelenggaraan pelayanan di tingkat desa dan kelurahan. Dalam kegiatan Posyandu, kader membantu menggerakkan partisipasi masyarakat, mendukung pelaksanaan pelayanan sesuai pelatihan dan kewenangannya, serta menjalin komunikasi dengan tenaga kesehatan. Karena itu, peningkatan kemampuan kader menjadi bagian penting dalam penguatan Posyandu. Pelatihan 25 kompetensi dasar kader diarahkan untuk mendukung kemampuan kader dalam menjalankan peran sesuai pedoman yang berlaku.
Bagi Dwi, penguatan tersebut tidak cukup dilakukan hanya dengan menyampaikan materi. Diperlukan komunikasi, diskusi, dan koordinasi agar kader memahami tugasnya serta dapat bekerja bersama petugas kesehatan. Pelatihan menjadi ruang untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan, sementara pendampingan serta koordinasi diperlukan agar pembelajaran dapat diterapkan dalam kegiatan Posyandu.
Kader Posyandu Bukan Sekadar Pelaksana Kegiatan
Ada satu sudut pandang penting dalam perjalanan pengabdian Dwi Wahyuni. Kader Posyandu tidak hanya dipandang sebagai pihak yang membantu penyelenggaraan kegiatan. Mereka juga merupakan mitra tenaga kesehatan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat. Kader mengenal lingkungan tempat tinggal warga, berinteraksi dengan keluarga, dan membantu menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan kegiatan pelayanan. Kedekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan Posyandu.
Tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab profesional dan kompetensi teknis dalam penyelenggaraan pelayanan. Sementara kader berperan mendukung kegiatan berbasis masyarakat sesuai pelatihan dan kewenangannya. Keduanya membutuhkan komunikasi yang baik agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih terarah.
Dalam konteks ini, pemberdayaan bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab pelayanan kepada kader. Pemberdayaan berarti memperkuat kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi, dengan dukungan, pembinaan, dan pengawasan tenaga kesehatan sesuai ketentuan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pekerjaan Dwi dalam promosi kesehatan dan penguatan Posyandu.
Mendukung Posyandu 5 Standar Pelayanan Minimal
Selain terlibat dalam pelatihan kader, Dwi juga menjadi narasumber pada pertemuan desa percontohan Posyandu 5 Standar Pelayanan Minimal (SPM), mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan peran Posyandu dalam mendukung pelayanan dasar di tingkat masyarakat.
Dalam pendekatan Posyandu yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal, pelayanan kesehatan menjadi salah satu bidang yang terintegrasi bersama bidang pelayanan dasar lainnya. Keterlibatan Dwi sebagai narasumber bidang kesehatan memperlihatkan perannya dalam mendukung pemahaman dan koordinasi pada aspek kesehatan. Sejak 2024, ia juga tercatat sebagai anggota Tim Pembina Posyandu tingkat Kabupaten Seram Bagian Timur. Melalui berbagai kegiatan tersebut, Dwi menjalankan tanggung jawab yang berkaitan dengan pembinaan, penguatan kapasitas, dan koordinasi Posyandu.
Cakupan kegiatan yang melibatkan 22 puskesmas merupakan informasi penting dalam menggambarkan ruang lingkup pengabdiannya. Namun, jumlah kader yang telah dilatih, peningkatan kompetensi setelah pelatihan, serta perubahan capaian Posyandu aktif masih memerlukan data evaluasi tersendiri. Dengan demikian, keterlibatan Dwi dapat dijelaskan secara konkret tanpa mengasumsikan hasil yang belum terdokumentasi.
Komunikasi Menjadi Penggerak Pemberdayaan Masyarakat
Dalam pekerjaan promosi kesehatan, komunikasi memiliki kedudukan penting. Informasi kesehatan tidak cukup hanya benar secara ilmiah. Informasi juga perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami, melalui pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Kader Posyandu memiliki peran dalam membantu menjembatani proses tersebut. Mereka berinteraksi dengan warga dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mendukung penyampaian informasi serta pelaksanaan kegiatan kesehatan sesuai tugasnya.
Karena itu, hubungan antara petugas promosi kesehatan dan kader membutuhkan komunikasi yang berkelanjutan. Bagi Dwi, ruang diskusi menjadi penting agar petugas dan kader dapat saling memahami kebutuhan lapangan. Pendekatan tersebut juga relevan dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan Posyandu. Sebab, keberhasilan program kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh tersedianya kegiatan. Partisipasi warga, kualitas pelaksanaan, kesiapan petugas, dan kesinambungan pembinaan juga menjadi faktor penting.
