Dari Kampus, Menjadi Dampak - Hasir Tjenne, Alumni Teknik Sipil UMI: Tiga Dekade Mengabdi, dari Infrastruktur Sulsel hingga Program Sanitasi Nasional
Dr. Ir. H. Hasir Tjenne, S.T., M.Si., IPM., membangun perjalanan profesional di bidang pekerjaan umum, persampahan, drainase, air bersih, dan penyehatan lingkungan permukiman. Pengabdiannya membawanya dari Sulawesi Selatan hingga pengelolaan program sanitasi berskala nasional.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ketika saluran drainase berfungsi baik, sampah dikelola dengan benar, dan fasilitas sanitasi tersedia, masyarakat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik infrastruktur dasar tersebut terdapat pekerjaan panjang, mulai dari perencanaan teknis, pelaksanaan proyek, hingga pengelolaan program pemerintah.
Bidang inilah yang menjadi bagian utama perjalanan Dr. Ir. H. Hasir Tjenne, S.T., M.Si., IPM., alumni Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Sejak memulai pengabdian sebagai calon pegawai negeri sipil pada 1991, Hasir mengembangkan karier di lingkungan pekerjaan umum, khususnya dalam pengembangan prasarana dan penyehatan lingkungan permukiman. Perjalanannya mencakup penugasan di Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, hingga pengelolaan program sanitasi pada lingkup nasional.
Dari pekerjaan teknis hingga memimpin satuan kerja, Hasir memperlihatkan bagaimana pendidikan teknik sipil dapat berkembang menjadi pengabdian dalam penyediaan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Dari Teknik Sipil UMI, Membangun Kompetensi Lintas Bidang
Hasir Tjenne lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 11 Desember 1961. Ia menempuh pendidikan Diploma III Teknik Sipil di Universitas Muslim Indonesia, kemudian melanjutkan pendidikan sarjana pada bidang yang sama dan menyelesaikannya pada 1994. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari dasar akademiknya dalam menjalankan pekerjaan di bidang infrastruktur.
Hasir kemudian melanjutkan pendidikan Magister Perencanaan dan Pengembangan Wilayah di Universitas Hasanuddin dan menyelesaikannya pada 2002. Pengembangan keilmuannya berlanjut hingga jenjang doktoral. Pada 2017, ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Pertanian dari Universitas Brawijaya. Pada 2022, Hasir kembali menempuh pendidikan profesi insinyur di Universitas Muslim Indonesia.
Rangkaian pendidikan tersebut memperlihatkan upayanya mengembangkan kompetensi dari teknik sipil menuju perencanaan wilayah dan bidang keilmuan yang berkaitan dengan pembangunan serta pengelolaan lingkungan. Bagi seorang profesional yang bekerja dalam pembangunan infrastruktur, pemahaman lintas bidang menjadi penting karena pekerjaan teknik tidak berdiri sendiri. Perencanaan prasarana juga perlu memperhatikan kondisi wilayah, kebutuhan masyarakat, serta aspek lingkungan yang berkaitan dengan keberlanjutan pembangunan.
Memulai Pengabdian dari Infrastruktur Permukiman
Perjalanan profesional Hasir dimulai pada 1991 ketika ia diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil di lingkungan pekerjaan umum. Pada masa awal pengabdiannya, ia menjalankan tugas sebagai asisten perencanaan dan asisten pelaksanaan proyek Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) Sulawesi Selatan. Pengalaman tersebut membawanya berhadapan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan prasarana dasar permukiman.
Pada 2000, Hasir dipercaya menjabat Kepala Seksi Perencanaan Teknis pada Subdinas Air Bersih. Ia juga memperoleh tanggung jawab sebagai pimpinan proyek dalam pekerjaan desain, supervisi, serta pengembangan prasarana dan sarana permukiman.
Rangkaian penugasan ini menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya. Dari pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan teknis, tanggung jawabnya berkembang menuju pengelolaan kegiatan dan program pembangunan.
Mengelola Persampahan, Drainase, dan Penyehatan Lingkungan
Salah satu benang merah perjalanan karier Hasir adalah keterlibatannya dalam pengembangan infrastruktur dasar dan penyehatan lingkungan. Pada 2005, ia dipercaya menjadi Kepala Satuan Kerja Persampahan dan Drainase. Tiga tahun kemudian, pada 2008, ia menjabat Kepala Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Sulawesi Selatan.
Penugasan tersebut berkaitan dengan bidang yang memiliki hubungan erat dengan kualitas lingkungan permukiman. Persampahan dan drainase, misalnya, merupakan dua persoalan yang sering dijumpai masyarakat di kawasan perkotaan maupun permukiman yang berkembang. Pengelolaan sampah membutuhkan sistem yang memperhatikan pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan penanganan akhir sesuai kebutuhan serta ketentuan yang berlaku. Sementara drainase berperan dalam mengalirkan air permukaan dan membantu mengurangi risiko genangan apabila direncanakan, dibangun, serta dipelihara dengan baik.
Kedua bidang tersebut memerlukan perencanaan teknis dan koordinasi pelaksanaan yang melibatkan berbagai pihak. Melalui sejumlah penugasan tersebut, Hasir mengembangkan pengalaman dalam pengelolaan program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan infrastruktur permukiman.
