Dari Kampus, Menjadi Dampak - H. Syahrir, Alumni Manajemen UMI, Tiga Periode di DPRD Sulsel: Dari Aktivis Kampus hingga Mengemban Amanah Rakyat
Tiga periode menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan, memimpin organisasi petani cengkeh, dan menjadi Ketua Ikatan Alumni FEB UMI, H. Syahrir, S.E., M.M., memperlihatkan perjalanan panjang yang mempertemukan pendidikan, kepemimpinan, dan pengabdian publik.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tiga puluh tahun setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Muslim Indonesia (UMI), H. Syahrir, S.E., M.M., kembali ke almamaternya untuk menuntaskan pendidikan Magister Manajemen pada 2026.
Keputusan tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan seorang alumni yang telah menjalani tiga periode sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan. Syahrir merupakan anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2024–2029 yang bertugas di Komisi E, bidang kesejahteraan rakyat. Sebelumnya, ia menjalani dua periode keanggotaan pada 2014–2019 dan 2019–2024 di Komisi B, bidang perekonomian. Di luar lembaga legislatif, Syahrir juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) Sulawesi Selatan dan Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMI. Perjalanan tersebut memperlihatkan hubungan antara pengalaman organisasi sejak mahasiswa, pendidikan manajemen, dan tanggung jawab yang dijalaninya dalam kehidupan publik.
Dari Aktivis Kampus UMI, Belajar Kepemimpinan dan Organisasi
H. Syahrir lahir di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 31 Desember 1972. Ia memulai pendidikan tinggi pada Program Studi Manajemen Universitas Muslim Indonesia pada 1991 dan menyelesaikannya pada 1996 dengan gelar Sarjana Ekonomi (S.E.). Selama menjadi mahasiswa, Syahrir tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia tercatat menjadi anggota Senat Mahasiswa pada 1991–1996 dan mengikuti Resimen Mahasiswa (Menwa) pada 1993–1996. Kedua organisasi tersebut memberikan ruang pembelajaran yang berbeda.
Melalui Senat Mahasiswa, ia memperoleh pengalaman dalam dinamika organisasi, komunikasi, dan keterlibatan dalam kegiatan kemahasiswaan. Sementara melalui Menwa, ia mengenal lingkungan organisasi yang menekankan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari bekal yang menyertai perjalanan Syahrir setelah meninggalkan bangku kuliah. Kampus, dalam perjalanan ini, tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan manajemen, tetapi juga ruang awal untuk mengenal kepemimpinan dan tanggung jawab kolektif.
Tiga Periode di DPRD Sulawesi Selatan
Salah satu capaian penting dalam perjalanan Syahrir adalah keterpilihannya sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan selama tiga periode berturut-turut. Ia pertama kali menjalankan amanah legislatif pada periode 2014–2019. Keanggotaannya berlanjut pada periode 2019–2024, kemudian kembali dipercaya untuk periode 2024–2029.
Pada dua periode pertama, Syahrir bertugas di Komisi B DPRD Sulawesi Selatan yang membidangi perekonomian.
Bidang tugas tersebut berkaitan dengan berbagai urusan ekonomi daerah yang menjadi bagian dari fungsi pengawasan, penganggaran, dan pembentukan peraturan daerah oleh DPRD sesuai kewenangannya.
Pengalaman selama dua periode di Komisi B memberikan ruang bagi Syahrir untuk terlibat dalam pembahasan persoalan ekonomi melalui lembaga perwakilan rakyat.
Memasuki periode ketiganya, Syahrir bertugas di Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat. Perubahan bidang tugas tersebut memperluas cakupan tanggung jawab legislatifnya dari urusan perekonomian menuju berbagai persoalan kesejahteraan masyarakat. Keanggotaan selama tiga periode menunjukkan kesinambungan perjalanan politik Syahrir dalam lembaga legislatif daerah.
