Dari Kampus, Menjadi Dampak - H. Aminuddin, S.Ag., M.Ag.: Alumni Dakwah UMI, dari Ketua Senat Mahasiswa Kini Kabag TU Kanwil Kemenag Sulsel
MAKASSAR, umi.ac.id — Kepemimpinan tidak selalu dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan. Kadang ia tumbuh jauh sebelumnya, ketika masih menjadi mahasiswa: belajar mengorganisasi orang, menyampaikan gagasan, menyelesaikan perbedaan, dan bertanggung jawab atas sebuah amanah.
Jejak itu terlihat dalam perjalanan H. Aminuddin, S.Ag., M.Ag., alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang kini dipercaya sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Jauh sebelum memasuki birokrasi Kementerian Agama, Aminuddin telah mengenal ruang kepemimpinan di kampus. Semasa mahasiswa, ia dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UMI. Ia juga pernah menjadi asisten dosen dan menjalani pengalaman akademik sebagai asisten di LSI. Dari sinilah satu garis perjalanan dapat ditarik: kampus memberinya ilmu, organisasi melatih kepemimpinan, lingkungan akademik mengasah kemampuan berbagi pengetahuan, dan birokrasi kemudian menjadi ruang pengabdian.
Dua Jenjang Pendidikan di UMI
Aminuddin merupakan alumnus bidang Dakwah, Fakultas Ushuluddin UMI. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1995, kemudian melanjutkan pendidikan magister dan menyelesaikannya pada 1997. Dua jenjang pendidikan tersebut menjadi bagian penting dari fondasi akademiknya sebelum memasuki perjalanan panjang sebagai aparatur negara. Namun, pengalaman Aminuddin di UMI tidak hanya dibangun melalui perkuliahan. Kampus juga memberinya ruang untuk belajar melalui organisasi dan aktivitas akademik.
Belajar Memimpin Sebelum Memiliki Jabatan
Semasa mahasiswa, Aminuddin dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UMI. Pengalaman tersebut menjadi sekolah kepemimpinan di luar ruang kuliah. Memimpin organisasi mahasiswa menuntut seseorang belajar menyampaikan gagasan, mendengar pendapat berbeda, membangun komunikasi, mengelola kegiatan, bekerja bersama orang lain, serta mempertanggungjawabkan keputusan. Kemampuan seperti itu tidak selalu diperoleh melalui buku.
Ia tumbuh melalui pengalaman.
Sebelum memimpin dalam birokrasi, ia telah belajar memimpin di kampus. Sebelum mengelola tanggung jawab pemerintahan, ia telah belajar mengelola amanah organisasi mahasiswa. Di sinilah aktivitas kemahasiswaan menemukan relevansinya dengan kehidupan setelah lulus. Organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan. Jika dijalani dengan benar, organisasi dapat menjadi laboratorium kepemimpinan.
Dari Mahasiswa Menjadi Asisten Dosen
Selain aktif berorganisasi, Aminuddin juga memperoleh pengalaman dalam lingkungan akademik UMI. Ia pernah dipercaya menjadi asisten dosen di fakultas serta menjalani pengalaman sebagai asisten di LSI. Pengalaman tersebut memberinya perspektif berbeda terhadap proses pendidikan. Ia tidak hanya berada pada posisi menerima pengetahuan sebagai mahasiswa, tetapi mulai mengenal proses membantu kegiatan akademik dan berinteraksi lebih dekat dengan lingkungan pengajaran.
Masa kuliah Aminuddin akhirnya mempertemukan tiga pengalaman sekaligus: belajar, memimpin, dan berbagi pengetahuan.
Ketiganya kelak menjadi modal yang relevan ketika memasuki lingkungan birokrasi yang membutuhkan kemampuan komunikasi, koordinasi, administrasi, pelayanan, dan kepemimpinan.
Dari UMI Menuju Kementerian Agama
Setelah menyelesaikan pendidikan, perjalanan Aminuddin berlanjut melalui pengabdian sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Karier tersebut berkembang hingga kini ia dipercaya sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Posisi Kepala Bagian Tata Usaha memiliki peran penting dalam mendukung jalannya organisasi.