Dari Sulawesi Selatan hingga Program Sanitasi Nasional
Perjalanan profesional Hasir kemudian berkembang melampaui Sulawesi Selatan. Berdasarkan riwayat pekerjaan yang tercantum dalam CV tahun 2021, ia pernah menjabat Kepala Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Jawa Tengah pada 2017. Pada 2018, ia mendapat tanggung jawab sebagai Kepala Satuan Kerja Pengembangan PLP Strategis. Selanjutnya, pada 2019, ia dipercaya menjadi Kepala Central Project Management Unit (CPMU) Hibah Sanitasi.
Rangkaian jabatan tersebut memperlihatkan perluasan tanggung jawabnya dari pengelolaan kegiatan di daerah menuju program yang memiliki cakupan lebih luas. Dalam bidang sanitasi, pengelolaan program tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Diperlukan pula perencanaan, pengelolaan anggaran, koordinasi kelembagaan, pengawasan pelaksanaan, serta evaluasi sesuai ketentuan program. Pengalaman Hasir dalam berbagai satuan kerja menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya di bidang tersebut.
Dari penyehatan lingkungan permukiman di Sulawesi Selatan hingga pengelolaan Hibah Sanitasi, karier Hasir memiliki satu benang merah: pengembangan prasarana dasar yang dibutuhkan masyarakat.
Pengabdian Panjang dan Penghargaan Negara
Perjalanan Hasir sebagai aparatur pemerintah juga ditandai dengan penerimaan tanda kehormatan negara. Dalam riwayat hidupnya, ia tercatat menerima Satyalancana Karya Satya pada 2003 dan Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2016. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari rekam jejak pengabdiannya sebagai aparatur negara.
Selama perjalanan kariernya, Hasir menjalankan berbagai penugasan, mulai dari pekerjaan teknis, perencanaan, pelaksanaan proyek, hingga pengelolaan satuan kerja dan program sanitasi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan karier seorang insinyur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan merancang infrastruktur. Kemampuan mengelola kegiatan, memahami kebutuhan wilayah, serta menjalankan tanggung jawab organisasi juga menjadi bagian penting dari pekerjaan profesional.
Meski demikian, dampak setiap program yang pernah ditanganinya tetap perlu dinilai melalui data capaian, hasil pembangunan, dan manfaat yang terdokumentasi.
Infrastruktur yang Dekat dengan Kehidupan Masyarakat
Ada pelajaran penting dari perjalanan Hasir Tjenne. Pembangunan infrastruktur tidak selalu harus berupa proyek besar yang mudah terlihat. Sistem drainase, pengelolaan sampah, air bersih, dan sanitasi justru merupakan bagian dari infrastruktur dasar yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketika dikelola dengan baik, prasarana tersebut dapat mendukung kesehatan lingkungan, kenyamanan permukiman, dan aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, ketika pengelolaannya menghadapi masalah, masyarakat dapat merasakan dampaknya melalui genangan, gangguan sanitasi, dan persoalan kebersihan lingkungan. Karena itu, pembangunan infrastruktur dasar membutuhkan tenaga profesional yang memahami aspek teknik sekaligus pengelolaan program.
Perjalanan Hasir memperlihatkan salah satu jalur pengabdian tersebut. Ia mengembangkan pengetahuan Teknik Sipil melalui pendidikan lanjutan, kemudian menjalankan berbagai tanggung jawab dalam pembangunan dan penyehatan lingkungan permukiman.
Alumni Teknik Sipil UMI dan Pengabdian bagi Infrastruktur Dasar
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Hasir Tjenne menjadi salah satu contoh pengabdian alumni dalam bidang pembangunan infrastruktur dasar. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Sipil di UMI pada 1994, kemudian mengembangkan pendidikan hingga jenjang magister dan doktor. Pada 2022, ia kembali ke UMI untuk mengikuti pendidikan profesi insinyur. Perjalanan tersebut menunjukkan kesinambungan hubungan akademiknya dengan kampus.
Pengabdian profesional Hasir juga relevan dengan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta Kampus Bereputasi dan Berdampak. Dalam kerangka Catur Dharma UMI, pengembangan pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen Ke-UMI-an dan pendidikan karakter menjadi landasan dalam membangun kompetensi dan tanggung jawab profesional.
Bagi mahasiswa Teknik Sipil UMI, perjalanan Hasir memberikan gambaran bahwa ilmu rekayasa memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Seorang insinyur dapat mengembangkan karier melalui pekerjaan teknis, perencanaan, pengawasan, hingga pengelolaan program pembangunan. Yang terpenting, setiap tanggung jawab tersebut perlu dijalankan dengan kompetensi, integritas, dan orientasi pada manfaat publik.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Ir. H. Hasir Tjenne, S.T., M.Si., IPM., memulai perjalanan profesionalnya sebagai aparatur pemerintah pada 1991. Berbekal pendidikan Teknik Sipil UMI, ia menjalankan berbagai penugasan dalam pengembangan prasarana dan penyehatan lingkungan permukiman. Pengalamannya mencakup perencanaan teknis, pengembangan air bersih, persampahan, drainase, hingga pengelolaan program sanitasi.
Dari Sulawesi Selatan, perjalanan profesionalnya berkembang melalui penugasan di Jawa Tengah dan pengelolaan program Hibah Sanitasi. Kisah Hasir memperlihatkan bahwa pendidikan teknik sipil dapat menjadi fondasi pengabdian panjang dalam bidang yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, ukuran penting pembangunan infrastruktur bukan hanya apa yang berhasil dibangun, tetapi juga bagaimana prasarana tersebut dapat mendukung kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
DARI TEKNIK SIPIL UMI, MENGABDI BAGI INFRASTRUKTUR DASAR DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