Namun, ukuran pengabdian seorang wakil rakyat tidak hanya terletak pada lamanya masa jabatan. Tanggung jawab legislatif juga menuntut keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat, pemahaman terhadap persoalan daerah, dan pelaksanaan kewenangan secara bertanggung jawab. Bagi alumni UMI, perjalanan Syahrir menjadi salah satu gambaran tentang ruang pengabdian lulusan Manajemen dalam lembaga pemerintahan dan politik daerah.
Mengemban Peran dalam Organisasi Petani Cengkeh
Selain berkiprah di DPRD Sulawesi Selatan, Syahrir memiliki keterlibatan dalam organisasi yang berkaitan dengan sektor pertanian. Sejak 2016, ia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) Sulawesi Selatan. Peran tersebut menempatkannya dalam lingkungan organisasi yang memiliki perhatian terhadap kepentingan petani cengkeh. Komoditas cengkeh memiliki hubungan dengan kehidupan ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, terutama bagi keluarga yang menggantungkan penghasilan pada kegiatan perkebunan dan perdagangan hasil pertanian.
Dalam konteks tersebut, organisasi petani memiliki ruang untuk membangun komunikasi, memperkuat jejaring, dan menyampaikan persoalan yang dihadapi anggotanya. Keterlibatan Syahrir dalam APCI menjadi bagian dari perjalanan organisasinya di luar lembaga legislatif. Pengalaman tersebut juga memiliki keterkaitan dengan dua periode penugasannya di Komisi B DPRD Sulawesi Selatan, yang membidangi perekonomian. Keduanya mempertemukan Syahrir dengan isu ekonomi daerah, meskipun masing-masing memiliki fungsi dan tanggung jawab kelembagaan yang berbeda.
Menjaga Hubungan dengan Bone dan Generasi Mahasiswa
Hubungan Syahrir dengan dunia organisasi tidak berhenti setelah ia menyelesaikan pendidikan sarjana. Sejak 1996, ia tercatat sebagai Pembina Keluarga Pelajar Mahasiswa Indonesia Bone (KEPMI Bone), peran yang menurut profilnya masih dijalankan hingga kini. Keterlibatan tersebut menunjukkan hubungan panjang dengan komunitas pelajar dan mahasiswa dari daerah asalnya.
Bagi mahasiswa perantau, organisasi kedaerahan dapat menjadi ruang membangun kebersamaan, memperluas jejaring, serta mengembangkan kemampuan berorganisasi di luar kegiatan perkuliahan. Perjalanan Syahrir dari aktivis kampus menuju pembina organisasi mahasiswa memperlihatkan kesinambungan keterlibatannya dalam lingkungan kemahasiswaan. Di samping itu, ia juga tercatat menjabat sebagai Wakil Ketua II DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan. Berbagai posisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman kepemimpinan dan organisasi yang menyertai pengabdiannya di DPRD.
Kembali ke UMI Setelah Tiga Dekade, Meraih Magister Manajemen
Di tengah kesibukan menjalankan tanggung jawab politik dan organisasi, Syahrir kembali melanjutkan pendidikan di Universitas Muslim Indonesia. Setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 1996, ia menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di UMI pada 2026. Rentang tiga dekade antara penyelesaian pendidikan sarjana dan magister menjadi salah satu bagian paling menarik dari perjalanan akademiknya.
Keputusan untuk kembali menempuh pendidikan memperlihatkan bahwa proses belajar tidak dibatasi usia, jabatan, maupun lamanya pengalaman profesional. Pengalaman di lembaga legislatif dan organisasi dapat memberikan pemahaman praktis mengenai persoalan kepemimpinan serta tata kelola. Sementara pendidikan magister menyediakan ruang untuk memperdalam pendekatan akademik terhadap manajemen dan pengambilan keputusan.
Keduanya dapat saling melengkapi dalam pengembangan kemampuan seorang pemimpin. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Syahrir juga memiliki rencana melanjutkan studi doktoral bidang Manajemen di UMI. Rencana tersebut menjadi kelanjutan dari hubungan akademiknya dengan universitas tempat ia pertama kali menempuh pendidikan tinggi.