Di balik pelayanan publik sebuah institusi terdapat sistem administrasi, perencanaan, koordinasi, sumber daya, dan tata kelola yang harus bekerja secara tertib dan akuntabel. Karena itu, perjalanan Aminuddin memperlihatkan perkembangan ruang tanggung jawab yang menarik. Dahulu ia mengorganisasi mahasiswa. Kini, pengalaman kepemimpinan itu berkembang dalam lingkungan birokrasi pemerintahan. Ruangnya berubah, tanggung jawabnya membesar, tetapi kemampuan dasarnya tetap sama: mengelola amanah dan bekerja bersama manusia.
Pengabdian Tidak Berhenti di Kantor
Aktivitas Aminuddin tidak hanya berlangsung dalam kapasitasnya sebagai aparatur Kementerian Agama. Ia juga terlibat dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian dapat berjalan melalui beberapa ruang sekaligus. Birokrasi menjadi ruang pelayanan negara. Organisasi kemasyarakatan menjadi ruang interaksi sosial. Sementara latar belakang pendidikan dakwah memberikan perspektif nilai dalam menjalankan keduanya.
Di titik tersebut, makna dakwah menjadi lebih luas. Dakwah tidak selalu berlangsung dari mimbar. Ia dapat hadir melalui cara seseorang bekerja, memberikan pelayanan, menjaga amanah, membangun komunikasi, dan memperlakukan masyarakat.
Ketika integritas menjadi perilaku, pelayanan yang baik pun dapat menjadi bahasa dakwah.
Dari Aktivis Kampus Menjadi Pemimpin Birokrasi
Perjalanan H. Aminuddin dapat dibaca melalui satu lintasan yang saling terhubung: Dakwah UMI → Aktivis Mahasiswa → Ketua Senat Mahasiswa → Asisten Dosen → ASN Kementerian Agama → Kabag TU Kanwil Kemenag Sulsel → Pengabdian Masyarakat.
Namun, nilai perjalanan tersebut bukan sekadar perubahan dari satu posisi menuju posisi berikutnya. Yang menarik justru bagaimana pengalaman yang diperoleh di kampus berkembang menjadi kapasitas yang digunakan dalam kehidupan profesional. Organisasi mengajarkan kepemimpinan. Lingkungan akademik mengajarkan tanggung jawab intelektual. Dunia birokrasi kemudian menguji keduanya melalui pelayanan dan tata kelola pemerintahan. Bagi mahasiswa UMI hari ini, perjalanan Aminuddin membawa pesan sederhana: jangan memandang pengalaman selama kuliah sebagai sesuatu yang terpisah dari masa depan.
Ruang kuliah penting. Tetapi organisasi, diskusi, kepanitiaan, aktivitas akademik, dan berbagai tanggung jawab yang dijalani selama menjadi mahasiswa juga dapat menjadi tempat membangun kemampuan yang suatu hari dibutuhkan ketika tanggung jawab jauh lebih besar datang.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Bagi UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, perjalanan H. Aminuddin menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang apa yang diketahui seorang mahasiswa ketika lulus. Pendidikan juga berbicara tentang manusia seperti apa yang dibentuk selama berada di kampus. Ilmu memberikan pengetahuan. Organisasi mengasah kepemimpinan. Pengalaman akademik membangun kemampuan berbagi. Sementara dunia kerja menguji integritas dan tanggung jawab.
“Kampus memberi kita ilmu, tetapi pengalaman selama menjadi mahasiswa mengajarkan bagaimana ilmu, kepemimpinan, dan tanggung jawab digunakan ketika amanah yang lebih besar datang.”
H. Aminuddin memulai perjalanan itu dari UMI. Dari ruang kuliah, ia mempelajari dakwah. Dari Senat Mahasiswa, ia belajar memimpin. Dari pengalaman sebagai asisten dosen, ia mengenal tanggung jawab akademik. Dan melalui Kementerian Agama, perjalanan tersebut berkembang menjadi pengabdian dalam birokrasi dan pelayanan masyarakat.
Dari aktivis kampus, menuju amanah birokrasi. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