Terlibat dalam Percepatan Eliminasi Malaria
Pengabdian Dwi di Kabupaten Seram Bagian Timur tidak terbatas pada program Posyandu. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Tim Promosi Kesehatan dalam Tim Percepatan Eliminasi Malaria Kabupaten Seram Bagian Timur. Penugasan tersebut memperluas tanggung jawabnya dalam kegiatan komunikasi dan promosi kesehatan yang berkaitan dengan pengendalian penyakit.
Eliminasi malaria membutuhkan upaya terpadu, termasuk surveilans, penemuan dan penanganan kasus sesuai standar, pengendalian faktor risiko, serta keterlibatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, promosi kesehatan berperan mendukung pemahaman masyarakat mengenai pencegahan, kewaspadaan terhadap gejala, dan pentingnya mengakses pelayanan kesehatan. Keterlibatan Dwi pada tim tersebut menjadi bagian dari pengabdiannya dalam program kesehatan masyarakat di tingkat kabupaten.
Ia juga tercatat sebagai anggota tim penilai Ombudsman pada Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur, sebagaimana tercantum dalam profil yang tersedia. Rangkaian tanggung jawab tersebut memperlihatkan pengalaman Dwi dalam berbagai kegiatan kelembagaan yang membutuhkan koordinasi dan komunikasi.
Pengalaman Organisasi Sejak Masa Mahasiswa
Di luar kegiatan kedinasan, Dwi juga memiliki pengalaman berorganisasi. Semasa menempuh pendidikan di UMI, ia terlibat dalam organisasi kedaerahan di Makassar dan kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajarannya selama berada di lingkungan kampus. Melalui organisasi, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, bekerja sama, dan mengembangkan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan Dwi ketika memasuki dunia profesional.
Pada 2023–2024, ia tercatat menjabat sebagai Sekretaris I Ikatan Wanita Sulawesi Selatan Kabupaten Seram Bagian Timur. Selain itu, Dwi juga dipercaya menjadi pembawa acara dalam berbagai kegiatan formal di lingkungan Dinas Kesehatan. Beragam pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan komunikasi dan organisasi terus menjadi bagian dari aktivitas profesional maupun kemasyarakatannya.
Alumni FKM UMI dan Pengabdian Kesehatan dari Desa
Perjalanan Dwi Wahyuni menjadi salah satu gambaran tentang luasnya ruang pengabdian lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI. Lulusan kesehatan masyarakat tidak hanya bekerja melalui perencanaan program atau pengelolaan administrasi kesehatan. Mereka juga memiliki peran dalam promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan pelayanan berbasis komunitas. Dalam perjalanan Dwi, bidang tersebut diwujudkan melalui penguatan kader Posyandu, pembinaan kegiatan kesehatan masyarakat, dan dukungan terhadap program percepatan eliminasi malaria.
Kisah ini relevan dengan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah serta Kampus Perjuangan dan Pengabdian. Melalui Catur Dharma UMI, pengembangan ilmu pengetahuan dihubungkan dengan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen Ke-UMI-an dan pendidikan karakter. Dalam bidang kesehatan masyarakat, nilai pengabdian dapat diwujudkan melalui pekerjaan yang mendekatkan pengetahuan dan pelayanan kepada kebutuhan warga. Perjalanan Dwi memperlihatkan salah satu bentuk penerapan pendidikan kesehatan masyarakat tersebut.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dwi Wahyuni, S.KM., M.Kes., menempuh pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia pada 2003–2007 dan melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama pada periode 2024–2026. Perjalanan profesionalnya mencakup pengalaman sebagai Kepala Tata Usaha Puskesmas Banggoi pada 2011–2012 hingga menjalankan tanggung jawab dalam promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur.
Sejak 2024, ia terlibat dalam penguatan Posyandu melalui fasilitasi, pelatihan 25 kompetensi dasar kader, serta kegiatan pembinaan yang mencakup 22 puskesmas dan desa-desa di Kecamatan Bula. Ia juga menjadi bagian dari Tim Pembina Posyandu tingkat kabupaten serta menjalankan tanggung jawab dalam promosi kesehatan pada Tim Percepatan Eliminasi Malaria.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian kesehatan masyarakat dapat berlangsung melalui pekerjaan yang dekat dengan kehidupan warga. Ada petugas kesehatan yang memberikan pelayanan, kader yang membantu menjangkau masyarakat, serta kegiatan pembinaan yang mendukung kemampuan mereka menjalankan tugas. Melalui peran tersebut, Dwi Wahyuni membawa bekal pendidikan FKM UMI ke dalam upaya penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Timur.
DARI FKM UMI, MEMPERKUAT KADER POSYANDU DAN PELAYANAN KESEHATAN DI DESA. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