Memimpin Ikatan Alumni FEB UMI
Hubungan Syahrir dengan Universitas Muslim Indonesia juga terjalin melalui organisasi alumni. Sejak 2023, ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI. Posisi tersebut mempertemukan pengalaman kepemimpinan publiknya dengan tanggung jawab membangun hubungan antarlulusan dan almamater.
Jejaring alumni memiliki peran penting dalam kehidupan perguruan tinggi. Alumni dapat menjadi penghubung antara kampus dan dunia profesional, memberikan informasi mengenai kebutuhan dunia kerja, serta membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Bagi FEB UMI, keberagaman profesi alumninya merupakan potensi untuk memperkuat hubungan antara pendidikan manajemen dan kebutuhan nyata berbagai sektor. Perjalanan Syahrir memperlihatkan salah satu jalur karier lulusan Manajemen yang berkembang ke bidang legislatif, organisasi kemasyarakatan, dan kepemimpinan politik.
Ilmu Manajemen dan Tanggung Jawab Kepemimpinan Publik
Kisah H. Syahrir memiliki relevansi dengan pertanyaan yang kerap muncul di kalangan mahasiswa: sejauh mana ilmu manajemen dapat digunakan di luar dunia perusahaan? Manajemen tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan bisnis. Prinsip perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengelolaan sumber daya, dan evaluasi juga memiliki relevansi dalam organisasi kemasyarakatan, lembaga publik, serta berbagai bentuk kepemimpinan.
Perjalanan Syahrir menunjukkan salah satu kemungkinan penerapan latar belakang pendidikan Manajemen melalui pengalaman organisasi dan pengabdian legislatif.
Namun, keberhasilan menjalankan tanggung jawab publik tetap memerlukan lebih dari kemampuan manajerial.
Integritas, kepatuhan terhadap aturan, kemampuan mendengarkan masyarakat, dan kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan umum. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan komitmen Universitas Muslim Indonesia sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah serta Kampus Perjuangan dan Pengabdian.
Melalui Catur Dharma UMI, pendidikan diarahkan tidak hanya pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, tanggung jawab sosial, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks tersebut, perjalanan alumni yang berkiprah di lembaga publik menjadi bagian dari keberagaman jalur pengabdian lulusan UMI.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan H. Syahrir, S.E., M.M., menghubungkan beberapa fase kehidupan yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Dimulai sebagai mahasiswa Manajemen UMI pada 1991, ia aktif dalam Senat Mahasiswa dan Resimen Mahasiswa, kemudian terlibat dalam organisasi kemasyarakatan serta kepemimpinan politik. Sejak 2014, Syahrir menjalankan amanah sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dan kini memasuki periode ketiganya.
Di luar tugas legislatif, ia juga menjabat sebagai Ketua APCI Sulawesi Selatan, Ketua Ikatan Alumni FEB UMI, dan menjalankan berbagai tanggung jawab organisasi lainnya.
Pada 2026, ia kembali menorehkan pencapaian akademik dengan menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di UMI. Kisah tersebut menghadirkan pesan penting bagi mahasiswa bahwa pengalaman berorganisasi, pendidikan, dan pengabdian publik dapat berkembang dalam satu perjalanan yang saling berkaitan. Jabatan dapat berubah, bidang tanggung jawab dapat berganti, tetapi kebutuhan untuk terus belajar dan menjaga amanah tetap menjadi bagian penting dari kepemimpinan.
Dari ruang organisasi mahasiswa hingga lembaga legislatif daerah, perjalanan Syahrir menjadi salah satu kisah alumni UMI yang mengembangkan peran dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Dari APCI dan KEPMI masih ada organisasi-organisasi lain yang menempa syahrir hingga bisa menjadi anggota DPRD hingga sekarang. Dari aktivis manajemen UMI, tiga periode mengemban amanah di DPRD Sulawesi Selatan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































