Dari Kampus, Menjadi Dampak - H. Ikbal Ismail, S.Ag., M.A., Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan: Dari Fakultas Agama Islam UMI, Mengabdi Lebih Tiga Dekade untuk Umat
Makassar, umi.ac.id — Jabatan adalah amanah yang dapat berganti, tetapi pengabdian meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang. Prinsip itu tergambar dalam perjalanan H. Ikbal Ismail, S.Ag., M.A., alumnus Program Studi Ahwalusyakhsiyah, Fakultas Syariah, Universitas Muslim Indonesia (UMI), yang menempuh pendidikan sejak 1992 dan menyelesaikan studi pada 1997.
Perjalanan panjangnya bergerak dari aktivitas sosial, pengelolaan zakat, pelayanan haji, hingga kepemimpinan birokrasi keagamaan. Sejak 2025, H. Ikbal Ismail mendapat amanah sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan.
UMI dan Awal Pembentukan Jiwa Pengabdian
Semasa menjadi mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Ikbal tidak hanya menjalani aktivitas akademik. Ia menempa kemampuan kepemimpinan melalui berbagai organisasi, termasuk Senat Mahasiswa dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ruang organisasi menjadi tempat belajar tentang manusia, kepemimpinan, tanggung jawab, serta bagaimana ilmu yang diperoleh di kampus harus berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat.
Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, orientasi sosial tersebut semakin terlihat. Ia turut mendirikan Yayasan Insan Amaliyah, sebuah lembaga yang berfokus pada pendampingan anak jalanan dan masyarakat kurang mampu. Dari sinilah satu pola pengabdian mulai terbentuk: ilmu agama tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi harus hadir menjadi pelayanan.
Dari Pengabdian Sosial Menuju Pelayanan Umat
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke pengelolaan zakat. Pada periode 2001–2005, H. Ikbal Ismail dipercaya menjabat sebagai Manager BAZNAS Provinsi Sulawesi Selatan. Pengalaman melayani masyarakat kemudian berkembang memasuki bidang yang kelak menjadi bagian penting perjalanan profesionalnya: pelayanan haji. Pada 2005, ia mulai bertugas sebagai staf di bidang haji. Selama sekitar satu dekade hingga 2015, ia membangun pengalaman dari tingkat pelayanan operasional.
Perjalanan kariernya kemudian bergerak secara bertahap. Pada 2015–2019, ia dipercaya sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha Asrama Haji. Pada 2019–2022, amanahnya meningkat menjadi Kepala Asrama Haji Embarkasi Makassar. Selanjutnya, pada 2022–2025, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Haji dan Umrah. Perjalanan panjang dari staf hingga pimpinan memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir secara instan. Ada jabatan yang diperoleh karena posisi. Ada pula kepercayaan yang dibangun melalui puluhan tahun pelayanan.
Memimpin Layanan Haji dan Umrah Sulawesi Selatan
Setelah melewati berbagai jenjang pelayanan, sejak 2025 H. Ikbal Ismail mendapat amanah sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan. Amanah tersebut menempatkannya pada tanggung jawab yang semakin besar dalam pelayanan kepada jemaah haji dan umrah di Sulawesi Selatan. Baginya, pelayanan haji bukan semata persoalan administrasi dan perjalanan. Di balik setiap dokumen, jadwal keberangkatan, pemondokan, embarkasi, dan proses pelayanan terdapat manusia yang membawa harapan besar untuk menyempurnakan salah satu rukun Islam. Karena itu, pelayanan haji pada hakikatnya adalah "birokrasi yang melayani ibadah." Di titik inilah pengalaman akademik, sosial, organisasi, dan birokrasi H. Ikbal Ismail bertemu dalam satu garis pengabdian.
Dari Fakultas Syariah UMI Menuju Pelayanan Umat
Perjalanan H. Ikbal Ismail memiliki keterhubungan yang kuat dengan pendidikan yang ditempuhnya. Dari Program Studi Ahwalusyakhsiyah Fakultas Syariah UMI, ia memperoleh fondasi keilmuan Islam. Dari organisasi mahasiswa, ia belajar kepemimpinan. Dari kegiatan sosial, ia belajar memahami persoalan masyarakat. Dari pengelolaan zakat, ia belajar pelayanan umat. Dan dari perjalanan panjang dalam pelayanan haji, ia memahami bahwa amanah harus dibangun melalui konsistensi.Apa yang dimulai di ruang kuliah kemudian menemukan bentuk pengabdiannya di tengah masyarakat. Inilah makna "Dari Kampus Menjadi Dampak."
Pengabdian yang Tumbuh Bersama Amanah
Kisah H. Ikbal Ismail menjadi bagian dari perjalanan alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang membawa nilai keilmuan dan keislaman ke berbagai ruang pengabdian. Perjalanannya bukan cerita tentang satu jabatan. Ini adalah perjalanan panjang dari mahasiswa Fakultas Syariah UMI, aktivis organisasi, penggerak sosial, pengelola zakat, staf pelayanan haji, pengelola Asrama Haji Embarkasi Makassar, Kepala Bidang Haji dan Umrah, hingga dipercaya memimpin layanan haji dan umrah di Sulawesi Selatan.
Perjalanan tersebut sejalan dengan semangat Catur Dharma Universitas Muslim Indonesia, bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan harus menemukan muaranya dalam pengabdian dan kemaslahatan. Sebab keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat ketika seorang alumni memperoleh kedudukan tinggi. Keberhasilan itu menjadi lebih bermakna ketika semakin tinggi amanah yang diterima, semakin luas pula masyarakat yang dilayani.
Dari Fakultas Syariah UMI, H. Ikbal Ismail membawa ilmu menuju pelayanan umat. Dari seorang mahasiswa, ia tumbuh menjadi pelayan jemaah. Dan dari perjalanan panjang itulah, kampus menemukan dampaknya.
Dari Kampus Menjadi Dampak. Ilmu melahirkan amanah. Amanah melahirkan pelayanan. Dan pelayanan yang konsisten meninggalkan jejak pengabdian. (Bersambung)























































































































